The Danger of Labeling

The Danger Of Labeling

Psikologi – NNKK | LABELLING. “Aku tu intorvert.” “Aku tu ga bisa bahasa Inggris.” Itulah yang saya maksud labelling dalam tulisan ini. Pemberian label atas kepribadian maupun kemampuan kita. Sumber pelabelan ini macam-macam. Bisa dari hasil tes kepribadian maupun kecerdasan, komentar orang lain, maupun pendapat kita sendiri.
Pelabelan ini sering tidak akurat. Seperti diakui para psikolog bahwa masih ada banyak ketidakakuratan dalam metode tes kepribadian maupun kecerdasan. Komentar orang lain pun tak selalu tepat. Pula dengan pendapat kita tentang kita sendiri, selalu perlu direvisi.

Para psikolog pun telah memberikan disclaimer bahwa hasil tes-tes tersebut hanya sebagai acuan. Bukan penilaian final yang harus diimani sampai mati. Jadi, jangan percaya begitu saja dengan hasil tes maupun pendapat. Kalaupun percaya, sesuai para ahli, jadikanlah hanya sebagai buku acuan bukan kitab suci. Namun, ketidakakuratan bukan yang saya ngalor ngiduli kali ini.

Bahaya labeling yang saya maksud kali ini erat kaitannya dengan perkembangan kepribadian dan kompetensi. Supaya mudah, mari kita ambil contoh kasus. “Let’s make an example to make it simple.”

The Troubles:
Dalam contoh di atas, labeling sifat adalah “pendiam”. Trouble muncul bila kita menjadikan label pendiam tersebut sebagai alasan atas malasnya kita mengembangkan diri. Misal, dengan kependiaman tadi, kita tidak bisa sekedar tersenyum pada orang lain. Padahal, bukankah kita diminta tidak meremehkan sekecil apapun kebaikan, termasuk senyum.
Jelaslah, bahwa sikap No Smile itu perlu kita buang jauh-jauh sejauh jauhnya jauh. Namun, kita sudah terlanjur me(di)labeli sebagai sosok pendiam. Maka, ketidakmampuan kita menebar senyum tadi kita anggap wajar saja. Tanpa ada usaha tuk memperbaikinya.

Trouble kedua ialah bila kita menjadi over maupun low estimate. Contoh low estimate, kita dicap pendiam kemudian kita berpikir,”Gue emang pendiem kok, jadi ya gue ga bakalan bisa beramah tamah. Ga bakalan bisa pidato dengan baik,.” Dengan nada memelas, kepala tertunduk lesu, bahu melemah, MINDER. Kita menjadi sosok “Quiter”
Contoh over estimate, kita dibilang jago Fisika. Kita kemudian besar kepala, merasa PUAS dengan skill yang ada. Kita menjadi “Camper”.

Atau, kita TERLENA, lupa mengasah diri dan tanpa kita sadari, kita telah ketinggalan dengan kawan-kawan yang (tadinya) kita remehkan. Kita tidak hanya turun derajat menjadi camper, tetapi LOOSER!
Kita kemudian menjadi terkungkung dalam label-label tersebut. Inilah yang berbahaya. Pandangan kita menjadi sempit. Kita tidak mampu melihat potensi lain dalam diri. Atau, kita merasa cukup puas dengan kebaikan yang sudah ada.

The Troubleshoots:
Ingat kawan, kepribadian dan kemampuan kita jauh lebih hebat dari sekedar label-label tersebut. Bila kita dilabeli bodoh, percayalah, kita bisa jadi pintar. Bila kita dilabeli pandai, jangan puas karena kita masih bisa lebih pandai. Kita mungkin dilabeli introvert, tapi bukan tidak mungkin kita mengubahnya.

Ibarat celana dengan tempelan harga, kita si celana dan label si tempelan harga. Tempelan harga memang menempel di celana, tapi celana itu bukanlah tempelan harga dan sebaliknya. Pelabelan memang akan melekat pada diri kita. Tapi kita BUKAN LABEL tersebut! Jadi, jangan ambil pusing dengan anggapan dan penilaian yang belum tentu akurat.
Harga celana bisa makin mahal, makin berharga tapi bisa juga anjlok! . Begitu juga dengan kepribadian dan kemampuan kita. Jadi, jangan minder, jangan malas, tetap waspada!

Lebih rincinya sebagai berikut:
Bila minder, sering saya berself-talk ria,”Kamu ciptaanNya yang tersempurna! Jangan remehkan dirimu sendiri, karena itu sama saja dengan meremehkan Penciptamu!”
Minder ini terjadi karena kita menganggap ada kesenjangan Value atau nilai antara kita dengan target/lawan kita. Kita menganggap target/lawan tadi bervalue lebih tinggi. Maka, paling tidak cara mengatasinya ada dua. Pertama, dengan MERENDAHKAN value target. Misal, “Ah, Cuma bahasa Inggris kok. Keciiiill!” Cara kedua, dengan MENAIKKAN value kita. Contohnya self talk saya di atas. Menyadarkan kembali akan titipan Allah berupa keunggulan-keunggulan saya sebagai wakil-Nya.

Bila takut, saya akan NEKAT. Karena memang rasa takut itu hanya ada di pikiran. Seorang Fisikawan pernah berkata kurang lebih begini, “Bila IMAJINASI/HALUSINASI bertarung dengan KEMAUAN, IMAJINASI/HALUSINASIlah yang akan MENANG.” Contoh, kita berKEMAUAN menyeberang jalan. Tapi kita telah berHALUSINASI yang tidak-tidak, tertabrak misalnya. Kita tidak akan jadi menyeberang. Khayalan sering lebih powerful. Oleh karena itu, kita hapus saja hayalan negatif itu sehingga yang ada tinggal kemauan positif. Atau yang kedua, ganti warna sang khayalan negatif menjadi positif.

Bila troublenya adalah rasa puas, terlena, maka kita bisa melakukan dua hal pula. Pertama, melupakan prestasi yang telah lalu. Anggap kita belum berprestasi apapun. Istilahnya, kembali ke titik nol. Bahkan, ada perusahaan jasa periklanan yang sering menerima award. Tapi trofi-trofi tadi tidak dipajang. Melainkan digudangkan!

Pembuangan prestasi ini seperti kita membuang isi perut tuk kemudian diisi lagi (dengan yang lebih bergizi). Ada kutipan menarik dari Steve Jobs tentang ini. Yang juga saya kutip di facebook. “Stay foolish, stay hungry.”
Cara kedua adalah dengan “melihat ke atas”. Lihatlah yang lebih berprestasi. Masukilah lingkungan yang lebih prestatif. Sehingga kita kembali menjadi pemula. Kita kembali ke titik nol.
Sekali lagi, silahkan melabeli diri. Namun, ingatlah bahwa Anda BUKAN label itu! Anda LEBIH berharga dari sekedar LABEL!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s