Bersama Bapak

Aku menunggu waktu. Kala ayahku berkata,”Nak, aku bangga padamu.”. Kalimat yang akan membuatku tenang meninggalkan semua kefanaan ini. Entah kapan itu kan terjadi. Esok? Sepuluh tahun lagi? Atau di detik-detik terakhir kehidupan salah satu di antara kami? Ah, kenapa aku lancang menanya “kapan”. Harusnya aku bertanya dulu,”Akankah itu terjadi?”. Mungkin beliau telah mengatakannya. Bapak telah menyatakan kebanggaannya. Tapi aku tak mendengarkan kata-katanya. Seperti biasa.

Aku masih ingat. Kala bapak mengajakku ke desa-desa. Itu salah satu tugas luar biasanya. Menyapa warga. Hingga ke mana saja bapak pergi, selalu saja ada yang menyapa. Ada saja yang kenal, ada saja yang mengajaknya ngobrol. Lalu bapak membalasnya dengan candaan yang mencairkan. Seperti biasa. Satu hal yang kusukai dari bapak, ia adalah pribadi yang disukai. Bapak yang kukenal, ialah bapak yang berkenal dengan siapa saja. Agamawankah, birokratkah, komuniskah, wong cilikkah. Lalu aku yang masih kecil itu, terdiam saja di pojok situ. Lihatlah, malu-malu. Bertahun-tahun diam-diam mengamati dan mempelajari.

Begitu bapak berpanggung, kau mungkin kan bernasib sama seperti yang lainnya. Matamu kan terikat pada matanya. Seperti mata-mata yang lainnya. Telinga-telinga ingin mendekat pada mulutnya. Jiwa-jiwa menyatu. Kau pun kan begitu. Memang, pasti ada orang yang lebih terkenal, disukai, dan pandai bicara dari bapak. Tapi kawan, yang kubutuhkan adalah figur ayah. Bukan figur publik, maupun pembicara hebat. Yang kubutuhkan, sosok ayah yang hebat. Yang mampu menghebatkan diriku.

Semua kehebatan yang dititipkan Allah pada bapak itu, menjadikan orang-orang kampung menghormati beliau. Yah, kadang aku tak suka dengan kondisi ini. Membuatku hidup di bawah bayang-bayangnya. Orang-orang menghargaiku hanya karena aku “putrane Pak Arif”. Tapi kuyakin, seiring berjalannya waktu, bayang-bayang itu kan memudar dan aku kan memancarkan sinarku sendiri.

Aku masih mengingat secuil kenangan lainnya. Kala bapak membelikanku seekor monyet. Yang setahuku kala itu, susah didapat. Monyet itu pulalah binatang yang kutangisi kepergiannya. Tentu saja karena kehilangan binatang peliharaan sudah menyedihkan. Apalagi bila mengingat perjuangan bapak mendapatkannya yang berbanding terbalik dengan kepedulianku tuk mengurusnya.

Bila kau tinggal di rumahku. Kau kan tahu salah satu kebiasaan bapak. Pamit padaku ke manapun akan pergi. Tak peduli itu urusan penting atau bukan. Meski aku sedang tertidur, bapak kan membangunkan kecuali aku memang tampak kelelahan. Aku pun tak keberatan dibangunkan tuk hal ini. Tuk urusan lain, aku bisa marah-marah tanpa sadar bila dibangunkan dengan paksa.

Kuberi tahu keganjilan. Pernah bapak pergi beberapa hari. Bondan kecil tak dipamiti. Aku pun sakit dan baru sembuh setelah diajak bepergian oleh bapak. Sejak saat itu, bapak selalu pamit supaya aku tidak sakit. Hingga saat aku sudah kuliah sekarang.

Oya, jangan heran bila kau melihatku memainkan figure Hercules meski aku sudah mahasiswa. Itu adalah mainan action figure pertama yang dibelikan bapak. Aku akan merawatnya sampai tua nanti. Meski kuakui, karena kelalaianku, si Hercules itu sudah kehilangan kedua kakinya. Sekedar kau tahu, mainan itu secara tak sengaja kuberi nama, Ulas.

Kucukupkan sampai di sini tuk menjadi melankoli. Masih banyak hal yang bisa kukenang dari bapak. Tapi, “Masa lalu telah mati anakku. Semanis apapun kenangan itu, tugas kita ialah membangun masa depan yang lebih manis. Hidup pemuda ada pada apa yang ia lakukan, bukan yang ia kenang. Masa lalu telah mati, anakku!”

Ya, Bapak tak henti-hentinya ia mendukungku. Memberiku semua kesempatan kecuali kesempatan tuk membalas budinya. “Bapak tak memerlukannya.”katanya. Tapi tentu, akan terus kubuat kesempatan itu.
Bapakku tak bisa bahasa Inggris, maka izinkan aku memuji dalam bahasa yang tak diketahuinya. Supaya ia tak bisa menolak. Inilah pujianku.

”He is a REAL MAN.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s