Time-based VS Value-based Celebration

Terinspirasi dari cara penentuan tarif ngenet 🙂

Perayaan Time-based VS Volume-based

Ada dua dasar yang dijadikan manusia dalam menilai suatu kejadian patut dirayakan atau tidak. Dimensi waktu atau momen(tum) dan dimensi nilai (value) atau muatan (volume) peristiwa itu. Perayaan tuk menyambut ramadhan, hari raya, ulang tahun, reuni merupakan contoh perayaan time-based. Perayaan keberhasilan mendapat tender, menjuarai lomba, pernikahan, contoh perayaan volume-based.

Mari kita ngalor-ngiduli perayaan milad alias ulang tahun. Khususnya ulang tahun perseorangan. Bukan negara maupun organisasi. Perayaan ini menjadi aneh bila kita melihat alasannya. “Kenapa kamu merayakan ulang tahun?”. Dijawab karena ia entah sudah tujuh belas tahun, tiga puluh, lima puluh, dan sejenisnya. “Lho, memangnya kenapa kalau sudah 17 (atau 25, 50, dsb) tahun?”. Bingunglah. “iya, ya. Kenapa?”. Maka, dicarilah alasan-alasan, “Ya kan berarti harus makin dewasa, bla bla bla.” Ini bukti bahwa perayaan time-based sering menjadi banal. Sekedar tradisi turun-temurun yang makin turun value-nya.

Hanya yang melegakan, perayaan terhadap momen, waktu, masa ini berarti pengakuan kita terhadap pentingnya waktu. Tapi tidakkah kita dengar waktu berbicara pada kita. “Bukan aku yang penting, tapi apa yang kamu lakukan padaku.”

Ibarat sedang outbound, bila kita gembira hanya karena time-based ini, kita seperti gembira hanya karena sudah sampai di pos kedua, ketiga, dan seterusnya. Kita menjadi abai. Apakah kita melewati pos-pos itu dengan sportifitas? Apakah kita telah meninggalkan jejak-jejak prestasi atau menjalani rute dengan biasa saja?

Jadi, bagi saya, aneh sekali kita merayakan ulang tahun hanya karena telah berusia sekian tahun. Apalagi bila hanya karena sebab ikut-ikutan. Tapi wajar bila kita merayakannya karena memahami value dan volume ulang tahun itu.

Dan saat merayakannya, kita bebas memilih. Kita bisa merayakannya dengan kebersahajaan. Dengan cara yang tidak lazim disebut perayaan. Dengan nuansa keprihatinan yang justru membahagiakan diri. Kita bertafakkur. Mengevaluasi diri yang menimbulkan suasana khauf lalu tak lupa memunculkan harapan (raja’) untuk masa depan. Perayaan yang seperti ini biasanya dirayakan dalam sunyi sendiri. Tidak mengundang tamu tetapi justru bertamu pada Tuhan. Singkatnya, kita penuhi hak kita sebagai makhluk individu.

Kedua, kita bisa merayakannya dengan keramaian. Kita mengundang keluarga, teman, maupun kaum dhuafa. Kita menyediakan diri tuk dievaluasi. Kita menaburkan harap agar titipan keberhasilan kita bisa memberi inspirasi.  Kita membahagiakan orang lain. Kita memenuhi hak kita sebagai makhluk sosial.

Semuanya kembali pada prinsip yang disampaikan Sang Nabi. Bahwa diri memiliki hak, orang lain juga memunyai hak yang harus kita tunaikan. Dan bila kita telah menunaikan hak-hak itu, giliran Allah yang memenuhi hak kita tuk diridhoiNya. Lalu, dalam setiap ngalor-ngidulan, kita tak lagi hanya menjumpai wasilahNya berupa “kiblat”. Dalam ngalor-ngidulan, kita kan ketemu pada yang memiliki kiblat itu.

 

Iklan

2 pemikiran pada “Time-based VS Value-based Celebration

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s