peLEBARan Jalan

PeLEBARAN Jalan

Sebagaimana yang bisa sedulur buktikan sendiri, bahwa jalan nasional Keprekan-Mertoyudan dalam proses pelebaran. Konon, pelebaran jalan ini berdasar kebutuhan pengguna jalan. Jadi, aspirasi ini sudah bukan lagi level keinginan (WANTS) melainkan kebutuhan. Benarkah? Benarkah yang dibutuhkan adalah jalan yang lebar? Lebih dalam lagi, benarkah masyarakat itu BUTUH? Mungkin benar masyarakat itu butuh (NEED), tapi bagaimana kalau need-nya adalah need for speed alias KEBUTuhan tuk KEBUT-KEBUTan? Kebutuhan primerkah?

Karena, siapa tahu kalau kita renungi lebih jernih, sebenarnya yang dibutuhkan bukanlah jalan yang lebar. Tapi bagaimana agar kita bisa cepat sampai tujuan. Jalan lebar hanya alternatif solusi. Masih ada alternatif lain misalnya penyediaan Mass Rapid Transportation (MRT). Kendaraan umum yang cepat, aman, dan nyaman serta tentu saja, (diharapkan) murah. Bandingkan dengan negara maju. Negara yang memproduksi kendaraan-kendaraan kita. Mereka justru meminimalisasi penggunaan kendaraan dengan alasan kesehatan pribadi dan lingkungan.

Tapi semaju-majunya gigi mereka. Eh, negara mereka, ya tetep ndak boleh menganggap rendah kita. Ndak boleh mereka menyalahkan kita. Menganggap kita yang menghangatkan bumi karena polusi kendaraan-kendaraan bermotor kita. “Lha motornya juga dari sampeyan.” jawab saya kalau mereka ngeyel menyalahkan kita. Mungkin masih dijawab lagi (pake bahasa negara maju tentunya) “Tapi kan lu orang juga yang pengen beli motor kita!” .

“E e e e… lha kalo sampeyan ngaku pintar, ya harusnya yang pintar yang memahami kita yang sampeyan anggap bodoh dan miskin ini. Pahami kalo kita itu masih anak kecil yang pengen gaya-gayaan. Ciptakan juga deh isu-isu lingkungan. Otak kami masih cukup lapar tuk menelan isu-isu itu. Ciptakan juga motor yang ramah lingkungan. Pasang pula harga mahal. Kami punya duit kok. Asal ciptakan kesan pula bahwa dengan memiliki motor gaweyan sampeyan itu, kita akan dianggap sukses. Pahami kalau yang kami beli itu bukan motor sampeyan kok. Tapi gengsi. Bukan prestasi tapi prestise. Sepakat?”. Hmm.. kalo dipikir-pikir lagi saya ini nyindir yang mana ta?

Sudahi dulu padudon negara maju dan berkembang itu. Entar yang melebar bukan cuma jalan, tapi juga tulisan saya. Tapi ga papa lah. Toh lagi LEBARan. Dan sebagai orang yang berlebaran, hati kita mesti lebih lebar dari si jalan raya. Dengan kelebaran hati ini, kita ga akan emosional dengan kemacetan, keugal-ugalan, pungutan liar, dan paku-paku liar. Damai-damai saja. “laa khaufun wa laa yakhzanun”. Jadi inget kata temen SMP saya dulu, “Tenang saja Bondan, orang sabar pantatnya lebar”. Saya jadi bingung itu mau ngayem-ayemi apa mau ikut-ikutan ngejek ngetes kesabaran? Lagipula, kalo pantatnya lebar, bukannya perlu jatah jalan yang lebih lebar lagi? Haha.

Nah, dengan kelebaran hati kita lebih mampu memaklumi. Lebih mampu memaafkan. Seperti yang diajarkan lebaran. Hanya, sebagai orang Islam, memaafkan pun harus produktif. Kita ga wajar kalo memberi maaf yang justru membuat orang mewajarkan kesalahan. Itu berarti maaf yang salah kaprah.

Justru dengan maaf yang produktif ini, kita akan makin dikit dimintai dan memintai maaf. Orang lain  dan kita tidak mengulangi kesalahan yang sama karena kita makin peka terhadap kesalahan. Dengan peka ini kesalahan kita makin dikit. Dengan dikitnya kesalahan ini, kita ga perlu dikit-dikit minta maaf, dikit-dikit minta maaf. Minta maaf kok cuma dikit?

Sebenarnya masih ada keunggulan lain dengan lebih lebarnya hati dibanding jalan ini. Tapi maaf saya belum mengamalkan jadi ya ga jadi saya sampaikan. Mending minta maaf sekarang daripada nanti di akhirat saya sudah ga bisa minta maaf termasuk pada Allah yang Maha Pemaaf sekalipun.

Mohon maaf lisan dan tulisan, lahir dan batin. Oya, saya dan wakil negara maju tadi sudah saling bermaafan kok. 🙂

*Terketuk saat melihat orang-orang tua yang kesulitan menyeberang. Lalu berkhayal, gimana ya kalau ada kecelakaan di hari lebaran ini. Apakah langsung terucap kata-kata,”Minal aidzin wal faidzin ya Bu, maaf sudah saya tabrak.” Gimana jawaban Anda bila jadi yang ditabrak?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s