BerBuka Bersama Setan

Buka Bersama

Di bulan ramadhan ini banyak sekali undangan tuk buka puasa bersama. Ada sinisme dalam diri kala diundang buka bersama. Karena, seringkali acara buka bersama ini justru kontraproduktif dengan apa yang seharusnya dilakukan kala puasa, mengurusi ruhani. Buka bersama tipe ini, mungkin tepat –meski menyakitkan—ditambahi dengan “setan” sehingga menjadi “buka bersama setan”. Acara seperti ini tidak tepat bila disebut silaturahmi. Silaturahmi berarti menyambung rahmat. Bagaimana mungkin tali rahmat Ilahi akan tersambung bila isi kegiatannya justru hura-hura?

Dalam acara yang alasannya “demi kebersamaan” ini, saya sering mengalami bahwa yang terjadi tidak terhenti pada sekedar membatalkan ibadah puasa bersama-sama. Tapi lebih menjurus pada bersama-sama membatalkan pahala puasa. Ngobrol yang saking ngalor-ngidulnya hingga sampai berghibah, canda berlebih, dan semacamnya. Itu baru dari nafsu lisan. Belum yang lain. Saya sering khawatir bila menghadirinya, saya akan terjatuh atau menjatuhkan diri kala garis finis sudah di depan mata. Di menit-menit terakhir perjuangan melawan nafsu seharian, saya takut tiba-tiba menjadi penghianat.

Belum lagi unsur biaya. Bea berbagai acara buka bersama ini cukup tinggi. Akan jauh lebih baik bila kita gunakan tuk sedekah, cari ilmu, modal usaha, dsb. Sudah hilangkah empati kita? Kita bisa enak-enak makan yang enak-enak di saat yang sama banyak yang mendapat sesuap nasi pun kesusahan. Kita bisa ngobrol, bercanda, di saat yang sama ada gelandangan yang tak menemukan seorang pun lawan bicara(!?) Ironis. Kita merayakan kemuliaan tapi dengan menghilangkan hal-hal yang menyebabkan ia mulia. Ramadhan menjadi mulia karena kesederhanaan. Perayaan kita yang tidak tepat, justru memegahkannya.

Tapi memang, ramai sering membuat lalai. Hingga banyak spiritualis yang menarik diri dari keramaian. Memilih spiritual dengan meninggalkan sosial. Sah-sah saja sebagaimana dulu Sang Nabi beruzlah. Tapi ingat sejarah beliau selanjutnya, uzlah hanya sebagai awal momentum pencerahan. Bukan akhir. Beliau, dengan pencerahanNya itu, kembali meramai. Indahnya kehidupan spiritual memang tidak ditentukan oleh sikap introvert maupun ekstrovert kita. Tapi lebih pada dengan siapa kita bersama (atau menyendiri) dan apa yang kita lakukan dalam kebersamaan (atau kesendirian) itu.

Anyway, Dari kasus di atas kita bisa analisa bahwa paling tidak ada dua faktor yang perlu dipertimbangkan demi kesuksesan ruhaniah buka bersama –integral dengan kesuksesan puasa tentunya—. Sama dengan di paragraf sebelumnya, yakni faktor dengan SIAPA  kita bersama dan APA yang kita lakukan saat bersama-sama mereka. Dua faktor ini sama pentingnya. Kalau kita hanya puas dengan faktor “SIAPA”, kita bisa saja berbuka bersama para “orang baik” tapi APA yang kita lakukan bisa justru membawa pengaruh buruk pada saudara-saudara kita yang baik itu. Sebaliknya, kita bisa saja bersama pencuri, tapi “apa” sikap kita, bisa mengubah pencuri menjadi pengaman. Kita bisa mengubah nasib buka bersama lewat kuasa pilihan yang telah dititipkan Tuhan.

Nah, salah satu kasus yang saya alami, dari faktor “siapa”, saya bisa memilih berbuka bersama para blogger Magelang. Untuk APA? Membahas program yang bermanfaat. Tapi kenapa saya lebih memilih menghadiri buber SMA yang notabene lebih tepat digolongkan “buka bersama (maaf)setan”? Ada faktor “apa” yang menghilangkan sinisme itu. Saya kembali disadarkan bahwa betapa naif melihat manusia dengan kacamata hitam dan putih (konotatif tentunya). Saya justru berubah menjadi apresiatif terhadap kawan-kawan buber. Saya menjadi sangat salut kepada mereka semua. Kok bisa? Baca dan renungkan saja J

Sebelumnya, supaya ga menimbulkan kontroversi Kenapa saya tega mengkategorikan buber SMA itu buber setan, saya sebutkan alasannya. Alasan pertama sederhana, sekedar pengategorian tuk mempermudah penyebutan. Bahkan, kata setan di sini pun tuk sekedar aksentuasi kesan negatif saja. Karena setan juga ga jelek-jelek amat. Alasan kedua, itu kondisi saat saya melihat dengan prasangka negatif. Eh, lebih tepatnya pesimisme. Saya lupa tuk menumbuhkan harapan. Padahal, harapan positif bisa membaikkan hal yang memang faktanya negatif. Apalagi pada hal yang baru kita sangka negatif.

Kembali lagi, saya mempertimbangkan faktor APA. Sehingga saya datang ke sana bukan asal-asalan. Ada misi jangka panjang dan Insya Allah ada tanda berhasil. Pertimbangan rinci kenapa saya memilih “buber setan” bisa saya jawab di kesempatan lain. Secara umum, masih berkaitan dengan “taking, sharing, and giving.” Taking, dalam hal ini berarti menyolehkan pribadi. Menjadi murid. Kalau hanya taking, berarti kita baru seolah soleh. Karena ternyata kita egois. Padahal, tingkat kesolehan seseorang berbanding lurus dengan  leburnya ego orang itu.

Giving, membaguskan orang lain. Menjadi guru. Hanya giving juga merugi. Kita perlu terus menerus meningkatkan kualitas “taking” agar kita juga bisa giving yang berkualitas. Kasihan penerima “giving” kita kalo yang gift kita ga bermutu. Bukankah guru pun harus terus belajar? Dan siapa berhenti belajar, berhenti menjadi guru? Jelas, semua musti proporsional. Sehingga terciptalah generasi Sharing. Generasi Rabbani. Belajar dan mengajarkan.

Blogging ini, juga merupakan langkah sederhana menjadi generasi tersebut. Mudahkah tercapai? Itu tergantung pada siapa dan apa yang kita andalkan. Betapa!

Iklan

Satu pemikiran pada “BerBuka Bersama Setan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s