Ndouble

Memperbanyak Pengalaman??

Saat tulisan ini ditulis, saya sedang sibuk mempersiapkan acara Reuni Akbar SMA 3 Magelang. Di tengah-tengah kesibukan itu ada kawan yang mengirim SMS. Isinya penawaran tuk jadi panitia buka bersama Mahasiswa UGM dari Magelang.

Bukan pertama kali saya mengalami hal seperti ini. Yakni tiba-tiba ada tawaran untuk ndouble-ndhobel alias merangkap tugas. Bukan merangkap jabatan lho karena pejabat belum tentu petugas dikarenakan pejabat tadi tidak melaksanakan tugas-tugasnya.  Walau sebenarnya, kalau kita sudah bersedia menerima jabatan, harus siap pula bertugas dengan baik. Tidak asal-asalan. Tidak hanya mengambil keuntungan pribadi lewat numpang prestise dari berbagai jabatan itu. Jadi, tawaran seperti itu sebenarnya tawaran amanah yang tidak bisa diremehkan. Bentuk peremehan kita salah satunya ialah melaksanakannya dengan asal jadi, asal terlaksana.

Dorongan menambah pengalaman sebenarnya bagus tapi memerlukan ekspresi yang tepat pula. Mari kita ngalor ngiduli pelan-pelan.

Sebab-sebab pengen ndouble kegiatan

  1. Memenuhi Penasaran
  2. Tampak Keren
  3. Tantangan/ Mencari hal yang baru

Sebab pertama biasanya dialami temen yang belum sering ngurusi kegiatan atau dapat proyek. Masih penasaran gimana rasanya ngurusi acara atau proyek atau amanah lain. Sikap yang diambil ya tentu memenuhi rasa penasaran itu dengan aktif di berbagai kegiatan atau organisasi. Tentu saja keinginan tuk terus berkegiatan ini perlu kita pupuk meski kita sudah bukan newbie lagi. Hanya, seiring bertambahnya pengamalan dan pengalaman kita sudah ga begitu penasaran lagi. Kita kemudian bisa lebih selektif. Kita mulai bisa menentukan tujuan. Nah, dengan tujuan jelas ini kita bisa memprioritaskan berbagai kegiatan. Kita bisa menolak atau menerima berdasar prioritas tadi. Tidak sekedar sibuk.

Alasan kedua berkaitan dengan citra. Sepintas memang keren. Mengurusi banyak acara dalam satu waktu. Membuat orang berdecak kagum. “Saya heran, kok bisa ya ngurusi banyak acara sekaligus tapi tetep jalan.” Begitu pujian yang diharapkan. Eh, setelah ditelusuri lebih dalam, ternyata acara-acara yang dipercayakan itu memang jalan. Tapi asal jalan. Tak maksimal tuk tidak dikatakan gagal. Acara A molor, acara B yang dateng cuma dikit, acara C ternyata membuat panitia menanggung hutang, acara D membuat panitia menanggung malu. Nah, kalau sudah begini, yang tadinya kebanggaan mengurusi banyak acara hilanglah sudah.

Dan ternyata hobi merangkap ini sudah menjadi fenomena tersendiri. Pak Arief Munandar, seorang konsultan bisnis pernah menyampaikan bahwa salah satu sebab kegagalan pengusaha Indonesia ya hobi merangkap ini. Baru ngetop dikit dah bersedia ditawari sebagai ketua koperasi, asosiasi pengusaha, dll. Sedang pengusaha Cina (tanpa bermaksud rasis tentunya) sebaliknya. Benar-benar fokus, fokus benar-benar.

Kemudian, dari sudut pandang pemberi amanah, kegagalan acara itu tentu mengecewakannya. Apalagi kalau beliau tahu kita kurang maksimal karena tergiur dengan tawaran lain. Secara tidak langsung itu menunjukkan kita meremehkan kepercayaan beliau sekaligus ketidakprofesionalan kita. Nah, parahnya lagi kalau “klien” kita ini menyebarkan kekecewaannya. Harapan agar kita ter-branding sebagai EO yang handal tuk handle berbagai jenis acara, justru terwujud sebaliknya.

Dorongan lain yang sering mengemuka ialah ndobel seperti ini lebih menantang serta mencari hal yang baru. Memacu adrenalin. Memang benar. Plus terkesan heroik. Kalau ada yang beralasan seperti ini biasanya saya jawab,”Oke, kalau kamu memang niat nyari tantangan, suka dengan tantangan, saya tantang kamu tuk menyelesaikan yang kamu mulai. Tak hanya itu saya tantang kamu tuk fokus menyelesaikan yang sudah ada dulu dengan kualitas tinggi!”

Ya, karena banyak yang keseringan mencari dan memulai hal yang baru. Karena yang dianggap tantangan hanyalah yang baru-baru. Padahal menyelesaikan dengan tuntas pun tantangan tersendiri. Butuh konsistensi. Berhasil sih saat cari hal baru. Tapi gagal saat menyelesaikannya. Sekedar inisiator. Tak bermaksud meremehkan orang bertipe inisiator. Tapi yang diperlukan dalam kasus ini ialah orang yang “Can get things done.”Orang yang bisa bertahan hingga perjuangan selesai.

Saya teringat hadits. Isinya menceritakan bahwa di akhirat ada pemuda yang disiksa. Ia disiksa dengan mengangkut beban berat. Anehnya, beban yang sudah dipanggul belum selesai diangkut, sudah ngangkat beban lagi. Sang Jibril menjelaskan, pemuda itu kala di dunia sering menyanggupi amanah padahal amanah yang sudah ada belum terpenuhi. Dalam arti lain, ia sering berkhianat. Mencederai amanah. Na’uzubillah.

Hmm… .Argumen-argumen di atas memang dimaksudkan tuk “melawan” rasa gatal tuk ndobel. Tapi bukan tuk melarang. Lebih pada upaya pengendalian nafsu ndouble. Syukur-syukur ndouble yang kita lakukan bukan karena mencari kesenangan pribadi. Tapi kebijaksanaan pribadi yang menghasilkan kebahagiaan sosial.

Karena, ndobel proyek seperti ini sering tidak bisa dihindarkan. Bila kita melihatnya dari segi waktu alias musim. Ada masa tertentu ga ada kegiatan, ada masa sebaliknya. Contoh kecil yang sering saya alami, hari Senin-Jumat jarang ada undangan rapat. Begitu Sabtu-Minggu, sms undangan bertubi-tubi. Susah dihindarkan karena memang senin jumat pada sibuk, akhir pekan baru pada sempat. Apalagi kala musim liburan atau puasa seperti ini. Banyak yang berpikir “Wah, mumpung libur, pasti pada punya waktu.” hasilnya ya seperti pikiran “Ah, pagi aja berangkatnya, jalanan masih sepi.” Kemudian semua berangkat pagi, justru macet deh jadinya.

Balik lagi, beranilah menolak dengan pertimbangan kualitas dan kemaslahatan bersama. Mungkin timbul pertanyaan, “Nanti kita stuck donk, skill nya cuma gitu-gitu aja”. Nah, oleh karena itu, jangan berhenti di situ. Jangan menolak lalu berhenti. Tapi harus cari cara agar kita mampu menerima lebih banyak amanah, order, tanpa mengorbankan kualitas. Seperti pengusaha yang mengajukan kredit tuk meningkatkan kapasitas produksinya. Intinya, ndouble tidak haram tapi berhati-hatilah kala men-double!

NB: saat saya menulis ini, eh datang SMS. Penawaran amanah ngurusi acara lagi! Wah kok pas sekali. Langsung digoda tuk ndouble. 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s