Like Father Like Son

Like Father, Like Son

Ada kisah menarik saat saya menulis “Bersajak Tentang Facebook, Bersajak Karena Facebook”. Saya mengetiknya di kamar dengan laptop tercinta. Dalam tulisan itu, saya perlu mengutip sajak di Suara Merdeka. Maka saya membawa harian itu ke kamar. Ayah saya melihat saya sedang mengetik sajak tersebut. Tak lama kemudian, beliau kembali ke kamar saya dengan membawa majalah Panjebar Semangat dan handphonenya. Meminta tuk mencatatkan satu geguritan di hapenya.

Awalnya saya kaget. Tingkah bapak saya ini terasa aneh. Eh, baru kemudian sadar. Saya pun sedang melakukan hal yang sama. Ngopi sajak. Kemudian saya berpikir lagi, “Wah, ternyata bapak saya juga suka dengan karya sastra. Sama seperti saya.” Beberapa detik kemudian barulah saya sadar bahwa saya salah. Sayalah yang seperti bapak. Saya lalu mengamati geguritan yang disukai ayah saya itu. Eh, kok tipe-tipenya sama dengan yang saya suka. Wah, lagi-lagi bapak seperti saya ternyata. Eh, lagi-lagi saya yang salah. Sayalah yang mirip beliau.

Bapak kembali masuk ke kamar. Mengecek sudah selesaikah saya mencatatnya. Belum. Lalu sambil keluar bapak berkata,”Kalau bapak masih kursus (kursus apa ya???), pasti (geguritan itu) bapak jadikan bahan (bahan apa??).” Saya mencoba mencerna maksudnya. Oh iya. Yang dimaksud kursus pasti waktu ayah saya mengikuti kursus MC basa jawa dulu. Lalu, yang dimaksud “bahan” menyisakan dua pilihan. Sebagai bahan diskusi kala kursus, atau bahan tuk pentas.

Saya jadi berpikir,”Wah, jangan-jangan dulu bapak sering mendiskusikan bahkan mementaskan geguritan!”. Kalau iya, saya agak menyesal. Kenapa dulu waktu saya SD disuruh ikut lomba puisi, bapak saya ga ngajarin ya. Saya ingin merasakan diajari poetry reading and writing oleh bapak saya sendiri. Rasa penasaran itu langsung terjawab sebagian. Ayah saya kemudian mencontohkan “poetry reading” geguritan yang tadi. Masih kurang pengajaran tentang “poetry writing” nih. Karena saya baru ingat kata kakak saya. Kakak saya ini pernah menemukan buku kumpulan puisi karya ayah saya. Lucu dan unik. Katanya. Haha. Bangga punya papa yang pujangga. Eh, sebenarnya saya seperti iklan mie instan itu. “Aku ga punya papa… hiks.” Yang saya punya adalah bapak. Bukan papa. Haha. Namun, sebenarnya saya ga punya bapak apalagi papa. Yang punya kan Allah. hoho.

Jadi heran, baru ngeh setelah belasan tahun bermain-main. Jangan-jangan saya suka bermain kata itu karena turunan dari ayah saya. Bertambah lagi kemiripan sifat (bukan fisik) saya dengan bapak saya. Seperti yang kita tahu, kemiripan bisa memunculkan kesukaan. Dan kesukaan pun menyebabkan kemiripan. Maka, I’m not only like my father but I also like him J. Saya tak hanya sedikit banyak mirip sifat dengan bapak, tapi saya juga menyukai beliau J

Bertambahlah alasan tuk mencintai beliau. Tidak hanya karena perintah formal agama. Kalau hanya karena formalitas agama, maka begitu saya pindah ke agama yang tidak mengajarkan tuk mencintai orang tua, hilanglah cinta saya pada beliau. Pun, cinta yang dihasilkan kebakuan ialah cinta yang beku. Bisu.

Saya bisa saja mencintai beliau karena rasa cinta yang alamiah. Bila agama tidak mengajarkan, saya tetap cinta. Tak perlu agama tuk tahu mencuri itu salah. Tak perlu anjuran bahkan paksaan agama tuk mencintai orang tua.

Rasa cinta itu sudah terbuilt in di dalam diri sebagai manusia. Pintu rasa cinta dalam hati itu tinggal kita ketuk. Dan biarkan sang cinta membuka pintu itu lebar-lebar. Mempersilakan kita masuk atau dia sendiri yang keluar. Menyambut kita dengan aromanya yang mewangi dan hangat. Mungkin dia akan mengajak kita pergi ke tempat-tempat kumuh. Lho? Kok ke tempat kumuh? Iya. Karena berkat cinta, pasir pun terasa manis bagai gula pasir.

Ajaib? Ya, itulah keajaiban cinta. Ah, lagi-lagi saya perlu mengoreksi. Saya tak perlu menambahkan kata “keajaiban” di sana. Seolah keajaiban dan cinta ialah hal yang terpisah. Keajaiban itu telah manunggal dalam cinta. Hingga bila kita membicarakan cinta, kita membicarakan keajaiban. Bila kita merasa cinta, kira merasai keajaiban. Memberi cinta, memberi keajaiban. Begitu pula bila menerimanya. Maka, jadilah cinta, (ter-)jadilah keajaiban.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s