Buka Baju Karena Facebook

Buka Baju Karena Facebook

Facebook memang fenomenal. Tepatnya kontroversial. Jenisnya yang berupa social networking tentu banyak yang menyamai. Tapi mengapa kontroversial? Karena “nasehat”nya tentang privasi yang bertentangan dengan apa yang banyak diyakini. Dalam pernyataan resminya, Mark Zuckerberg memang menasehatkan kita tuk lebih terbuka. Membuka hal yang selama ini dipilih tuk ditutupi. Dan nasehat itu tak hanya di mulut saja. Langsung disediakan sarananya.

Sebagaimana yang kita sendiri rasakan bahwa banyak hal pribadi yang tadinya tersembunyi, ingin kita buka terhadap khalayak. Ada hasrat tersembunyi tuk mengumbar privasi kita sendiri. Kalau dulu (sekarang juga masih) ada ajakan tuk membuka aurat fisik, sekarang hadirlah ajakan tuk membuka “aurat” kepribadian kita.

Tidak dapat dipungkiri facebook telah mengakibatkan perubahan yang luas. Dan setiap perubahan memendam pergolakan. Dan yang dipendam itu, muncul. Konsultan karir menyarankan para pencari kerja berhati-hati dgn apa yang dipajang di buku wajah kita. Karena perusahaan dapat mengecek jati diri mereka di profil fesbuknya. Benarkah seindah CV nya? Banyak pelamar kerja yang batal diterima hanya karena satu kata atau gambar di profilnya. Pengacara pernikahan pun bisa lebih ekstrim. Mereka meminta suami atau istri yang terlanjur update tentang kemarahan terhadap pasangan atau menceritakan urusan pribadi rumah tangga untuk menutup akunnya. Karena ternyata posting fb tadi bisa menjadi bukti di pengadilan yang memberatkan. Singkatnya, pengumbaran aurat non-fisik ini terbukti menimbulkan masalah. Kita mestinya semakin yakin bahwa memang tak semua perlu diwartakan.

Nah, kemudian banyak pengguna fb yang mengajukan tuntutan. Ubahlah pengaturan privasi. Beri kemampuan tuk “menutup aurat” di fb. Dan tuntutan ini, akhirnya dipenuhi. Sekarang kita bisa memilih siapa yang boleh melihat “aurat update” kita. Isu privasi fb kini lebih teredam.

Tapi terlanjur. Bagaimanapun juga batas privasi kini makin longgar. Hal yang dulu privasi, karena terbiasa dipublikasi, hilanglah statusnya sebagai privasi. Sebagaimana aurat fisik. Dulu wanita berpakaian tertutup. Lalu entah muncul tren membuka yang ditutup tadi. Awalnya masyarakat heboh. Kini, masyarakat sudah terbiasa melihat wanita terbuka. Hilanglah shocknya. Tentu tak semua.

Memang sejak dulu kita diminta memilih mana yang dipublikasi, mana yang dijaga sebagai privasi. Tapi melihat tren masyarakat yang makin terbuka, maka makin banyak pilihan tuk mempublikasi yang privasi. Itu kalau kita mengikuti tren membuka diri. Pertanyaannya, apakah kita mengikuti?

Dengan makin cepatnya perubahan zaman, kita hampir selalu berada di masa transisi. Kita jarang menetap lama di suatu mode. Semakin sering di masa transisi, makin sering di masa yang tak jelas. Maka jelas, di masa transisi ini batas aurat tidak jelas. Dan itu alarm yang jelas bagi kita. Tuk segera bersikap tegas. Menutup kembali sepertu dulu, membiarkan, atau menyemangati tuk makin terbuka di masa depan.

Semua ada pedoman sikapnya. Ada yang menyesuaikan dengan norma sosial. Maka ia mendasarkan pada penilaian adat istiadat. Adat ini tentu berbeda. Koteka yang biasa saja di Papua, jadi luar biasa di tempat lain. Menyebutkan secara rinci penghasilan yang diterima bagi warga di kota, biasa saja. Beda dengan di pedesaan Jawa. Ora ilok katanya. Beda-beda. Ada pula yang berpedoman pada dirinya sendiri. Dan ini justru makin variatif lagi. Sama-sama orang jawa dan tinggal di desa jawa, si A santai saja kala orang membuka-buka hapenya, si B bisa jadi blingsatan. Blingsatan bukan karena hapenya berisi aib. Perlu dipahami ada beda antara aib dan privasi. Dan yang jadi fokus di sini bukan aib, tapi privasi. Nah, Si B blingsatan karena ia memandang hape sebagai area privasi yang tidak ia biarkan semua orang mengaksesnya.

Pedoman terbaku katanya agama. Karena teks kitabnya baku. Tapi sayangnya (atau untungnya?) pemahamannyalah yang tak baku. Dari pemahaman itu muncul pengakuan. Yang mengaku Konservatif memilih menutup kembali. Yang mengaku Apatis membiarkan. Modern menyemangati.

Dan pengakuan-pengakuan sikap ini (konservatif, apatis, modern) membuat siapa yang benar makin kabur (tak jelas) saja. Karena itu mari kita kabur (pergi, menjauhi) saja dari pengakuan-pengakuan itu. Inilah ajaran Islam yang tidak kabur, jelas. Tuk tidak ta-kabur. Karena derajat pendapat kita, khususnya saya, bukanlah “paling benar” tapi hanya “paling-paling (barangkali) benar”.

Iklan

6 pemikiran pada “Buka Baju Karena Facebook

  1. Saya pernah deactivate account facebook saya ketika menyadari “keterbukaan” yang dibawa. Selanjutnya account yang baru sekarang benar-benar saya perhatikan mana ranah privat yang jangan dipublikkan, dan ranah publik yang jangan diprivatkan. Bahkan sekarang lebih sering menggunakan “send message” daripada “wall”.
    Tapi yang utama adalah jangan membawa barang privat ke ranah publik dan barang publik ke ranah privat.

  2. Begitulah kalau manusia jauh dari fitrahnya, semakin asing dengan rambu-rambu agama, semakin jauh ia berkelana dalam sahwatnya.
    Keterbukaan berubah bentuk menjadi ghibah, privasi menjadi komoditas dan kosumsi publik, yang berarti memakan daging mayat saudara sendiri dan merupakan maksiat kepada Allah subhaanahu wa ta’ala.

    Dari ‘Aisyah radhiallahu anha, dia berkata:

    قُلْتُ لِلنَّبِيِّ صَلَّىاللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: حَسْبُكَ مِنْ صَغِيَّةُ اَنَّهَا قَصِيْرَةٌ. فَقَالَ: لَقَدْ قُلْتِ كَلِمَةً لَوْمُزِ جَتْ بِمَا ءِالْبَحْرِ لَمَزَجَتْهُ، أَىْ لَعَكَرَتْهُ وَأَنْتَنَيْهُ – قَالَ الترمزي حسن صهه

    “Aku berkata kepada Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam : “Cukuplah Shofiyah bagimu karena dia itu pendek.” Lalu Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam berkata, “Engkau telah mengatakan satu kalimat yang apabila dicampur dengan air laut, pasti laut itu akan keruh.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s