Bersajak Tentang Facebook, Bersajak Karena Facebook

Bersajak Tentang Facebook, Bersajak Karena Facebook.

Kali ini masih tentang facebook…
Tulisan ini tentang sajak yang dimuat di Suara Merdeka, Minggu 15 Agustus 2010 halaman 14. Sekedar info, yang saya suka bukan harian Suara Merdeka, tapi Mingguan Suara Merdeka. Karena yang saya suka ya hanya yang hari Minggu halaman 14-16. hehe.
Sajak ini karya Gunawan Tri Atmodjo. Dari situ kita bisa tahu bahwa Gunawan Tri Atmodjo termasuk facebooker statusnya berisi berbagai hal, baik keluhan, doa, ilmu, yang disampaikan dengan cara yang nyastra. Bagi tipe ini, isi boleh umpatan, tapi disampaikan dengan cara yang indah. Mungkin. Karena saya juga belum melihat profil fbnya.
Ada dua objek yang menjadi cermin bagi saya. Tersindir bahwa “Saya juga seperti itu”. Isi sajaknya pun sudah menyindir. Dan personalitas penyairnya, juga menyindir. Saya bercermin dari omongannya dan juga orang yang ngomong.

Yang unik di sajak ini ialah, baru kali ini saya baca sajak yang menyinggung FB dimuat di harian yang cukup ilmiah. Sajak ini juga menarik dari segi permainan kata. Memainkan rima tidak di level kalimat, tapi frasa. Sedangkan dari segi makna, juga menarik dalam beberapa babnya. Mengandung sentilan religi. Anda boleh melewatkan kutipan sajak yang cukup panjang ini. Waktu saya ketik di perangkat lunak editor kata, sajak ini menghabiskan sekitar 3 halaman. Tipe huruf Calibri ukuran 11. Sekali lagi Anda boleh tidak membacanya, langsung membaca komen saya. Resiko sendiri kalo ga mudheng. 

Yang Enggan Terhapus
/1/
Kita seperti selaksa lalat yang terjerat di jejaring tak kasat mata.
Dan hanya mampu saling pandang lewat mata kata
Aku di sini kalian di sana , tertalipati simpul maya
Kita adalah malaikat pencatat sekaligus si sekarat yang berwasiat

Sebelum jendela ajaib ini diciptakan
Waktu adalah jeda tunggu yang membelenggu
Dan hidup melulu ketidaktahuan yang diparak jarak

Kini dapat kautuliskan padaku puisi-puisi yang indah
Dan dapat segera kubalas dengan rapal sumpah serapah
Atau kukirimkan padamu alegori-alegori hujah
Dan kau menyukainya karena menganggapnya doa penuh berkah
Antara mukjizat dan mudarat, semudah itulah pembenaran kita pilah

Lantas di setiap beranda kita menjelma rahib-rahib gaib
Yang enggan raib sebelum membaca kabar nasib
Kita tenggelam di kubangan khotbah dan sampah
Kata-kata dimuntahkan, dipulung, dan didaur ulang
Menjadi status baru yang dianggap perlu diwartakan ke setiap orang

Di dunia muka-muka ini akan selalu ada hantu-hantu yang setia
Mendengar curahan perasaan dan membunuh sepi manusia
Yang mungkin tak kita temukan di dunia nyata
Raut-raut kaku dengan kepedulian aneh melebihi kesabaran bunda

Benar, tak ada yang lebih tabah
Menampung gelisah dan keluh kesah kita
Selain buku wajah


/2/
Dalam permainan menjadi Tuhan
Tiba-tiba saya lupa: siapa yang menjadi manusia?
Bahkan hingga permainan usai,
Saya masih juga gagal mengingatnya.

Siapakah, di antara kita, yang pernah berperan sebagai Tuhan?

/3/
Kutinggalkan doa tertulis di pesan masukmu
Menandai sekian depa tahun tertempuh hidupmu
Sekian jengkal tahun lagi kematianmu
Sambil berseloroh,”Doa yang ditulis jarang dikabulkan
Karena Tuhan malas membaca dan lebih gemar mendengarkan
Maka orang-orang lebih senang berdoa secara lisan
Meski kadang hanya lewat perasaan
Daripada menggoreskannya dalam tulisan.”

Tapi kita sepenuhnya paham, Tuhan tidak demikian.
Dia adalah segala maha bagi yang fana dan baka.
Dia adalah maharaja setiap kata dan suara.

Seperti saat menggurat kambium di tubuh pepohonan
Untuk menandai tahun.
Seperti saat menyemat sepasang telinga di kepala
Yang tak seberapa berjarak dengan rongga dada
Tapi tetap tak kuasa menyadap debar sendiri jantung kita.

Semua begitu agung dan rahasia, bukan?
/4/
Hujan merintik perlahan-lahan
Dalam naungannya, seseorang yang mengaku utusan Tuhan
Mengendap-endap memangsa setiap firman yang berjatuhan
Tanpa miris dan belas kasihan
Tapi dari gelagat dan bayangannya
Terbaca duka dan leleh air mata
Seperti gerak pesakitan yang pelan-pelan mengamputasi perasaan
Seperti gestur penyair yang diam-diam memutilasi janin puisi
Di rahim malam
/5/
Siapa menulis status di dindingku?

Ada wahyu layu bertinta ungu terserak begitu saja
Di penghujung subuh buta
Mewartakan pertaruhan dan pertarungan semalam
Antara setan jelita dan malaikat buruk rupa
Yang tak diketahui siapa pemenangnya

Siapa menulis status di dindingku?

Kirimkan gambar wajahmu kepadaku
Agar aku tak ragu-ragu
Apakah aku harus menyanjung atau menghujatmu
Dalam ziarah doa patah-patahku
/6/
Lagi-lagi kau ganti nama dan foto profilmu tapi kenapa harus Langit Biru dan gambar manusia wandu sedang cuaca begini gaduh, malam penuh gendang teluh, dan suara angin seperti brubuh ditabuh?

Sebab dari tujuh kelir langit hanya pada biru seluruh rahasia luruh, segenap peri dan malaikat bersayap labirin bersimpuh. Percayalah, langit biru adalah lanskap terbaik yang pernah diciptakan Tuhan untukkmu. Pandanglah aku lebih dalam , di antara pria dan wanita parasku kandas berganti sembilu. Raut wajahku serupa rajah, serupa temali mantra yang terkaligrafi. Tapi jangan pernah kau mengejarnya saat luka dan duka bersenyawa di rongga dada!

Ah, aku kadung membacanya. Kini kutukanmu telah melata di tubuhku. Kurasakan ada yang merayap, berderap dalam senyap dari ubun-ubun menuju ujung kakiku. Ada ricih yang sedih. Ada ombak yang menggelegak. Lengkap sudah aku moksa menjadi Laut Biru, menjadi cermin paling sempurna bagi misteri terperihmu.

***

Gimana? Menarik kan? Kalau belum ketemu daya tariknya, coba tatap lagi lain waktu. Atau baca terus tulisan ini, saya bukakan beberapa untukmu. 

Sepintas melihat panjangnya sajak, saya jadi agak malas membacanya. Tapi entah akhirnya saya baca juga.
Kalau baru pertama kali membaca pembuka sajak ini, mungkin belum tahu kalau ternyata sajak ini bercerita tentang fenomena di dunia online. Saya baru menebak kalau ini tentang fb setelah membaca “Menjadi status baru yang perlu diwartakan pada setiap orang.” Nah, mulai saya tertarik. Tertarik tuk membuktikan tebakan saya. Mas Gunawan ternyata sudah merasa pembaca akan menebak bahwa sajaknya tentang fb. Lalu beliau menuntaskan jawaban pembaca dengan bait terakhir bab pertama. Di situ ada kata “benar,…” lalu disambung di akhir dengan “selain buku wajah”. Lihat, frasa buku wajah dicetak miring olehnya. Menegaskan bahwa ia sedang memblow up fb. Tapi dasar penyair, ia menggantinya dengan buku wajah.

Setelah ngeh kalau sajak ini tentang dunia online, barulah tertafsir bahwa “jejaring tak kasat mata” di baris pertama tadi bermakna “world wide web”. “Simpul maya” berarti dunia maya. “jendela ajaib” ternyata sarana sharing online.

Kemudian di bait ketiga bab pertama, terungkaplah kebiasaan penyair. Saling nge wall sajak dengan sesama penyair. Bangga bisa mengumpat tapi yang diumpat tak sadar. Justru dianggap doa yang barokah.
Penceritaan kebiasaan ini masih berlanjut di bait berikutnya. Menceritakan bahwa di setiap “beranda” facebook mereka menjadi sosok alim dengan untaian nasihat indahnya. Yang enggan sign out sebelum membaca “kabar nasib” alias news feed dari kawan-kawannya. Ketahuan pula bahwa ia sering menemukan kata-kata yang unik. Lalu tak tahan tuk memamerkannya di update status.

Sebenarnya bait berikutnya masih ada penjelasan lagi tentang fenomena fb, tapi cukuplah. Supaya tulisan saya ini tidak bertambah panjang.

Bab kedua dan ketiga munculah sentilan religi. Membaca bagian awal bab-bab ini, saya ingin menentang. Terutama penyikapannya atas sikap Tuhan. Nakal. Saya sudah menyiapkan berbagai argumen. Tapi urung. Gunawan ternyata juga tak sepakat dengan kenakalannya. Ternyata ia hanya menceritakan kenakalan, bukan menjadi kenakalan itu sendiri. Ia memungkasi kontroversi dengan “Tapi kita sepenuhnya paham, Tuhan tidak demikian.”

Di bab keempat ia menyindir fenomena para penyampai informasi religius yang justru menodai religi itu sendiri. Sebagaimana para penyair yang membunuh janin puisi. Berlanjut ke bab kelima. Ia bertanya siapa yang nge-wall. Karena ternyata yang nge wall itu tipe fesbuker yang foto profilnya bukan wajah. Username nya bukan nama aslinya. Tak jelas. Mengakibatkan mas Gunawan tak jelas pula harus bersikap. Menyanjung atau menghujat. “Begitulah kalau kita mengonfirmasi orang yang tak kita kenal. Apalagi dengan foto dan nama tak jelas,”batin saya seolah sedang berbicara pada mas Gun.

Di bab terakhir, terungkaplah salah satu kisah hidupnya. Di situ ada kutipan jawaban dari lawan bersajaknya. Sebenarnya menarik tuk dikupas. Tapi cukupi sajalah.

Dari ngalor ngidulan ini, kita bisa mengambil beberapa pelajaran. Ketemu kiblat. Sebagian sudah saya sampaikan di atas. Sebagian lagi saya sampaikan sebentar lagi.

Sebentar ya…
Nah.. sudah sebentar. Dari situ kita tahu watak penyair. Mereka sebenarnya suka bercerita. Berpublikasi. Termasuk hal yang menjadi privasi bagi non-penyair. Para penyair senang membuat pintu-pintu masuk menuju berbagai rahasia hidupnya. Tapi tak sembarang rahasia. Rahasia yang baginya menarik tuk dirinya. Karena menarik bagi penyair itulah mereka lebih termotivasi menceritakannya.

Selain itu, dibagi pula rahasia tentang kisah hidup yang mungkin dialami banyak orang lain. Penyair tak sekedar meng-alam-i. Ia mengolah sedemikian rupa sehingga terekstrak lah sari pati ilmu. Mengolah pengalaman. Pelajaran-pelajaran itulah yang juga ingin dibagi selain cerita. Berharap bermanfaat tuk pembacanya.

Cara membagi pelajaran dengan cerita pengalaman pribadi, memang beresiko mempublikasi yang sebenarnya privasi. Tapi cara itu banyak diambil. Termasuk non penyair. Karena dengan penyingkapan kisah rahasia hidup itulah pesan-pesannya menjadi lebih hidup. Pada akhirnya, kisah sekaligus pesan moralnya, serta hidup para pencerita itu sendiri, dapat menghidupi orang lain.

Mengungkapkan rahasia pribadi tuk diambil pelajarannya memang banyak dilakukan orang. Tapi, ada beda bila pelakunya penyair. Mereka tak menceritakannya secara polos telanjang begitu saja. Mereka juga memiliki rasa malu. Malu bila diketahui secara terang-terangan atau malu bila hanya menjelaskan dengan kata-kata apa adanya (denotatif) yang mudah ditebak maknanya. Maka mereka memakaikan pakaian metaforis, magis. Menjelmalah kisah yang tadinya apa adanya, menjadi ada apanya. Maka, pengungkapan rahasia itu, melahirkan rahasia yang lain lagi.

Iklan

6 pemikiran pada “Bersajak Tentang Facebook, Bersajak Karena Facebook

  1. @ Kanjeng Adipati > SIaaaaaap 🙂
    @ Cara beli rumah > yuuuup.
    @ Nurhayadi > Heem. bahkan kambing hitam pun ada yang suka. jadi meski kita disalahkan, tetep ada yang bersimpati dah 🙂
    @ Langit Biru > weeeh?? Jangan-jangan ini langit biru yang di sajak nya ya??? wah maaf maaf 🙂 terima kasih sarannya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s