Yang Berkuasa, Yang Bergantian; Pak SBY dikalahkan Pak RT

Yang Berkuasa, Yang Bergantian; Pak SBY dikalahkan Pak RT
Pernah suatu saat saya kepikiran. Bagaimanapun juga kan Pak SBY warga Cikeas. Nah, apakah Pak SBY yang sedang menjabat sbg Presiden RI, juga diundang rapat RT sbg warga suatu RT di Cikeas? Atau Pak RT sudah keder duluan tuk sekedar mengirim undangan? Kalaupun Pak SBY rawuh, gimana ya kondisi rapatnya? Bagaimana diskusinya dengan “kaum biasa” di RT tersebut? Apakah nampak sekali nampak ewuh pekewuh patron client bin feodalisme?

Kalau saya jadi ketua RT, akan saya manpaatkan sebaik-baiknye tu kesempatan. Bisa “balas dendem” gantian jadi pemimpinnye Pak SBY yang notabene kepala negara ini. Hehe. Sapa tahu baru rasan-rasan kalo kampung perlu diaspal, eh Pak SBY langsung tanggap mengeluarkan tenaga, materinya tuk mengaspal jalan kampung atau semacamnya. Mumpung ada Presiden. Toh, kalau Pak SBY hadir sebagai warga RT, penghasilannya sepertinya tetap cukup. 😀 atau, jangan-jangan, Ketua RT nya juga Pak SBY? Ah, ada-ada saja pikiranpojok ku ini. 😀

Lalu, kemarin sewaktu penutupan muktamar, ada kejadian menarik. Pintu masuk sportorium UMY, tempat penutupan muktamar, ada dua. Pertama untuk tamu. Pintu besar di bagian tengah. Kedua untuk pers. Pintu kecil di bagian depan samping. Di bagian kedua ini, kita perlu melalui metal detector.
Nah, rombongan para pembesar pun tiba. Rombongan wapres dan gubernur DIY sudah masuk ke ruangan. Tentu para pembaca tahu protokolernya. Ada rombongan TNI dan Polisi juga. Nah, ada satu dua pejabat TNI dan Polisi yang lebih lambat masuk ruangan.

Berjalanlah beliau-beliau dengan gaya khasnya. Sampai di pintu masuk utama, hal menarik pun terjadi. Ternyata bapak-bapak itu tidak diizinkan masuk lewat pintu utama. Oleh penjaga pintu (istilahnya apa sih??) beliau-beliau diperlakukan sebagai “hadirin kelas dua”. Diminta mengisi buku tamu, lalu masuk lewat pintu depan bagian samping. Berdesak-desakan dengan pers, dan harus rela melewati metal detector bahkan dompetnya yang privasi pun diperiksa!

Si penjaga pintu waktu itu dengan tenang berkata, “Oh, silakan mengisi buku tamu dulu Pak, terus lewat detector”. Lalu sang pejabat tadi itu bertanya,”Apa? Gimana?” berkali-kali. Entah karena kurang mendengar dengan jelas, atau bingung karena menerima perlakuan tak terduga. Sang ajudan pun nampak lebih tidak percaya. Yah, tapi manut atasan saja lah. Atasannya aja manut dengan sang penjaga pintu. Saya juga ga habis pikir, mas penjaga pintu itu kok bisa tanpa ada ekspresi bersalah. Apa mungkin tidak sadar hal yang baru saja dilakukannya cukup radikal (bagi saya)????

Hmm.. yang menjadi menarik adalah sosok pejabat militer yang biasanya datang sebagai priyayi sehingga para panitia perlu mundhuk-mundhuk, kali ini berbeda. Mungkin ini sedikit mengejutkan bagi beliau. Khususnya saya. Nampak kewibawaan beliau, hasil perjuangan karier bertahun-tahun, dilucuti begitu saja dalam beberapa detik. Pun “hanya” oleh penjaga pintu. Benarkah?

Itu kalau kita memahami wibawa dengan wibawa semu. Wibawa yang muncul dari jabatan, aturan protokoler, dsb. Mengapa wibawa semu? Karena menurut saya itu bukan muncul dari pribadi seseorang. Tapi dari FORMALITAS keadaan. Dan, wibawa semu hasil formalitas ini, memang akan memesona banyak orang awam. Sedang bagi yang lebih paham, tutur santun, terjaganya gesture orang itu justru akan nampak menggelikan. Atau biasa saja. APABILA kesantunannya, jawabannya yang diplomatis, nampak sekali DIBUAT-BUAT. Bersikap formal yang tidak natural.

Ciri akhlak baik yang dibuat-buat ini salah satunya ialah, kita TIDAK BETAH melakukannya lama-lama. Seperti pramugari yang memberi senyum pada penumpang hanya karena aturan pekerjaan. Saat pagi hari mungkin senyumnya masih lebar, makin lama yahh,, makin merengut :D. Orang yang lebih paham, mungkin tidak jadi segan tapi malah akan risih karena nampak sekali orang itu (bukan pejabat yang tadi lho) jaim, berpura-pura sopan. Dengan kacamata ini, kita akan melihat Pak SBY lebih berwibawa daripada Pak JK. Sebagaimana kita tahu Pak SBY tampak lebih formal dan Pak JK sering bertindak “otak kanan”. Spontan, informal, melanggar protokoler. Eit, tapi saya ga mengatakan Pak SBY hanya pura-pura lho ya.

Lhaaa,, ngalor ngidul tenan iki. Dari kekuasaan kok sampai kepura-puraan. Mungkin karena kekuasaan itu dekat dengan kepura-puraan kali ya?

Anyway, kembali lagi ke pejabat militer tadi. Kalau kita melihat dengan kacamata wibawa sejati, kita justru akan makin respect dengan pejabat tadi. Meski secara lahir, ia diperlakukan “rendah” oleh sang penjaga pintu. Nampak teladan jiwa militer Pak Pejabat. Menghormati panitia selaku “yang sedang berkuasa” dengan mematuhi perintahnya. Tanpa melihat betapa “tinggi”nya beliau sebagai petinggi militer (memang tinggi fisiknya), dan betapa “rendahnya” yang memberi perintah.

Butuh kebesaran hati tuk menerima perlakuan yang seolah tidak menghormati itu. Tapi memang benar sih. Orang yang harga dirinya penuh, mampu menghargai orang lain. Orang yang kosong harga diri, terlalu memaksa orang lain menghargainya. Orang yang cukup perhatian, mampu memperhatikan orang lain. Orang yang kurang perhatian, jawab sendiri lah.

Toh, dari sisi pembelajaran spiritual, kejadian itu bisa menjadi ajang riyadhah penghancuran ego. Ustadz yang biasa menasehati, perlu dinasehati agar tidak takabur. Yang terbiasa berkuasa, perlu diperosokkan dalam kondisi menjadi pihak yang dikuasai. Yang terbiasa berharta, akan dijumpakan dalam keadaan yang sebaliknya. Menggempakan kemapanan finansial. Tuk menyadarkan kalau yang benar-benar berkuasa itu, hanyalah Allah. Ah, Lagi-lagi terbaca asma Allah dari peristiwa tadi. Allah Sang Maha Pemulia, Allah Sang Maha Penghina.

Sudah dulu ya. Silakan gantian sharing ilmunya 

Iklan

Satu pemikiran pada “Yang Berkuasa, Yang Bergantian; Pak SBY dikalahkan Pak RT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s