Mewartakan Wartawan

Di muktamar kali ini saya bertugas melayani wartawan di ruang Media Center 2. Paling tidak dua belas jam per hari saya habiskan di ruang ini. Sedikit yang membuat agak kecewa ya justru tidak update tentang acara2 di muktamar. Padahal ada banyak sekali diskusi, seminar, pameran seni, buku yang menarik. Termasuk saya baru tahu kalau Kiai Kanjeng silaturahim di muktamar ini justru dari komen Mas Nanang dan liputan di suatu harian. Tapi ya gapapalah. Toh kedatangan saya di sini kan sebagai relawan. Bukan peserta. Bukan tuk sekedar bersenang-senang, tapi memastikan para muktamirin dan penggembira bisa senang. Khususnya wartawan 😀

Namun, yang berkesan ialah saya menjadi lebih tahu bagaimana kerja para wartawan itu. Di hari pertama ada kejadian menarik. Jurnalis dari media A (bukan nama sesungguhnya) datang ke Ruang Media Center 2. Saat itu televisi sedang menayangkan stasiun B (nama samaran juga). Saya penasaran. Ingin tahu gimana respon wartawan dari media A itu kalo TV sedang menayangkan stasiun pesaingnya. Eh, ternyata wartawan media A itu langsung nguasain remote control, browsing stasiun2 TV dan berhenti saat menemukan stasiun A, “Lha itu stasiun A!” kata rekannya yang lain. Hmm.. cukup narsis juga.

Kemudian hari beranjak siang. Wartawan makin banyak hadir. Ada yang masih muda, ada yang sudah senior. Yang masih muda memakai perlengkapan yang lebih modern. Termasuk tools yang dipakai untuk mengedit gambar maupun suara. Kebanyakan yang dipakai ialah Adobe Premiere. Sedang yang sudah senior kebanyakan merupakan wartawan media cetak. Sehingga kerja yang saya lihat lebih mengetik artikel. Bukan membuat video liputan. Ada yang menggunakan recorder, ada yang manual dengan block note. Aplikasi pengolah kata yang digunakan kebanyakan Notepad. Ada juga yang bagi tugas. Rekannya berada di TKP, lalu secara berkala menelepon rekannya yang ada di Media Center. Mendiktekan suasana tuk dijadikan lembaran uang. (Kan wartawan dapet uang dari tulisannya toh?)

Saya sempat mewawancarai salah satu crew media A. Gimana kerja di media. Yang dikeluhkan, harus siap 24 jam 7 hari. Tidur 2-3 jam sehari adalah hal yang biasa. Belum bila sedang musim banyak berita. Ternyata ia bukan lulusan jurnalistik. Melainkan Teknik Industri. Lalu saya tanya, mau sampai kapan kerja di media. Jawabnya,”Ya, kalau ada yang lebih layak penghasilannya sih, ya pindah.”

Nah, mumpung ada banyak wartawan yang juga banyak yang ramah, saya ingin ngangsu kawruh. Khususnya tentang menulis. Saya salut dengan para wartawan itu. Dengan suasana yang serba terburu-buru, tapi masih tetap bisa menghasilkan tulisan. Pun tidak banyak coret-coretan. Kebanyakan langsung jadi. Sedang saya, di suasana yang lumayan crowded ini, pikiran terasa buntu. Tulisan saya kali ini pun salah satu contoh kualitas tulisan saya kalau sedang ga konsen. haha.

Para wartawan itu mulai meninggalkan Media Center ba’da isya’. Tapi ada juga yang pulang hingga pukul 1.30 dini hari. Ada juga yang menginap.

Semoga setelah belajar langsung dari para wartawan, saya bisa menghasilkan tulisan yang bernas walau kondisi under pressure.

Iklan

6 pemikiran pada “Mewartakan Wartawan

  1. haloo bondan…
    salam kenal, kita sudah sering ketemu di media center tp kita belum pernah kenalan hehehehe,
    aku temennya adit hahaha,
    muktamar ternyata benar-benar berkesan ya untuk anda hahahaha,

  2. haluu bondan…
    salam kenal…
    kita sudah sering ketemu di media center tp belum kenalan hehehehe,
    aku dian temennya adit, tenyata muktamar bereksan buat anda hehehehe,
    :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s