Menulis di Kehidupan; Mengubah Idealita Menjadi Realita Diri

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Mohon pamit sejenak para pembaca. Dakwah berangkat dari Realita yang ada pada pola pikir, perilaku, dan batin pendakwahnya. Sedangkan saya sendiri masih terlalu banyak kelemahan diri. Terlalu banyak hal yang masih sekedar Idealita. Hal yang membuat saya berpikir, “Oh, harusnya saya berakhlak begini.” Padahal bila saya berdakwah, ianya harus sudah terinternalisasi dalam diri saya. Menjadi Realita diri. Hal yang berkisar,”Oh, saya alhamdulillah jujur. Maka, saya ajak orang lain jujur.”

Berhentikah saya berdakwah? Tidak. Saya mendakwahi diri sendiri. Insya Allah dalam beberapa waktu ini saya mengintensifkan diri tuk perbaikan diri. Dan bukankah memperbaiki diri merupakan dakwah yang powerfull? Kata teman, Satu contoh perilaku nyata, lebih bermakna dari 1000 kata nasihat.”

Berhentikah saya menulis? Tidak. Hanya berpindah media. Bila blogging berarti saya menulis di dunia maya, dengan kata-kata. Dalam beberapa waktu ini saya sedang mengintensifkan diri tuk berpindah media. Perbaikan diri berarti saya menulis di dunia nyata, dengan aksi nyata. Saya perlu menulis jejak-jejak nyata keimanan, profesionalisme, kekuatan, kedisiplinan, kelembutan, kejujuran diri di kehidupan nyata. Hingga, Idealita dalam tulisan-tulisan saya, menjelma Realita.

Saya tidak ingin menjadi orang yang hanya sekedar dianggap baik. Apalagi “hanya” di dunia maya ini. Saya berharap, Allah menjadikan saya sebagai orang yang benar-benar baik. Fase yang akan saya alami ini, ialah fase membangun pondasi yang kuat. Hingga, sangka baik Saudara terhadap saya, benar-benar menjadi Fakta yang bisa Anda jumpai dalam diri saya. Saat Anda menjumpai saya di dunia nyata.

Mohon maaf bila ada yang tersakiti. Doa saudara sekalian, saya harapkan.

“Ya Allah, ajari aku berzikir padaMu, mensyukuriMu, dan perbaikilah pengabdianku padaMu.”

Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Iklan

7 pemikiran pada “Menulis di Kehidupan; Mengubah Idealita Menjadi Realita Diri

  1. Saya termasuk orang yang akan merasa kehilangan kalau sampeyan ndak nulis di blog lagi. Bolehlah undur diri sebentar dari dunia maya untuk selanjutnya tampil kembali sebagai pribadi baru, yang lebih baik tentunya. Dengan blog Pikiran Pojok ini, semakin banyak teman2 yang bisa belajar untuk memperbaiki diri. Semoga bisa menjadi bahan pertimbangan. Salam sukses selalu. 😀

  2. Iqbal pernah menulis, bahwa saat Isra Mi’raj Rasulullah ditawari untuk tinggal di surga. Tapi, beliau menolak. Beliau memilih balik ke dunia untuk menuntaskan perubahan.

    Mungkin kalau bagi seorang sufi, tawaran untuk tinggal di surga tidak akan ditolak. Kapan lagi bisa dekat dg Sang Khaliq?

    Tapi, bagi seorang nabi, pengemban dakwah, dunia adalah kenyataan yang harus diselesaikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s