Laku Iman Pak Sariban

Laku Iman Pak Sariban

Silakan googling tuk mengetahui lebih lanjut tentang sosok yang sedang kita bicarakan kali ini. Bapak Sariban. Pensiunan sebuah rumah sakit mata yang telah menjelma pahlawan lingkungan dua tujuh tahun lamanya. Ia bukan petugas kebersihan resmi pemerintah. Ia juga bukan warga asli Bandung. Namun, setiap hari ia membersihkan sampah yang berserakan di jalanan kota Bandung. Selain itu, ia mencabuti paku di pohon-pohon peneduh jalan. Pak Sariban juga kerap beraksi laiknya mahasiswa aktivis. Berorasi dengan megaphone. Menyadarkan para pejalan yang entah peduli atau tidak. Ditemani sepeda tua yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa.

Saya tahu lebih dalam tentang beliau lewat tayangan berita siang di SCTV. Ada keheranan tersendiri di tengah-tengah liputan. Bagaimana mungkin perjuangannya sejak 1983 itu masih dilakukan sendirian? Ia masih menjadi single fighter di tengah usianya yang merapuh meski fisik masih kukuh. Tidak adakah warga kota Bandung yang tergerak menemani perjuangannya? Tidak adakah dukungan dari pemerintah?

Oh, ternyata ada. Banyak pimpinan pemerintah telah memberikan tanda tangannya lewat piagam penghargaan pada Pak Sariban. Piagam-pagam itu terpampang rapi di rumahnya. Bantuan materi juga diberikan. Tidak hanya dari pemerintah. Organisasi sosial maupun perseorangan juga menunjukkan kepeduliannya. Beliau juga pernah dihajikan. Itulah bila kita peduli pada alam. Alam pun membalas kepedulian kita dengan caranya sendiri. Sebuah ketetapan Pencipta Alam.

Di mana medan perjuangan sosok yang satu ini? Ia bukanlah Menteri Lingkungan Hidup yang berjuang lewat kebijakan berdampak massif. Ia bukan pula kaum intelektual lingkungan yang bergulat lewat isu, penciptaan tips-tips praktis menjaga lingkungan. Bukan pula teknolog dengan penciptaan teknologi pengolah lingkungan, maupun perangkat elektronik yang lebih ramah lingkungan. Ia, lebih tepat bila diletakkan sebagai tokoh penggerak atau setidaknya inspirator. Seperti yang tertulis di salah satu piagam penghargaannya. Nah, bila kita sudah sepakat dengan medan perjuangannya, mari kita lihat. Sudah berhasilkah perjuangan beliau?

Dalam wawancara itu, beliau selalu menjawab dengan bahasa tubuh dan intonasi yang ceria. Bagai guru TK. Seolah-olah ia sedang berbicara dengan anak-anak. Mungkin karena kelembutan perasaannya. Buah dari pergaulannya dengan alam. Menyindir kita yang sering berucap kasar seolah lawan bicara kita ialah batu. Tak berperasaan. Sebuah penyikapan yang keliru. Karena batu pun berperasaan. Jadi, bila kita telah hilang rasa, hilanglah pula kelebihan manusia dari batu.

Mungkin pula hal berikut lebih menyindir kita. Petuah-petuah lingkungan yang ia sampaikan dengan gaya guru TK itu, yang lebih cocok untuk balita itu, ia pakai karena Pak Sariban berpikir orang yang masih abai dengan lingkungan, berarti masih kekanak-kanakan!

Dalam wawancara itu pula, saya tahu sejauh mana keberhasilan Pak Sariban sebagai tokoh penggerak. Ternyata ia benar-benar masih sendirian. Beliau belum bisa menggerakkan. Terbukti dari pernyataannya. “Warga Bandung itu jangan cuma jadi penonton, tapi pemain!” Tentu dengan gayanya yang khas. Ia menyiratkan kebutuhannya. Bahwa ia masih memerlukan pemain tambahan. Pejuang tambahan. Karena bila kita hanya mengandalkan satu tokoh ini saja, bagaimana bila Sang Pencipta kelak memanggilnya?

Karena itu, Pak Sariban perlu dukungan lebih dari sekedar tanda tangan kepala daerah. Tapi benar-benar turun tangan. Pemerintah yang memiliki “tangan” alias kuasa, diharap bisa membuat program yang mengajak warga Bandung benar-benar turun tangan memungut sampah. Agar berhasil, ia perlu pula dukungan akademisi, teknolog, warga, dan pemuka agama.

Tapi sebenarnya berbagai pihak di Bandung itu sudah pernah turun tangan. Pemerintah, setahu saya, pernah mengadakan Gerakan Bandung Bersih. ITB menciptakan teknologi biopori. Aa Gym pun sering mengangkat sosoknya. Menyampaikan ceramah TSP. Tahan dari membuang sampah sembarangan. Simpan sampah. Pungut, Insya Allah sedekah. Lalu, kenapa meski sudah didukung berbagai pihak, gerakan itu tidak awet? Apa yang kurang dalam gerakan itu?

Jawabannya bisa kita lihat ketika Pak Sariban memberi tahu apa yang memotivasinya. Kita akan tahu apa yang membuat gerakan Pak Sariban tahan lama meski sendirian. Kita bisa mengambilnya tuk digunakan pada gerakan lain. Jawaban beliau sederhana, “Kebersihan itu kan sebagian dari iman. Itu bukan hanya slogan. Tapi selama kita hidup, hal itu harus kita buktikan dan buktikan.” Kesadaran iman. Itu yang melanggengkan pergerakan.

Iklan

Satu pemikiran pada “Laku Iman Pak Sariban

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s