Jalan-Jalan Kebahagiaan

Jalan-jalan Kebahagian
Terhitung sejak Senin sore 10 Mei 2010 hingga Rabu pagi saya melakukan perjalanan. Pergi ke Jakarta tuk bersama rombongan memberi dukungan kemenangan. Ada satu Tim dari UGM yang masuk final Imagine Cup. Ini beberapa butir pemahaman yang saya peroleh dari perjalanan itu. Pemahaman tentang kebahagiaan dan iman.

Saat perjalanan berangkat, kami berhenti sejenak di suatu rest area. Pukul 5.30 hingga 6.30 hari Selasa. Bila lapar ialah sengsara dan kenyang itu bahagia, pagi itu saya ingin menukar sengsara saya dengan bahagia. Saya memesan makanan di suatu depot makanan di rest area tersebut.Secara fisik, orang lain akan melihat saya sedang bahagia. Karena sedang menyantap seporsi nasi goreng dan segelas teh hangat. Tapi tidak untuk saya yang sedang mengalaminya. Saya hanya bahagia beberapa saat saja.

Terus terang saya kecewa dan terkejut mengetahui porsi nasi goreng seharga dua belas ribu rupiah itu hanya setengah dari nasi goreng harga enam ribu yang biasa saya pesan. Rasanya? Saya berharap lebih enak. Tapi saya makin tidak bahagia. Karena sama saja ternyata rasanya.
Itulah jalan kebahagiaan pertama. Fisik. Fisik saya ingin mengabarkan bahwa ia bahagia. Tapi pikiran saya mengatakan sebaliknya. Pikiran lebih kuasa dari fisik. Maka, saya pun lebih menuruti suasana pikiran yang sedang tak bahagia. Ini pula mengapa banyak orang yang secara fisik, materi, ia seharusnya bahagia. Tapi entah mengapa pikirannya berduka hingga ia tak bahagia. Tapi, ada juga yang secara materi, ia miskin. Tapi, pikirannya selalu bahagia. Ia pun gembira.
Kemudian, dalam perjalanan saya sering mendapat posisi tak nyaman untuk tidur. Teman dari depan memepetkan kursinya ke belakang. Teman dari belakang berkali ulang menaruh kakinya di sandaran kepala. Sekitar 10 cm dari kepala saya. Dengan bau yang cukup terasa. Atau, ia meneroboskan kakinya. Menaruhnya di kursi samping saya. Masih dengan aroma yang sama. Dengan kerongkongan yang kehausan dan perut yang kelaparan. Lapar, dalam kasus ini, ialah sengsara. Maka, level sengsara saya kali ini meningkat dua kali lipat. Dan dalam kondisi seperti inilah saya mengeluarkan laptop tuk mulai menulis artikel ini.

Sang fisik berteriak-teriak bahwa ia tak nyaman. Tapi saya belajar dari pengalaman pagi itu. Bahwa pikiran dan perasaan lebih menentukan. Maka, saya berusaha membuat pikiran saya bahagia. (Kira-kira siapa ya yang menyuruh pikiran saya itu?). Sensasi fisik ingin menyeret saya dalam suasana ketidakbahagiaan. Tapi pikiran tidak mengizinkan. Maka, saya bahagia. Cukup bahagia tuk menulis artikel ini. Inilah pintu masuk kedua kebahagiaan. Pikiran dan persepsi.

Tapi ternyata persepsi dan pikiran itu begitu mudah berubah. Seperti suasana hati yang selalu berkaitan dengan pikiran. Saat saya melihat teh yang dihidangkan dalam gelas berbentuk tinggi langsing, saya mempersepsikan teh itu cukup banyak. Saat saya meminta pelayan membungkusnya, ia membungkusnya di gelas plastik yang berbentuk pendek dan gemuk. Teh itu mulai nampak sedikit bagi saya. Itulah, persepsi mudah sekali berubah. Maka, kebahagiaan yang berdasar persepsi, pastilah mudah berubah menjadi “musibah”.

Lalu, apa yang lebih manjur dari sekedar fisik, pikiran, perasaan? Iman. Di dalam perjalanan ini saya coba mempertahankan kesadaran ilahiah. Berzikir termasuk lewat sholat meski di dalam bus. Maka, sesuailah janji Allah. Berzikirlah, bahagialah kamu. Berimanlah, kuberi kau kebahagiaan. Maka, saat apa yang kita anggap zikir ternyata tidak menghasilkan kebahagiaan, pertanyakanlah keimanan diri ini. Jangan-jangan kita belum berzikir, hanya melantunkan kalimat zikir.

Hanya, yang perlu sangat diwaspadai, saudara-saudara seiman. Kebahagiaan ialah efek samping dari keimanan. Sesuai namanya, efek samping, maka kebahagiaan itu harus diletakkan di samping. Bukan di depan sebagai tujuan hingga kita justru menuhankan kebahagiaan. Mencari berbagai cara agar (seolah-olah) bahagia. Ingatlah, ia bukan tuhan. Maka tak perlu dituhankan.

Bahkan, kebahagiaan kadang perlu dikesampingkan sama sekali terlebih dahulu. Karena sering, iman itu tampak tidak membahagiakan. Tak diterima logika, ditolak perasaan, dienggani fisik. Contohnya, Ibrahim as “membuang” istri dan “menyembelih” anak. Khidhir membocorkan kapal, membunuh anak, Bilal bin Rabah ditindas batu di padang gersang. Abu Bakar membenarkan mi’raj Nabi yang waktu itu tampak tak mungkin.

Itu tadi contoh dari orang penuh iman jaman dulu. Sekarang? Masih ada. Imanlah yang hingga kini membuat banyak orang lapar justru memberi makan. Iman jugalah yang membuat orang tanpa ragu melepaskan tanpa takut kehilangan. Melepaskan jabatan, merelakan anak, istri, suami, teman, pujaan, semua yang dikasihi, tanpa takut kehilangan kebersamaan sejati. Tapi, mereka tetap melakukannya. Memilih jalan kebahagiaan iman.

Jalan kebahagiaan iman, kadang tampak tidak membahagiakan, bahkan mengerikan. Jalan kebahagiaan iman, terkadang menuntut kita “membunuh” logika dan perasaan. Tapi Anda semua tahu bagaimana nasib mereka selanjutnya. Indah tak terperikan. Itulah sepercik buah iman. Sekali lagi, baru sepercik saja.

Iklan

14 pemikiran pada “Jalan-Jalan Kebahagiaan

  1. Contohnya, Ibrahim as “membuang” istri dan “menyembelih” istri.
    Ini sudah benar atw belum ya?

    Kebahagiaan itu adalah bonus, sedangkan nilai itu lebih terletak pada bagaimana kita menjalani suatu proses. wah jan, mantep tenan 😀

  2. Munatab abis, kang Bondan ini, tulisannya filosofis , penuh makna, dalam, dan mengandung ilmu haqiqat. sangat menyentuh.

    “kebahagiaan pada kisah nasi goreg diatas lebih dipengaruhi oleh perbandingan yang mengukur pada hal yang lebih, (murah, Enak) tanpa membandingkan faktor pelayanan , kenyamanan dll, sedang pada kasus kaki berbau busuk, kang bondan lebih mampu memalingkan perhatian pada sisi lain kehidupan/kegiatan yang lebih menarik tanpa perlu mengubah “posisi Raga”, meskipun sebenarnya keadaan tak berubah, namun perasaan berubah.”

    kadang kita perlu mengkaji lebih dalam, mengapa agama penuh berkah ini dinamakan “Islam”

    saya yang bodoh ini memang sok tahu ya,??
    bukan itu, cuma pemahaman saya spt itu, kalo salah biar ketahuan dan bisa di kripik, jadi bisa lebih baik lagi. mekaten kanjeng Bondan, Matur nuwun sanget, Monggo….

    1. sakonduripun :). Tentang kenapa kok dinamai Islam, saya juga ga tahu tepatnya. hanya bisa menerka2 saja. yakni karena ajarannya menuntun tuk berislam, berserah pada Allah . maaf kalo kurang memuaskan 🙂 Mungkin ada sodara lain yang bisa membantu 🙂

  3. selama kita ridho dan ikhlas atas apa yang Allah berikan
    tidak ada penyesalan pada dirinya…

    “akan merasakan manisnya iman, orang yang ridho bahwa Allah
    adalah Rabbnya, Islam adalah agamanya dan Muhammad saw adalah
    nabinya”

    🙂

  4. wow … sebuah refleksi lengkap dengan analogi yang mencerahkan, mas. memang jalan menuju iman banyak rintangannya, tapi di balik rintangan insyaallah banyak hikmah hidup yang bisa diambil.

  5. dan tulisanmu bagus…. bin panjang

    tapi keren.. perjalanan bahagia dengan diselingi perasaan sengsara ituh.. bisa bikin postingan kek gini [itu bar sebagian kecil hikmahnya] hehe

  6. “… kadang tampak tidak membahagiakan, bahkan mengerikan. Jalan kebahagiaan iman, terkadang menuntut kita “membunuh” logika dan perasaan…”
    Begitulah …, karena iman memiliki dimensi pasang surut karena ia menetap di dalam pikiran dan hati yang statusnya sama-sama makhluk. Akan hidup kokoh dan berkembang bila iman diberi pupuk dengan pendalaman agama dengan benar, maka akan melahirkan kebahagiaan yang haqiqi. Memiliki iman belum tentu ia berserah diri kepada yang menciptakannya. Tapi yang berserah diri kepada yang menciptakannya adalah jelas ia memiliki iman. Iblis laknatullah adalah makhluk yang paling beriman kepada penciptanya dibanding manusia, tapi dia sombong tidak sudi tunduk dan berserah diri kepada perintah yang menciptakannya. Apakah akan bahagia hanya dengan iman? Sepercik buahnya pun belum tentu!
    Selama manusia punya rasa takut berarti ia hanya memiliki iman. Sebaliknya bila punya keberanian ia akan angkuh.
    Yang membahagiakan adalah hanya menjadi budak yang merasakan ada Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang di sampingnya, yang melindunginya.
    Semoga Allah ridho akan penghambaan kita kepada-Nya. Amin

  7. dadi trenyuh aku……..
    pernah menjumpai seorang mbah-mbah di jaman seperti ini menjual soto seharga Rp 1.500,00 dan rasanya mantep!
    Apakah ia sedang mempraktekkan teori kebangkrutan ekonomi?
    Jawabnya ternyata ia seorang manusia yang melakukan pekerjaannya sebagai sebuah pelayanan dan darma terhadap sesamanya, dan itulah manusia sejati!
    Kalo Anda ingin menjumpainya, tengoklah sejenak di bumi Koripan!

  8. akhirnya ketemu kiblat – setelah nasi gorengnya baru bisa merasakan apa itu iman dan apa itu kebahagian – ada hubungan sebab akibat? – sudah dijelaskan dengan menarik dalam postingan ini – salam

  9. yah memang sering ketemu yang kayak gitu, harga 7500, dengan “isi” yang komplit jauh kalah enak dengan yang cuma empat ribu dengan telor saja sebagai pelengkap… kadang yang terlihat “wah” tidak se “wah” aslinya…. yang terlihat biasa malah jauh lebih membuat orang berbahagia daripada yang meriah…

    numpang lapak ya oom… koksusahya.blogspot.com <(entah kenapa saya ada pikiran untuk menutup blogku ini:'<)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s