Before IT’s Started

Before IT’s Started

Saya sangat antusias menyambut mata kuliah ini. Termasuk sejak saya membaca buku panduan akademik. Di situ tercetak jelas mata kuliah, “Manajemen Proyek”. Hmm.. terdengar prestisius bagi saya. Salah satu passion saya di situ. Maka tak heran jantung saya berdegup kencang tanda senang dan antusias meski saat itu baru membaca kata-kata “Manajemen Proyek” saat KRS an.

Antusiasme terjaga hingga memasuki kuliah pertama. Pada kuliah pertama ini langsung ada tugas yang cukup berat. Sesuai yang dikatakan Pak Azhari dosen Manpro saya. Makul Manpro ini memang harus banyak tugas agar mudheng. Soalnya Manpro ini menuntut skill tinggi.

Terbentuknya kelompok saya
Saya angkatan 2009. Hanya sekitar 20 orang yang seangkatan. Lainnya angkatan senior :P. Waktu kuliah pertama itu, saya memang duduk serombongan dengan teman laki-laki seangkatan saya ini. Langsung saja kami membentuk kelompok. Sudah ada sembilan orang laki-laki angkatan 2009. Saya usul tuk mengajak satu senior. Terpilihlah mas Alwi. Karena sebelum kuliah dimulai, kami sudah sempat ngobrol2 dengan mas Alwi ini. Tinggal bergerak sebenarnya. Tapi ada hal lain terjadi.

Begitu kuliah bubar, temen seangkatan saya yang perempuan, mendekati saya. Meminta saya tuk bergabung dengan kelompoknya. What?? Katanya karena mereka ga dhong blas. Alias ga paham sama sekali. Selain itu, mereka sudah ada 8 orang. Kurang 2.

Saya sebenarnya agak keberatan. Karena saya khawatir komunikasi akan kurang lancar bila saya satu tim yang didominasi wanita. Wong ngajak omong aja sudah rikuh, apa lagi harus bagi tugas dll. Mengingatkan saya di situasi saat memimpin MPK dulu. Anggota cowonya yang aktif Cuma dua. Saya dan seorang selain saya. Haha. Lainnya wanita. Karena waktu itu saya belum begitu lancar berkomunikasi dengan wanita, ya saya menggerakkan organisasi lebih banyak dengan kawan pria saya tadi. Ada juga satu orang wanita. Itu pun karena saya sudah mengenalnya. Saya sekelas waktu kelas satu dulu.

Efek negatif dari kurang lancarnya komunikasi itu ialah organisasi atau tim kurang merakyat. Maksudnya, tercipta kesan tim itu hanya dimiliki segelintir orang saja. MPK waktu itu bisa dibilang hanya digerakkan oleh beberapa elite organisasi saja. Tapi karena sedikit, bisa gerak cepat deh. Anyway, efek negatif dari kurang lancarnya komunikasi itu yang saya khawatirkan akan menimpa tim Manpro saya saat ini. dan itu terjadi.

Kembali lagi. Kawan saya yang cewe itu memohon2 lagi. Eh bukan dink. Mengajak negosiasi lagi. Posisi utama yang dimainkan ya “Minta Tolong.”. Sampai berjanji bakalan ngasih makanan tiap ngerjain tugas. Janji yang belum ditepati sampai saat ini. haha.

Saya lumayan bingung. Saya sudah punya kelompok. Plus alasan komunikasi tadi. Apa iya bakalan lancar? Padahal komunikasi ini penting lho dalam berorganisasi maupun bergaul. Jadi, kelancaran komunikasi sangat saya perhatikan tuk jadi pertimbangan.
**
Angkatan 2009 terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama cowo semua. Kelompok kedua 80% cewe. Saya menawarkan alternatif tuk menyusun kedua kelompok ekstrim gender tadi secara lebih merata. Eh, tapi kelompok yang laki-laki ini kurang sepakat.

Akhirnya, saya dan Aziz, pamit dari kelompok “cowok” tadi. Kalo pertimbangan saya pribadi sih begini. Pertama ya kasian ma kelompok wanita tadi. Meski saya ragu apa itu tidak merugikan saya di kemudian hari? Kedua. Kelompok cowok tadi sudah merekrut senior. Saya beranggapan kelompok mereka bisa tetap berjalan meski saya ga ada. Tapi di kelompok wanita ini, katanya ga bisa berjalan.
**
Seminggu lewat dari kuliah pertama. Deadline tinggal 2 minggu lagi. Tapi, saya dan Aziz, baru secara resmi bergabung dengan kelompok wanita tadi. Waktu itu saya bertanya pada Aziz,”Ziz, udah ngomong kalo kita jadi ikut kelompok cewek blum? Udah izin secara formal ke kelompok cowok belum?” Ringkasnya, seminggu baru kebentuk tuh kelompok saya. (Atau tim aja ah biar lebih keren).

Hari berjalan. Kok tim ini adem ayem ya? Ga ada gerak. Padahal deadline makin dekat. Ealah. Ternyata ga ada satu orang pun yang berada di garda depan menginisiatori pergerakan. Ga ada yang mimpin lah. Saya sih sempat terbersit mau maju mengambil kendali. Tapi ya itu tadi, faktor yang saya khawatiri, komunikasi. Entah saya kok masih rikuh sama temen2 wanita ini. Anyway, saya memberanikan diri. Pelajaran berikutnya selain komunikasi. PEMIMPIN ITU PENTING!

Ckckck… seminggu pertama baru kebentuk. Minggu berikutnya baru muncul pemimpinnya. Inilah biang keladi inefisiensi tim saya.

Deadline seminggu lagi. Saya segera bagi tugas. Tapi saya sudah siap saya bakalan mengurus semuanya. Mengerjakan semuanya sendiri, ga sempat bagi tugas karena mepetnya waktu. Ga begitu baik sebenarnya. Karena konsep manajemen sebenarnya meminta kita membagi tugas dan tanggung jawab. Saya hanya berharap tugas kedua bisa lebih baik manajemennya. Bukankah INI SEBENARNYA MANPRO ITU?

Ya, ternyata bukan proposal itu yang menjadi pelajaran inti. Tapi BERKELOMPOKnya. Karena dalam berkelompok itu, saya jadi makin yakin bahwa pemimpin itu penting. Bahwa komunikasi juga vital.
**
Eh, Lagi-lagi KOMUNIKASI YANG KURANG LANCAR menghambat kinerja. Tim ini baru muncul aware alias kesadaran bahwa deadline makin dekat setelah deadline itu tinggal setengah minggu. baru muncul pula wacana pembagian tugas. Saya pun membagi tugas. Alhamdulillah komunikasi lebih lancar. Pada awalnya saya kira demikian.

Karena ternyata, mereka masih tetap buntu tentang tugas mereka. Dan tekornya, Anggota tim saya ga bertanya kembali pada saya tentang pembagian tugas itu. mereka hanya berhenti pada “Ini gimana sih tugasnya?”. Ga tanya lagi ke saya. Padahal sms dan fb kan bisa.  Kata Billy Boen, karyawan yang smart ialah yang berani tanya ke atasan tentang tugasnya. Hingga tugasnya bisa diselesaikan dengan tepat. Daripada malu tanya karena takut dianggap bodoh.

Anyway, Akhirnya h-1 saya nglembur lagi. Bener-bener nglembur. Karena kumpulan draf proposal yang saya terima sebagian besar kurang tepat fokusnya. Fokus proposal yang ditugaskan ialah gimana kita bisa membujuk manajer senior tuk memilih proyek kita. isi proposal harus menggambarkan gimana proyek bisa menguntungkan perusahaan. Belum berfokus tuk menguntungkan konsumen. Jadi, proposal itu dibuat untuk atasan kita. Tapi draf yang masuk ke saya justru lebih tepat kalo dijadikan promosi ke konsumen. Bukan ke atasan. Walhasil, saya merombak lagi dari awal.

Pelajaran berikutnya yang saya dapat, PASTIKAN KITA PAHAM TUGAS DENGAN JELAS! Biar kita ga mengerjain tugas yang salah 😛

Iklan

4 pemikiran pada “Before IT’s Started

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s