Serupa Tapi Tak Sama

Serupa Tapi Tak Sama Kawan saya pernah mengomentari status facebook saya. Beliau mengatakan bahwa muslim (atau mukmin?) yang mahal ialah yang bisa mengendarai mobil. Tentu sebagai pengejawantahan masa kini atas sunnah nabi yakni berkuda. Saya ingin menjawabnya dengan pikiran yang terceplos (halah) begitu saja. Tapi sayang waktu itu saya belum menemukan manfaat jawaban saya tadi. Jadi “ceplosan pikiran” tadi masih terpojok tuk dijumpakan hikmah.

Waktu itu saya ingin menjawab, “Wah, berarti di Indonesia banyak mukmin yang mahal dong. Kan di Indonesia banyak sopir (angkot dan pribadi)”. Tentu tidak demikian yang dimaksud kawan saya tadi. Karena jika untuk menjadi mukmin yang mahal (berkualitas) kita hanya perlu memiliki keahlian nyopir mobil, tentu kita akan belajar menjadi mukmin bukan di lingkungan nyata, bukan di pondok pesantren, tapi di tempat kursus setir mobil.

Kalau mukmin mahal sekedar bisa nyetir mobil, tentu para mukminin ini perlu mendoakan orang-orang Jepang yang telah membuatkan mereka “sarana ibadah” (baca: mobil). Kalau mukmin yang berkualitas itu sekedar bisa nyopir (bukan nyopir yang aman- safety driving), maka mukminin lah yang menjadi sumber kekacauan lalu lintas hingga “menghilangkan” nyawa. Apa bedanya dengan para pengebom itu? Tentu bukan itu maksud kawan saya mengatakan demikian.

Kemampuan lahiriah mukminin dan non mukmin bisa saja sama. Sama-sama ahli nyetir. Kemampuan batiniah lah yang membedakan. Niat. Ada yang berniat nyopir tuk sekedar bisa. Lalu, ngapain setelah bisa? Ada yang berniat nyetir tuk gaya-gayaan. Maka sejak latihan pun sudah banyak gaya.

Ada yang berniat nyetir tuk cari uang, bertahan hidup. Maka segala-galanya diarahkan tuk cari uang. Kehilangan kehormatan tak apa, asal tak kehilangan uang. Maka, ia rela kehilangan agama asal tidak kehilangan hidup. Sedangkan mukminin, mengasah skill nyetir tuk agama. Maka, kehilangan uang tak mengapa. Maka, mereka rela kehilangan hidup daripada kehilangan iman. Bahkan, dengan gagah berkata, “Saya ga kehilangan apa-apa kok karena saya memang ga punya apa-apa.” Tepat seperti yang dicirikan Tuhan dalam Al-Quran. Siapakah mukmin itu? Ialah mereka yang bila ditimpa musibah, kesadarannya langsung KEMBALI pada Allah. Bahwa semua milik Allah dan kembali pada Allah. Kesadaran itu (bukan sekedar kata), bila dibahasakan arab akan menjadi “Innalillaahi wa inna illaihi roji’uun”.

Inilah perbedaannya. Kemampuan berniat. Dengan niat yang benar, perbuatan mubah menjadi ibadah. Hal biasa, menjadi luar biasa. Maka, mari kita berterima kasih pada Allah. Yang telah bersedia mengalirkan rahmat, dari “sekedar” niat. Sudahkah?

Iklan

4 pemikiran pada “Serupa Tapi Tak Sama

  1. “Saya ga kehilangan apa-apa kok karena saya memang ga punya apa-apa.” …Siapakah mukmin itu? Ialah mereka yang bila ditimpa musibah, kesadarannya langsung KEMBALI pada Allah.

    Nasehat untuk saya pribadi.. syukron kang Bondan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s