Ingin Berhenti (2 dari 3)

Ingin Berhenti (2-3)

sambungan dari yang ini

Ada fenomena yang menarik. Nabi saya bernama “Muhammad” yang bermakna “Yang Terpuji”. Yang memberikan nama pun bukan main-main. Langsung pemberian dari “Sang Maha Terpuji”. Eehh, meskipun begitu ternyata beliau tetap sering dicaci, dicap gila, dilempari kotoran, dituduh, dan lain-lain dari dulu hingga kini. Intinya, meski sudah diberi nama dan akhlak yang terpuji, ternyata beliau masih diperlakukan dengan cara yang tidak terpuji!

Tapi yang saya heran, meski dikritik hingga dicaci habis-habisan kok beliau ga berhenti dakwah ya? Bahkan saat istri dan paman beliau dipanggil Allah kok beliau ga protes begini ya,” Hai Allah, aku ini sudah berdakwah. Memperjuangkan agamaMU. Lha kok aku dijadikan susah begini sih!”.

Semakin saya renungkan, semakin saya menjumpai hikmah kepahaman. Bahwa kuncinya terletak pada perasaan kesadaran diri,”Dalam dakwah ini, siapa yang saya wakili? Nama siapa yang saya junjung tinggi?”

Mudahnya begini, kalaulah rasulullah kala itu merasa mewakili dirinya sendiri, menjunjung namanya sendiri yang merupakan kaum terhormat di jazirah arab, tentu beliau ogah menikahi janda-janda tua. Tentu beliau ogah duduk bersama orang-orang kumel. Tentu beliau akan marah besar dan memilih berhenti berdakwah bila kewibawaannya dilunturkan dengan berbagai hinaan dan sikap yang tak hormat karena dakwahnya itu.

Tapi yang terjadi lain. Kok bisa ya beliau tetap santai-santai saja (bahkan mendoakan kebaikan) kala dilempari batu, dilempari kotoran hewan hingga ucapan yang kotor,? Salah satunya karena beliau “KOSONG”. Kosong dari ego pribadi. Saat berdakwah beliau merasa tiada. Karena yang ada hanyalah Allah. Beliau menjunjung tinggi asma Allah bukan nama pribadinya. Popularitas beliau sudah tidak ada berganti “popularitas” Allah. Jadi kalau popularitas, harta, wibawa beliau mau dihancurkan ya no problem. Karena sudah ga ada. Beliau sudah tidak merasa memiliki itu semua. Seperti kita melihat barang yang bukan milik kita. Kita akan cuek saja dirusak. Lha wong bukan punya kita.

Asyiknya, orang-orang kafir itu hanya bisa menyerang pribadi beliau. Lha sebenernya mau nyerang apa wong pribadi beliau sudah “ga ada”. Ya sama saja nyerang ruang kosong. Memukul-mukul sesuatu yang ga ada. Menjaring angin.

Sebenarnya, logika berpikir Rasulullah SAW kalau dibahasakan kira-kira seperti ini,”Oh, yang dihina pribadi saya kok. Bukan Tuhan saya. Jadi ya, mangga sajalah.”

Itu kalau rasul. Kalau saya? Tentu saja saya masih jauh dari beliau. Saya masih terpengaruh “popularitas”. Saya masih merasa mulia jadi susah dinasehati. Beberapa waktu lalu saya masih belum lapang dada menerima kritik. Itu artinya saya masih membawa nama diri. Bukan meninggikan Allah.

Jadi, keinginan tuk berhenti kali ini sebenarnya bermula dari ketersinggungan pribadi atas komentar-komentar dan menurunnya trafik blog. Ironisnya, ketersinggungan itu saya nikmati kepedihannya (melankolis) dan hampir saya jadikan alasan pembenar tuk berhenti menulis. Berhenti blogging. Berhenti berdakwah.

Saya sangat bersyukur diberi Allah kesempatan belajar dakwah di blog ini. Blogging ini menjadi wahana “trial and error” saya. Saya jadi tahu bahwa saya masih banyak kekurangan. Tapi seperti yang sudah saya tulis di “Ingin Berhenti 1”, kekurangan itu tidak melunturkan semangat. Justru sebaliknya. Aamiin. J

Bersambung ke seri terakhir. 😛

Iklan

2 pemikiran pada “Ingin Berhenti (2 dari 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s