Dari Durna Menjadi Bima

Antara Durna dan Bima

Sekarang banyak sekali bermunculan resi Durna-resi Durna baru. Resi Durna ini jika diistilahkan dalam bahasa Arab, ia akan masuk pada golongan ulama su’. Guru yang tidak bisa digugu dan ditiru. Guru yang dalam kiasan Ahmad Dhani, bagai bunga yang sangat cantik bentuknya. Tapi saat didekati, ternyata harumnya tak seindah rupanya. Bahkan, durinya siap menusuk jari kita. Inilah yang membuat zaman ini oleh banyak orang dianggap zaman yang hancur bin bubrah.

Tapi, ternyata masih ada murid yang dengan keteguhan kuat, meng-gugu nasihat mulia sang guru. Tapi tetap tidak meniru kedurjanaan sang guru. Murid tipe inilah yang akan mengantar kita pada zaman penuh kemuliaan setelah sebelumnya suram. Murid itu tak lain dan tak bukan murid yang bertipe seperti Bima alias Wrekudara. Bima ini bukan tak tahu akan watak busuk di balik megah jubah sang resi. Ia paham luar dalam. Namun, kekurangan yang ada pada sang guru tidak membuat berkurangnya sikap tawadhu. Ia tetap mematuhi perintah Resi Durna tuk mencari Rumah Nafas. Perjalanan yang hampir membuat nyawanya terenggut berkali ulang. Karena memang, Resi Durna bermaksud membinasakan Bima dengan sopan lewat perintahnya itu. Lalu bagaimana nasib Bima?

Yah, seperti nasib orang-orang tawadhu’ lainnya. Kita bisa menganalogikannya lewat permainan jungkat-jungkit. Kita lihat bagaimana jungkat-jungkit itu bisa menjungkat-jungkitkan pemikiran kita. Lihatlah, saat salah satu ujung dalam posisi rendah-serendahnya hingga mentok tanah, ujung lainnya justru menjulang tinggi. Saat kita berani sujud penuh tawadhu dan kepasrahan, merendahkan diri hingga mentok tanah dan mengagung-agungkan Yang Mensujudkan Kita, Allah justru akan mengangkat kita setinggi-tingginya!

Dari Bima kita bisa belajar tuk selalu tawadhu. Salah satunya terhadap guru. Maka, ayo menjadi Bima. Dengan jutaan murid tawadhu’, saya yakin zaman penuh kemuliaan akan menjelang. Tinggal satu pertanyaan yang menghinggapi, yakni jangan-jangan sayalah Sang Durna itu!

Iklan

6 pemikiran pada “Dari Durna Menjadi Bima

  1. Sebenernya ada yang jauh lebih menarik dari itu semua. ketika kita menganggap makmum harus nurut sama imam itu sebuah kesalahan. karena sebenernya semua ada “pattern”-nya. Ada aturan yang dikenakan pada makmum, ada juga aturan yang dikenakan pada imam. begitu kiasannya. Jadi aturan-lah yang seharusnya jadi pedoman, bukan makmum manut sama imam…

    1. hanggih leres mas. Tulisan itu mengajak tuk “manut” pada guru karena saya melihat teman2 saya termasuk saya sendiri masih sering bandel dengan perintah guru. padahal perintahnya benar. lha kalau perintahnya alias pattern nya sesat ya jangan diikuti

  2. … kemudian meneropong sesat atau shohihnya suatu pattern, yaitu dengan ilmu yang benar dan cara berpikir yang benar. Sebab tidak sedikit ilmu yang benar dipahami dengan cara berpikir yang salah, kemudian diajarkan menjadi salah pula, maka membesarlah dosa kumulatif pada guru. Lebih-lebih bila ilmunya sesat. Oleh karena itu dalam menuntut ilmu mengikuti cara berpikir para ulama.

    “Siapa yang mengajak kebaikan maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun, dan siapa yang mengajak kesesatan maka baginya dosa seperti dosa yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s