Yang Terlihat di Baliknya

Yang Terlihat di Baliknya

Kita semua sudah mafhum bahwa di jalan raya sering terjadi kecelakaan. Tapi yang lebih sering bukanlah kecelakaan, melainkan “hampir” kecelakaan. Nah, di antara peristiwa kecelakaan dan hampir kecelakaan itu ada yang sudah jelas pihak mana yang benar, pihak mana yang salah. Sering juga terjadi peristiwa itu masih menyisakan misteri. Belum jelas mana yang benar, dan mana yang salah. Mana korban mana tersangka masih belum jelas. Peristiwa kedualah yang ingin saya ngalor ngiduli.

Karena peristiwa tadi masih belum jelas mana yang benar, kedua pihak yang terlibat sering berebut menjadi pihak yang benar. Dorongan fitrah manusia tuk menjadi pihak yang benar ini sebenarnya bagus sekali. Hanya, dalam kasus ini, cara-cara yang dipakai tuk “merebut” kebenaran tadi sungguh kontraproduktif. Alih-alih mendapat kebenaran yang menyejukkan. Para perebut kebenaran itu justru mendapat hadiah berupa pembenaran. Jauh sekali bedanya pembenaran dengan kebenaran ini. Memangnya, seperti apa sih cara kontraproduktif tadi?

Dalam kasus kali ini, cara meraih kebenaran yang kontraproduktif itu berhulu dari satu emosi. Amarah. Kita bisa melihat dari matanya yang menajam, umpatannya yang mengalir lancar, atau kepalan tangan yang teracung tegas.

Begitu terjadi “hampir kecelakaan” tadi misalnya, hampir pasti ada pihak yang langsung berlantang ria,”Gimana sih Mas! Belok ga lihat-lihat!”. Saya pernah mendengar komentar dari kawan saya. Kalau di jalan, dalam kondisi belum jelas siapa yang benar dan salah itu, kita memang harus kendel-kendelan. Alias adu cepat tuk berani marah-marah agar segera tercipta opini publik bahwa kitalah yang benar. Dan, pihak yang kita marah-marahi itu menjadi ciut nyalinya. Takut menyampaikan argumennya, takut menyalahkan kita. Hingga, kita bisa lolos dari peristiwa tadi dengan posisi sebagai pihak yang “benar”. Tepatnya, dibenar-benarkan karena kita harus marah-marah tuk menduduki posisi orang yang benar tadi. Jelas sekali kejanggalannya. Ingin meraih kebenaran tapi menempuh cara-cara penuh amarah.

Kalau kita telusuri lebih lanjut, kita bisa menjumpai alasan penguat mengapa orang-orang tetap memasang amarah di wajah mereka. Kenapa saya tulis amarah mereka hanya di wajah? Tidak sampai ke hati? Karena sering yang saya amati, orang-orang itu tidak marah betulan. Sebenarnya, dalam lubuk hati mereka tersimpan keengganan tuk marah-marah. Di balik amarah di wajah mereka ternyata masih tersimpan keraguan, masih tersimpan ketakutan. Tapi, menurut saya, keraguan dan ketakutan yang baik. Karena ragu dan takut itu golongan ragu dan takut yang membuat mereka waspada,”Jangan-jangan sayalah yang salah.” Hingga diharapkan bisa mengerem nafsu meraih kebenaran tadi. Yah, begitulah, setiap orang sebenarnya menyimpan potensi tuk berbuat baik. Lalu, mengapa mereka tetap memasang marah itu?

Alasan pertama, mereka tak sengaja belajar memilih respon berupa marah. Mengapa tak sengaja? Karena biasanya mereka hanya melihat orang lain yang begitu mengalami kecelakaan tadi, bereaksi marah-marah. Parahnya, peristiwa yang dilihatnya itu berlangsung dengan kondisi penuh emosi. Kondisi penuh emosi ini membuat mereka lebih cepat tersugesti. Maka, saat mereka mengalami hal yang sama, mereka langsung mengakses file di otak mereka tentang “respon” saat menghadapi kecelakaan. Sayangnya, yang tersimpan ya itu tadi, reaksi penuh amarah. Kita memang perlu berhati-hati dengan apa yang kita lihat dan dengar. Para psikiater pun mempelajari teknik khusus sebelum mereka mendengar curhat dari pasiennya. Mengapa? Karena penyakit yang dibawa pasien tadi bisa menulari sang dokter jiwa tadi. Tak jarang ada orang yang dicurhati malah ikut-ikut nangis. Tentang hal ini, mungkin akan kita bahas lebih dalam di lain kesempatan.

Alasan kedua dan seterusnya inilah yang sebenarnya menjadi poin utama di artikel ini. Ternyata, mereka sengaja tetap memasang wajah amarah dengan alasan agar dianggap berani. Benarkah mereka berani? Alasan lain, mereka ingin membela diri. Memangnya, haruskah kita membela diri dengan cara yang demikian? Lalu, biasanya yang memasang wajah amarah ini ialah para lelaki. Ini sungguh aneh. Karena di mata umum, yang dibangga-banggakan menjadi keunggulan lelaki ialah rasionya.

Akal kaum lelaki ini katanya bisa mengendalikan emosi, hingga kaum lelaki dikenal lebih rasional daripada emosional. Memang ada benarnya, tapi dalam kasus ini, para lelaki ini jelas sedang menjadi pihak yang emosional. Lalu, mana sang akal yang dibangga-banggakan itu? Ah, terbuktilah, bahwa akal kita ini tidak cocok tuk mengurusi nafsu. Mending nafsu itu langsung diserahkan kepada yang menciptakan nafsu dan akal kita ini.

Lalu, sesuai judul, “Yang Terlihat di Baliknya”, apa sih yang sebenarnya saya lihat di balik tampang marah itu? Ooo… ternyata mereka justru bukanlah orang yang berani. Amarah yang diniatkan tuk menunjukkan keberanian itu malah di mata saya mencerminkan dengan jelas kepengecutan. Pengecut. Bukan pemberani. Karena mereka menjelma menjadi sosok yang takut bertanggung jawab. Kalau mereka benar, mengapa takut diselesaikan dengan cara baik-baik? Kalau mereka benar, mengapa takut disalahkan?

Kemudian tentang alasan “membela diri”, “ingin menjadi pihak yang menang”, “ingin menunjukkan kekuasaan”. Kalau kita memang benar dan menang, mengapa kita membela diri? Bukankah bela diri itu dilakukan saat kita terancam? Memang, kebenaran wajib dibela. Namun, relakah kebenaran itu kita bela dengan cara-cara seperti itu?

Nah, ada baiknya jika kita mencoba memberi respon yang lebih baik. Senyum. Senyum ini nasibnya serupa dengan salah satu merk kopi. Disangka lemah ternyata kuat. Disangka ga laki ternyata jantan. Ternyata senyum itu menandakan kekuatan. Kekuatan tuk mengendali nafsu. Lalu, setelah nafsu terkendali, tetaplah tersenyum minimal dalam hati. Karena ternyata senyum itu menandakan sikap yang jantan, gentleman. Senyum ini membuat kita tetap dalam kondisi “kepala dingin” dan efeknya, kita bisa mendapat penyelesaian yang lebih adil. Lha kalau ternyata sang hakim juga tidak adil? Yah, kita tetap perlu senyum dengan seramah mungkin, sambil menjitak kepalanya dengan palu hakim itu! Haha bercanda.

NB: Tentang membela diri ini ternyata sudah dibawakan dengan apik oleh kawan saya, Novi dalam artikelnya, Teori Lebah. Hanya, beliau lebih membahas hubungan membela diri dengan balas dendam.

Iklan

5 pemikiran pada “Yang Terlihat di Baliknya

  1. Maka itu lah lia selalu berusaha tersenyum… 🙂 heheh
    Kunjungan perdana kang

    salam kenal… semoga persahabatan terjalin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s