Kursi Panas

Saya kadang diminta Guru Ngaji saya di kampung untuk berceramah di pengajian anak-anak. Inilah yang saya maksud dengan duduk di kursi panas. Duduk tuk berceramah. Melihat kondisi saya ini, berceramah laiknya duduk di bara neraka. Meski tentu neraka lebih panas daripada yang bisa saya sangka di dunia ini. Saya masih perlu dinasehati, bukan menasehati. Kalaupun menasehati, itu hanya menasehati diri sendiri. Itulah yang membuat ceramah, bagi saya, serupa dengan “kursi panas” karena saya memang belum pantas.

Anggapan ini pula yang selalu membuat saya menolak dengan halus tawaran tuk berceramah yang datang dari adik kelas saya di ROHIS kala SMA kemarin. Namun, sering pula tawaran itu datang dengan berupa permintaan tolong. Mendengar kata “tolong” ini tentu membuat saya kesulitan menolak sehingga kadang saya pun menerimanya. Sekali lagi kadang. Apalagi permintaan ceramah itu datang tidak hanya berupa permintaan tolong. Kadang ia datang berupa perintah. Perintah dari orang tua saya tuk sekedar berkultum di acara keluarga. Ah, inilah yang paling dilematis. Menolak perintah yang jelas bukan perintah tuk bermaksiat, tentu membuat saya durhaka. Namun, jika saya tetap berceramah, maka saya berpeluang mengambil kursi di neraka. Na’udzubillah. Sungguh hanya padamu ya Allah saya meminta pertolongan.

Kembali ke pengajian anak-anak tadi. Saat saya mendatangi tempat pengajiannya, saya khawatir noda-noda diri ini akan mencemari ruhani anak-anak yang masih murni. Saya hanyalah manusia biasa. Saya khawatir khilaf saya akan memberi citra buruk pada anak-anak. Saya khawatir kelak anak-anak ini ikut-ikutan pesimis. Beranggapan bahwa “tidak ada lagi orang baik di dunia ini” setelah melihat orang yang menceramahi mereka pun ternyata “tidak baik”. Padahal, orang baik itu masih ada. Dan banyak! Hanya orang-orang baik itu tidak terekspos, tidak diekspos, dan tidak mengekspos diri.

Jelaslah, bagi saya, meski ini hanya pengajian anak-anak, kelas kampung pula, tanggung jawab yang saya pikul amatlah berat. Amanah ini membuat saya tidak bisa berceria seperti anak-anak dalam pengajiannya.

Setiap saya diminta oleh Guru Ngaji saya tadi, saya mengalami kegamangan. Sering hingga mengalirkan keringat. Bukan karena saya gugup berbicara di depan umum, hanya sekali lagi, kursi tuk berceramah itu masih berupa bara bagi saya. Karena saya belum pantas, kursi itu menjadi panas. Tapi kemarin, malam minggu sebelum UM-UGM, keadaan sedikit berubah. Saya sedikit menemukan kelegaan. Setelah ingat tentang kepahaman bahwa,

“Berdakwahlah bukan dengan khotbah, tapi dengan perbaikan diri. Sampaikanlah apa yang sudah kau praktekkan. Tentang hidayah, biarlah Allah yang mengurus. Asal kau berdakwah tuk membawa nama-Ku, bukan namamu, pastilah engkau Ku-urus.”

Sekali lagi, “Biarlah Allah yang mengurus”. Lagipula, hanya dengan mengubah paradigma pun, semuanya berbubah. Perubahan paradigmanya, saya datang bukan untuk menasehati, tapi untuk dinasehati. Karena memang anak-anak itu justru sering menjadi pihak yang menasehati saya. Lewat semangat mereka mengaji, perkembangan kemampuan mereka yang menakjubkan, senyum ceria, doa tulus, semuanya. Ya, anak-anak itu telah menasehati saya tanpa banyak kata. Maka, bukan tidak mungkin bila suatu saat saya diundang lagi, saya akan datang dengan ringan. Tanpa terlalu memikirkan beban ‘tuk menasehati. Karena justru, saya yang akan dinasehati tanpa dilukai dan didoakan tanpa tendensi. Lalu, kursi panas itu, saya simpan tuk sementara.

Oya, sekedar tambahan yang penting. Saya ditawari tuk berceramah bukan karena saya orang yang paling berakhlakul karimah melainkan karena lingkungan saya kekurangan orang baik. Atau lebih tepatnya, banyak orang baik tapi seperti yang sudah saya katakan tadi, tidak banyak yang tahu. Termasuk saya juga tidak tahu siapa saja orang baik di kampung saya sendiri. Jadi, bagi Anda orang-orang baik datanglah ke tempat saya. Atau bagi Anda yang merasa belum baik tapi Anda tahu seseorang yang baik, tolong katakan padanya. “Datanglah ke tempat Bondan. Jadilah teladan bagi anak-anak penerus umat ini.

Iklan

16 pemikiran pada “Kursi Panas

  1. kan udah taktulis. “kadang saya tolak”. 🙂 . jadi ya kadang taktampa. plus, perlu diketahui, latihan dakwah beda dengan latihan public speaking. dakwah bukan public speaking. public speaking hanya salah satu sarana dakwah. termasuk blogging ni . lho kok tekan public speaking :). Btw, thanks for da advice 🙂

  2. “Sampaikan walau hanya satu ayat.”
    Hati2 perlu, tapi saat anda memberi, sbnar’y anda lebih bnyk menerima.
    Nyata’y anda sdh ngerti tu.
    Jd mlh introspeksi diri gtu.
    Coba kalo ga pnh, mlh mgkn gatau soal barter aqidah ma makhluk2 mungil tadi.
    Lanjut pak!! n_n

  3. “Sampaikan walau hanya satu ayat.”
    Hati2 perlu, tapi saat anda memberi, sbnar’y anda lebih bnyk menerima.
    Nyata’y anda sdh ngerti tu.
    Jd mlh introspeksi diri gtu.
    Coba kalo ga pnh, mlh mgkn gatau soal barter aqidah ma makhluk2 mungil tadi.
    Lanjut pak!! n_n
    oya, sy brusan knalan ma org bæk UGM ex smanaga juga.

  4. saya yang makasih mas raden (darah biru kan?) :). itu sudah saya rate up komen panjenengan. jangan kapok maen ke gubug saya ya :). habis ini tak maen ke singgasana panjenengan. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s