Saat Saya Berbuat Baik

Mari sejenak membiarkan imaji ber-ngalor ngidul. Tuk kemudian bertemu dengan kiblat. Inspirasi tulisan ini datang sabtu sore menjelang UM-UGM. Waktu itu saya mendapati kampus saya didatangi banyak tamu. Ada yang datang sendiri, bersama kawan, atau bersama ayah dan saudara. Rupanya mereka peserta UM-UGM yang sedang mencari lokasi tes. Melihat banyak sekali “tamu” yang sedang mencari ruang itu, hati saya tergerak tuk membantunya. Menyapa, menanya, lalu menunjukkan ruang tesnya. Ah, betapa baik saya ini.

Kala itu saya mengenakan kemeja organisasi, yakni OmahTI karena memang saya akan menghadiri acara resmi. Di lengan kanan kemeja itu ada logo UGM terjahit dengan mantap. Logo itu pula yang membuat saya lebih mantap tuk membantu para tamu daripada jika saya memakai kemeja biasa. Bila saya menyapanya lalu sang tamu melihat logo UGM di lengan kanan, tentu sang tamu akan segera paham,”Oh, ini anak UGM yang mau mbantu nyari ruang tes.”. dan urusan saya tuk membantu para tamu, tentu lebih mudah.

Tapi, yang membuat saya tak mantap tuk membantu, ialah ekspresi para tamu itu. Mereka memasang ekspresi “tidak perlu dibantu”. Kebanyakan para remaja itu (menurut saya) tidak ingin dibantu. Mereka sekalian jalan-jalan mungkin. Jadi, tersesat sedikit tak masalah. Karena tersesat dianggap tak masalah, malah mungkin berkah, jadilah saya yang tak mantap tuk menunjukkan arah. Lagipula, waktu itu saya memang sedang mondar-mandir. Bolak-balik kampus tuk membereskan tugas, memenuhi undangan. Jadi, kehadiran saya di kampus waktu itu mirip sekedar numpang lewat saja. Akhirnya, niat baik itu belum menemukan pernyataannya.

Hanya satu hal yang saya temukan. Apa itu? Tuk menemukannya, saya perlu menelusuri niat baik saya ini.Benarkah ia niat baik? Benarkah saya baik hati? Sebelum menjawabnya, mari kita berimaji bila saya benar-benar membantu para tamu.
Bila saya benar-benar menyapa, saya akan menyapa dengan penuh bangga dengan ke-UGM-an saya. Padahal, betapa sering rasa bangga mengalami hiperbola hingga berubah menjadi kesombongan. Saya akan merasa menjadi pihak yang “jelas pandai” karena sudah diterima di UGM. Sedangkan Anda (para tamu maksudnya) belum tentu. Karena ikut tes aja belum. Seiring perjalanan mengantar tamu menuju ruang tes, mungkin saya akan bercerita dengan panjang lebar tinggi (panjang kata,lebar mulut dan tinggi hati) tentang kiat-kiat ujian, kehidupan di UGM, aktivitas kuliah, organisasi, dan sejenisnya. Ya, sejenisnya yang pada ujungnya akan membawa saya pada posisi, “Saya hebat, kamu tidak.”
Saya akan dengan lancar menasehati sang penanya hingga lupa bertanya pada diri “Benarkah orang ini butuh nasehat sebanyak ini?”. Lebih-lebih lagi,“Benarkah orang ini memang butuh pertolongan?”. “Jangan-jangan ia hanya sungkan dan kasihan menolak tawaran saya yang pura-pura ingin membantu?”. Baca sekali lagi. “Saya yang PURA-PURA MEMBANTU.”Lalu, saya akan tergagap pada pertanyaan pamungkas yang saya ajukan sendiri ,”Sudahkah diri ini kau nasihati?”. Ah, kalimat tanya ini serupa senjata yang sering memakan tuannya sendiri.
Jelaslah sekarang. Siapa yang sebenarnya perlu dibantu. Saya. Karena saya sebenarnya tidak berbuat baik, tapi berbuat “baik” (dengan tanda kutip). Betapa tidak, saya memanfaatkan “kerendahan” orang lain tuk merasa tinggi. Saya memelintir ketidaktahuan orang lain tuk menjadi sok tahu. Lalu, saya menodai kebaikan. Hingga kebaikan harus saya beri tanda petik menjadi, “kebaikan”. Karena tindakan yang tadinya saya anggap baik itu, ternyata hanya “baik”.

Saya hanya PURA-PURA MEMBANTU karena saya sebenarnya sedang ingin pamer pengetahuan saya. Sayalah pihak yang perlu dibantu karena kesombongan saya. Lain kata, saya membesarkan diri sendiri dengan kedok membantu orang lain!

Iklan

8 pemikiran pada “Saat Saya Berbuat Baik

  1. wis pokonya mbantu dulu, gak usah tanya niatnya….. sudah bantu aja itu sudah baik, kalau ada niat jelek pasti lama kelamaan niat itu akan luntur,
    selamat membantu,…..ada yg manis gak, heheheheheheh

  2. Berbuat baik memang tidak perlu pamrih. Entah nanti imbalannya di cuekin atau malah tanpa terima kasih. But, hey… thats all good, dude. Keep moving on. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s