Tak Paham Maka Meremehkan

Tak Paham Maka Meremehkan

“Sudah biasa terjadi manusia menganggap remeh apa yang tak dipahaminya.” Begitu kira-kira pernyataan Goethe yang dikutip teman saya, Farkhan Nizami Muthar dalam status facebooknya. Betapa banyak seniman atau ilmuwan yang saking jeniusnya, pemikiran-pemikiran mereka dianggap mustahil. Label “gila” pun disematkan pada mereka.
Kalau kita merenungi apa yang kita alami sehari-hari, sebenarnya ada banyak hal yang belum kita pahami. Hal-hal yang tidak pahami ini penuh di pikiran kita. Menyesakkan akal kita. Ah, bukan akal sebenarnya. Hati kita yang masih belum lapang. Belum siap menampung hal-hal yang belum kita pahami. Tentang mengapa mahasiswa dan ormas Islam demo terus, sedang mahasiswa dan ormas Islam lain sedemikian kalemnya. Tentang mengapa kawan yang selalu menyinggung perasaan kita. Tentang pemikiran atau pendapat seseorang yang tidak lazim. Tentang sikap sahabat kita yang mengambil posisi berseberangan dengan kita. Tentang mengapa Tuhan belum membalas kebaikan yang kita lakukan. Tentang mengapa kita tertimpa musibah hingga harus mengeluh, “Kenapa harus aku?”. Dan tentang-tentang hal lain yang menimbulkan pertentangan batin kita.

Semua itu terjadi karena ketakpahaman kita. Kita tak paham alasan orang bersikap. Kita tak paham kenapa SMS kita lama sekali untuk dibalas. Lalu, mengapa kita tidak meminta kepahaman? Mungkin pulsanya habis. Mengapa kita tidak bertabayun atas kabar burung? Mengapa kita tidak sejenak melapangkan dada, memasang telinga, mendinginkan kepala tuk mendengar penjelasan pihak yang kita sudutkan?

Kita tak paham bahwa Tuhan tak memerlukan kebaikan kita. Kitalah yang perlu. Kita tak paham bahwa kita hanya dituntun-Nya. Maka, kita merasa bisa “menghadiahi” Tuhan dengan kebaikan yang kita bangga-banggakan. Kita tak paham. Hingga berpikir,”Nih Tuhan, saya dah berbuat baik. Cepat bayar kebaikan saya!!” Ya, kita tak paham, atau setidaknya lupa terhadap kuasa Tuhan. Maka, kita meremehkan-Nya. Meremehkan kemahaan-Nya dalam membalas setiap amal. Padahal, kitalah yang harusnya diremehkan.

Maka, wajarlah bila kita menggerutu jika tertimpa musibah. Itu karena kita belum menangkap hikmah. Kita memang manusia yang lemah. Jadi, ambillah hikmah di balik segala musibah dan anugerah. Kita pun akan memahami rencana Tuhan yang tak pernah salah. Hingga, hidup pun menjadi indah.

Lalu, terhadap hal-hal yang kita belum pahami, janganlah ia kita remehkan. Cukuplah kita sediakan ruang “Hal-hal yang belum saya pahami.” Di hati kita. Tuk kemudian meminta pada Sang Maha Ilmu berkenan membuka kepahaman kita.

Tapi tunggu dulu, bagaimana jika Allah tetap belum membuka kepahaman kita? Tenang, bukalah prasangka positif kita. Mungkin satu hal itu lebih baik di mata Allah tuk tidak kita pahami. Karena, memang tak semua hal memang perlu kita pahami. Nah, lihat kan, ternyata di balik ketakpahaman pun tetap menyisakan hikmah. Jadi, jika kita tetap tak paham berbagai rahasia hikmah Ilahiah, jangan resah .

Iklan

14 pemikiran pada “Tak Paham Maka Meremehkan

  1. Pertamaxxx!
    Mangstab jaia!
    Sama2 keluar di dasbor blog saya.
    Sama2 apdet ilmu ke situs maya.
    Bgmana kabarnya?
    Semoga sukses dan penuh berkah dariNya.
    Tak lupa doa.
    Bahwa anda hikmah utama pembaca setia.
    Kapan2 pengen saya ajak bicara.
    Soal hikmah dunia usaha.
    Hahaha.
    Ra nyangka kancaku dadi terkenal akan tulisan hikmah’y. Hiks! *trenyuh*

    1. wah, selamat dapat pertamax 😀
      oh, habis update blog ya. habis ni tak gantian mampir 🙂
      alhamdulillah sedang menjalani kehidupan. berjalan ke berbagai arah, menjumpai hikmah.
      aamiin.
      DUNIA USAHA ATAU USAHA DUNIA? hehe. siap.
      wah, mesti berhati-hati dengan popularitas. sesuatu yang sedang saya jauhi di perkuliahan ini.
      malas! (salam dibalik)

  2. benar sekali sobat, jika terjadi sesuatu kita cepat-cepat berprasangka negatif, tidak mau memahami keadaan orang lain, mungkin orang lain juga bertanya-tanya tentang kita : kenapa kok kita menyakiti mereka ? kenapa kok kita belum bales sms-nya ? dan lain-lain.
    Satu hal lagi jika Tuhan tidak menghitung-hitung kebaikanNya kepada kita, mengapa seringkali kita memperdagangkan kebaikan kita denganNya, kita sudah berbuat baik maka DIA harus membayarnya ?

    salam kenal, sekalian kunjungan balik, trimakasih sudah mampir ke blog saya 🙂

  3. iya ya..ALLAH itu ga btuh apa2 dari kita..tapi kita yang butuh ALLAH..
    sering itu dilupakan..makanya sering menggerutu dan meremehkan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s