Keindahan Yang Berbeda

Keindahan yang Berbeda

Gedung kampus saya terbangun dari dua lantai. Bangunan tua. Cagar budaya katanya. Tak boleh direnovasi. Katanya. Temboknya tebal, jendela besar, khas bangunan kuno. Di lantai dua ini, di bagian depan sayap gedungnya, saya biasa duduk. Istirahat sejenak bersama kawan menanti kuliah selanjutnya.

Pemandangannya begitu indah. Namun, jangan disangka pemandangan indah yang saya maksud ialah pemandangan yang penuh dengan hijau dedaunan. Atau pemandangan yang disangga kokohnya batang-batang kayu nan teduh. Bukan pula dihiasi semilir angin pembawa embun. Juga bukan ditambah indah dengan sepi. Pemandangan yang ini berbeda. Tapi tetap indah. Justru makin indah dengan kebedaannya.

Ia penuh dengan merah atap rumah dan gedung. Disangga dinding-dinding berwarna semen. Angin penyejuk pun harus bertarung dengan sengat matahari. Klakson-klakson kerap menyapa. Karena memang dari teras ini, saya leluasa menatap kemacetan di perempatan. Pemandangan yang saya bilang indah ini, ternyata pemandangan khas kota yang katanya banyak dibenci. Kesejukan yang saya maksud ini, justru dihiasi aura kemarahan yang banyak dihindari.

Setiap kali saya beristirahat di teras lantai dua ini, saya menatap indahnya kedinamisan hidup. Gerak. Daya. Melihat mahasiswa-mahasiswa yang berjalan di bawah terik dan polusi membuat badan saya yang hampir terlena tuk bermanja dengan istirahat, kembali menemukan kemandiriannya. Semangat dinamis kehidupan mereka enggan meredup terbakar mentari. Bahkan dalam menatap Pak Satpam yang diam di posnya pun saya tetap melihat kedinamisan. Tentang tangannya yang sigap memberi karcis, tentang obrolannya mengenai keluarga, biaya sekolah, biaya hidup, dan politik.

Kepahaman saya tentang keindahan makin mendalam. Tadinya saya beranggapan indah itu hanya ada pada kesejukan. Ternyata gersang pun membawa indahnya sendiri. Semula saya menduga hidup ini indah bila selalu mudah. Ternyata kesusahan juga membawa indah. Tadinya saya menyangka khusyu itu hanya ada saat kita terbasuh segarnya air wudlu. Ternyata Allah tak ragu memberi khusyu saat kita gerah hingga bermandi keringat. Sebelumnya, saya menyangka puncak sensasi spiritual hanya ada saat kita mengasingkan diri dari kehidupan “duniawi”. Ternyata ia tetap menghampiri kala kita lengket dengan hal-hal duniawi.

Tadinya saya mengira ibadah itu hanya saat kita beraktivitas, ternyata istirahat bahkan diam pun bisa sebagai ibadah. Semula saya menyangka bisa menduga kapan dan di mana datangnya keindahan. Ternyata tidak, keindahan itu misterius. Dan ternyata, sebenarnya saya tak bisa menduga. Semua dugaan saya, ialah keliru belaka.

Iklan

6 pemikiran pada “Keindahan Yang Berbeda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s