Wanita Berjilbab Punky

Perjumpaan saya dengan wanita berjilbab ini terjadi beberapa waktu lalu. Saat menghadiri Seminar Mahasiswa Wirausaha 2010 tanggal 9 Maret kemarin. Selain soal wanita berjilbab tadi, ada hal berkesan yang saya alami. Pertama, baru duduk beberapa menit, saya diusir peserta lain yang ternyata sudah “memesan” bangku yang sedang saya duduki. Tapi, beliau pergi sebentar. Katanya lagi, beliau sudah hadir duluan bersama rombongan. Tapi, pikir saya, salah sendiri kenapa tidak ada yang menjaga. Seluruh rombongan meninggalkan kursi yang “sudah dipesan” itu tanpa menyisakan orang tuk sekedar menjaga kursi dengan memberi tahu saya,”Tempat ini sudah ada yang menduduki.”. Agak menjengkelkan sebenarnya. Tapi saya enggan memperpanjang urusan. Dan membingkai kemangkelan hati ini dengan prasangka positif. “Pasti ada hikmah yang lebih”, batin saya.

Benar saja, setelah diusir, saya cari tempat duduk lain. Agak di belakang. Tapi ternyata malah dekat dengan microphone. Memudahkan saya tuk bertanya. Alhamdulillah. Itu hikmah pertama. Hikmah kedua, pada sesi berikutnya, saya sengaja pindah ke barisan paling depan. Dan beberapa menit setelah saya duduk, bukannya diusir, tapi malah pembicara utama, yakni Jaya Setiabudi, duduk tepat di samping kiri saya. Ngobrol-ngobrol singkat. Mencuri start dapat ilmu nih. Haha.

Sebelumnya, saya sempat melihat Mas Jaya duduk di dekat MC. Sepertinya sedang mengonfigurasi laptopnya. Tadinya saya sempat “cemburu” kepada MC. Karena Mas Jaya si pembicara sempat duduk di sampingnya cukup lama. Tapi entah mbak MC hanya diam saja. Tidak melakukan “wawancara”. Saya sempat berpikir, ”Ada kesempatan emas kok disia-siakan. Kalo saya yang duduk deket pembicara, pasti saya tanya-tanya.” Mungkin sang MC tetep diem karena konsenstrasi penuh dengan tugasnya. Karenanya, jika ia memaksa diri tuk berwawancara, mungkin ia akan lalaikan tugasnya dan tentu merugikan ratusan peserta seminar hanya untuk memenuhi egonya. Apapun, akhirnya kesampaian juga duduk dekat pembicara. Kali ini pun agak berbeda. Didekati. Bukan mendekati. Senanglah hati ada sumber ilmu mendekat.

Ah, tapi rasa senang saya duduk bersama Mas Jaya tidak sebanding dengan sensasi saya menatap wanita berjilbab punky itu. Mari saya jelaskan kenapa saya menyebutnya punky. Alias mirip punk. Ia berlipstik hitam. Matanya pun dirias hitam cukup tebal. Dan kacamata tanpa frame-nya itu tampak lebih tebal. Pertama kali melihat dandanannya sudah membuat saya merasakan sensasi pertama. Shock. Berpikir,”Kok ada wanita berjilbab yang mau dandan seperti itu?”. Bukan merendahkan. Hanya kaget. Tak menyangka. Seperti kalau kita melihat teman kita yang amat pendiam, bersikap formal, tiba-tiba berjoged kesana kemari.

Amboi, saya segera menundukkan pandangan. Bahkan punggung pun saya tundukkan karena menatap wanita berjilbab itu. Bukan karena ajaran ghadhul bashar terhadap lawan jenis. Ketertundukkan saya lebih karena saya ga kuat. Ga kuat karena timbul rasa melas. Rasa kasihan. Rasa iba. Seperti rasa iba saya saat menyembelih ayam. Atau rasa iba saya yang muncul begitu melihat kaum yang di-lemah-kan.

Kenapa saya justru iba menatapnya? Begini, wanita itu bertugas membagikan hadiah di sesi kuis. Dan lazimnya pembagi hadiah, ia akan bertampang cerah. Menebar senyum. Tapi lagi-lagi pandangan saya didobrak oleh beliau. Pembagi hadiah yang harusnya tidak sekedar membagi hadiah tapi juga membagi keceriaan ini malah menampilkan hal yang sebaliknya.

Dahinya berkerut. Seakan memicingkan mata. Mungkin penglihatannya tidak terlalu jelas meski sudah dibantu kacamata. Tanpa senyum. Selalu serius. Ah, begitulah pokoknya. Saya belum mampu menggambarkannya dengan baik.

Ekspresinya yang selalu memicingkan mata, pasif, dan tampak seperti orang bingung itu membuat saya makin melas. Berpikir, “Jangan-jangan mbak itu ga pede dengan gaya punk-nya.”. “Jangan-jangan mbak itu bekerja karena terpaksa.” Dan berbagai “jangan-jangan” yang lainnya yang membuat saya makin melas.

Lalu, sejurus kemudian, rumus “jangan-jangan” tadi malah menampar muka saya. Senjata makan tuan. “Jangan-jangan saya yang perlu dikasihani.” Mengapa? Lihatlah, wanita tadi sudah punya penghasilan sendiri. Wanita itu mungkin sudah berlatih menjadi tulang punggung keluarga. Sedangkan saya?

Wanita itu telah berhasil mengekspresikan rasa iba terhadap diri sendiri dengan baik. Pantang jadi beban. Malu jadi benalu. Itu ekspresi rasa iba terhadap diri yang baik.

Iklan

16 pemikiran pada “Wanita Berjilbab Punky

  1. Kita memang perlu “skill khusus” untuk bisa “ngerti” orang yang memakai “topeng kehidupan”, sehingga tidak langsung menghakimi “topeng” yang dipakainya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s