Tawon Pak Mario Teguh

Sebenarnya tulisan ini ingin saya upload akhir Februari lalu. Tapi, tulisan ini masih harus mengantri dengan stok tulisan saya yang lain.

Jadi, sekitar 2-3 minggu lalu, saya disengat tawon. Pergelangan tangan kiri saya sedikit membengkak beberapa hari. Cukup sakit rasanya. Tapi, daripada saya menyiakan lisan ini tuk mengeluh dan mengutuk, mending saya cari hikmahnya dan membagikannya pada pembaca sekalian.

Melihat tawon itu saya menjadi ingat karakter mukmin yang diserupakan tawon. Dapat mengambil madu tanpa merusak bunga, justru membantu penyerbukannya. Ihwal inilah Allah yang Maha Tahu akan seluruh ciptaan-Nya membanggakan makhluk-Nya yang satu ini. Tanpa ragu Allah memasangnya sebagai nama salah satu surat-Nya tuk kita belajar dari-Nya.

Nah, di ayat ke 125 surat Tawon itu kita mendapati pedoman-pedoman dakwah. Pertama, sampaikan dengan hikmah, lalu nasihat yang baik, terakhir diskusi dengan penuh etika. Pedoman-pedoman inilah yang mungkin coba diterapkan Pak Mario. Dengan keteguhannya menjunjung kedamaian, membingkai prasangka dengan berpikir positif, dan tak pernah lupa memberi apresiasi “Good”, “Super”, seusai “mendebat” lawan bicaranya. Tanpa terasa, Pak Mario telah menyengat dengan senyum dan kehalusan budinya.

Salah satu yang membuat saya kembali tersengat setelah tersengat betulan waktu itu, ialah setelah saya membaca salah satu Super Note di fan page Facebook Pak Mario Teguh. Di situ ibu Lina, istri Pak Mario, menyampaikan testimoninya. Saat ibu Lina keheranan mengapa suaminya tetap menyampaikan permintaan maaf meski yang ia sampaikan itu benar adanya? Dari jawaban Pak Mario saya tahu bahwa, meski yang kita sampaikan ialah kebenaran, tapi jika cara yang kita sampaikan mengganggu kedamaian orang lain, kita wajib meminta maaf.

Sengatan yang ini membuat saya merasa lemas. Ingin rasanya saya mundur dalam menyampaikan kebenaran. Saya khawatir, kelakuan pribadi ini justru mencederai keindahan kebenaran. Saya cemas, bila cara yang saya gunakan, membuat orang antipati dengan kebenaran.

Hahh… sedikit saya bisa bernapas lega. Setelah ingat bahwa yang bisa menghujamkan kebenaran kepada orang lain bukanlah kita. Tetapi jelas, hanya Sang Pemilik Kebenaran yang mampu. Kita hanya perlu menyampaikannya sesuai kemampuan. Tak perlu ngotot memaksa semua orang di dunia ini alim semua.

Tapi kelegaan itu hanya berlangsung sementara. Saya ingat tahap memikirkan cara atau metode itu tahap kedua. Tahap pertama ialah memastikan apa yang kita sampaikan adalah kebenaran. Dan saya, dengan kemampuan seadanya ini, sebelum bertanya “Bagaimana cara menyampaikannya?”, masih harus bertanya pada diri berulang-ulang.”Apakah yang saya sampaikan in benar-benar BENAR?”.

Iklan

10 pemikiran pada “Tawon Pak Mario Teguh

  1. Benar, kebenaran mutlak hanya ada pada Allah Subhanahu wa ta’ala . Manusia tidak akan memperoleh kebenaran tanpa mempelajari dan memahami serta menjalankan secara benar akan kebenaran hukum-hukum-Nya. Kebenaran bagi manusia adalah kebenaran yang Allah ridha, yaitu melalui agama yang Allah ridha pula. Jadi kebenaran hanya dapat ditempuh dengan agama Allah yang sudah memiliki nama resmi dan diridhai, yaitu Islam. Tidak Nasrani, tidak Budha, tidak pula Hindu.

    “Sesungguhnya agama (yang diakui) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. 3:19)

    “Dan Aku hanya ridha Islam itu manjadi agama bagimu.” (QS. 5:3)

    Jadi hanya dengan agama Allah manusia bisa menyelamatkan diri dari ketidak benaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s