Satu Maret

Hari ini merupakan hari yang bersejarah bagi diri saya. Bukan hanya karena saya berencana melakukan beberapa perubahan tuk kemajuan diri, tapi juga karena ternyata perubahan itu membawa keharuan tersendiri.

Salah satu tetenger atau tanda momentum perubahan saya ialah bahwa mulai hari ini saya akan mendapat cap baru yakni sebagai anak kos. Selama satu semester kemarin saya masih setia untuk menglajo jogja magelang. Orang tua saya enggan melepaskan anak terakhirnya ini. Saya mafhum. Kakak pertama dan kedua saya sudah menikah. Tentu sudah jarang menyambangi rumah. Kakak ketiga saya, sibuk kuliah hingga hampir lupa rumah. Meski saya tahu ia selalu rindu rumah. Praktis, saya menanggung tugas yang membanggakan. Menjadi putra terakhir. Bertugas menemani orang tua saya di hari-hari tuanya. Saya sering membayangkan. Kakak-kakak saya yang sudah tidak di rumah. Menempuh dunia barunya di bumi Allah yang luas. Dan saya, tetap akan menjaga orang tua saya. Tetap akan tinggal di rumah penuh perjuangan ini. Saya tidak akan iri dengan kawan-kawan saya yang membangun diri di luar sana. Saya ingat kisah seseorang. Ia memilih di rumah menjaga ibunya yang sudah tak kuat berjalan. Padahal gejolak jiwa mudanya menggelora. Ia ingin bersama teman-temannya merantau tuk mencari ilmu. Tapi takdir membuatnya tetap di rumah. Dan takdir pun kembali menyapanya dengan indah. Ternyata ada sosok guru mumpuni yang berkenan mengunjungi rumahnya. Memuaskan dahaga ilmu pemuda tadi. Dan saya yakin, takdir indah tadi juga menyapa diri ini.

Sekedar di rumah tampak mudah. Namun, hal itu tidak mudah bagi saya. Bukan karena saya harus ikut mencuci, menyapu, membuatkan minum, dan sejenisnya. Orang tua saya jauh-jauh hari sudah menyampaikan pada saya. Bahwa yang mereka maksud menemani bukanlah harus repot-repot mengerjakan hal-hal tadi. Cukup saya ada di rumah. Mengantar kepergian mereka, dan menyambut kepulangan mereka. Cukup. Menjadi orang pertama yang mencicipi masakan ibu, sudah cukup. Menjadi pendengar kabar-kabar dari bapak saya, sudah cukup. Yang menjadi sulit ialah menjadi anak rumahan. Saya yang sudah terbiasa dengan banyak kegiatan di luar waktu SMA, tiba-tiba harus “dipingit”. Itulah yang sulit. Tapi tak mengapa. Kesulitan saya tak sebanding dengan kesulitan orang tua saya akibat ulah saya.

Lalu, musim hujan datang. Saya sering pulang dalam keadaan kehujanan. Dan yang terakhir, saat saya lupa membawa mantel hujan. Buku-buku saya ikut basah. Lalu, orang tua saya kasihan melihat saya seperti itu. Ringkas cerita, orang tua saya mengizinkan saya untuk kos. Setelah rencana itu tertunda dua bulan.

Anehnya, setelah ada kepastian bahwa saya akan kos, justru saya yang kehilangan kemantapan hati untuk kos. Entahlah, saya yang sekarang tidak tega meninggalkan beliau. Ah, tapi itulah yang biasa terjadi setelah kita membuat keputusan. Selalu saja ada tiupan kegamangan menggoda. Menggoda kita untuk membatalkan, atau melanjutkan keputusan.

Lalu, pagi tadi, ketika saya akan berangkat kuliah dari rumah, saya merasakan kejanggalan. Saya masih belum percaya bahwa mulai hari ini saya sudah menginap di kos saya. Huh, kegamangan datang lagi. Ia membuat saya berkeinginan tuk menunda. Mulai mengingap esok hari sajalah, pikir saya. Ya, tapi saya juga sudah kenal watak keinginan. Ia tak harus selalu dituruti. Bahkan bila ia berupa kebutuhan, kita masih perlu bertanya, “Benarkah saya membutuhkannya?”.

Saya mulai bersiap. Seperti biasa, Ayah saya yang baru pensiun akhir Januari lalu, selalu bertanya, “Ada yang ketinggalan?”, lalu mulai mengecek perlengkapan saya. Seperti biasa. Ayah saya memang orang yang ceria. Suka melucu malah. Saya belum pernah melihat beliau bersedih dan menangis terharu. Maka, saya merasa wajar saja saat melihat Ayah saya melepas diri ini dengan senyuman. Bukan tangisan. Itulah ekspresi sayang ayah saya.

Kemudian, saya menuju SD Blondo 1, tempat ibu saya bekerja. Saya sudah mengabari beliau bahwa saya akan berpamitan. Saya sempat berpikir momen pamitan ini akan menjadi momen yang mengharukan. Watak ibu saya memang begitu. Saya pun berkendara dengan perasaan yang berbeda. Perasaan yang aneh hingga saya tidak bisa menyiapkan diri akan apa yang akan saya katakan dan lakukan tuk berpamitan nanti.

Keyakinan tentang momen keharuan tadi makin meningkat setelah tak seperti biasa, ibu sudah melongokkan kepala mulianya di pintu. Saya yang masih belum menginjakkan kaki pun harus bersiap diri. Ini akan mengharukan. Ibu saya tersenyum dari kejauhan sejak saya melepas helm. Saya melangkah mendekati beliau sambil tertunduk. Takut jika saya menatap ekspresi beliau lama-lama, air mata saya sudah jatuh membasahi jalan tanah yang saya tapaki.

Saya masuk ke ruangan beliau. Bersalaman. Mencium tangannya. Ibu saya lalu menyampaikan pesan-pesan yang sulit. Selain karena isinya, tapi juga bagaimana beliau menyampaikannya. Sulit karena beliau harus menahan air matanya. Saya pun tidak seperti biasa. Kehilangan kata untuk menjawab. Usaha saya tuk belajar mengolah kata, seakan malu menunjukkan diri. Tuk tidak dikatakan lenyap begitu saja. Ah, rasa kehilangan daya ini memang kerap menghampiri saat saya menghadap Sang Pemilik Daya. Dan yang sekarang saya hadapi ialah sosok yang ridho Sang Pemilik Daya juga tergantung ridho sosok ini. Sosok yang …. ah. Saya benar-benar bingung. Apa kata yang tepat tuk menggambarkan sosok ibu saya ini.

Saya pun berpamitan. Melangkah keluar. Dengan tatapan yang tidak biasa dari ibu saya ini. Seperti di film-film saja rasanya. Hanya saja, film yang ini, disutradarai oleh Zat yang tidak sembarangan. Saya akan menontonnya lagi kelak.

Tulang pipi saya terasa pegal. Menahan air mata ini tidak tumpah. Tapi sekitar sepuluh menit kemudian, saat saya sudah sampai di Muntilan, air pertama meleleh. Tak saya sangka akan menjadi seharu ini.

Saya harus segera bangkit. Tidak berasyik diri di dalam keharuan. Saya hanya bisa berdoa. Berharap agar air mata haru ibu saya, tidak berubah menjadi air mata sedih. Sedih karena anaknya ini tidak memperhatikannya. Sedih karena saya menyia-nyiakan perjuangan beliau tuk melepas anaknya yang nakal ini.

Saya harus tetap sering pulang. Tapi bukan pulang yang sembarangan. Pulang dengan membawa keberhasilan. Pulang dengan kegembiraan. Pulang dengan kemandirian. Pulang dengan kecemerlangan kuliah saya. Pulang tuk mengemban kembali tugas yang mulia. Menemani orang tua. Semua keberhasilan “di luar” takkan berarti jika membuat orang tua saya merasa kesepian.

Semoga, air mata haru sang ibunda, berubah menjadi air mata kebanggaan. Bahwa beliau tidak salah melepas. Karena apa yang kita lepas tuk kebaikan, akan selalu kembali dalam keadaan yang selalu lebih menentramkan.

Iklan

7 pemikiran pada “Satu Maret

  1. dhek jaman semono aku yo penglaju bolak-balik Yoja-Mgl tak lakoni antawise nganti tekan 8 tahunan…..
    ning yo alhamdulillah dadi gemblengan kang dadi kekuatane urip!

    mat jadi anak kos………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s