Memotivasi Sesuai Fase

Ada sehadits nabi, “Bukanlah kaya itu kaya harta, melainkan kaya hati.” Tentu saja benar. Bagi orang yang meyakininya benar. Dan benar pun belum tentu tepat. Bener ning ora pener kata orang Jawa. Benar tapi tidak tepat. Tepat di sini saya maksudkan dalam konteks memotivasi. Gimana bisa tidak tepat?

Kalau kalimat mulia tadi diucapkan pada kepala keluarga yang sedang malas cari uang halal, sangat mungkin malah disalah guna tuk menjustifikasi kemalasannya. Anak istri yang sedang kefakiran pun mungkin jadi kafir karena berpikir “Islam kok malah ngajari males?”.

Lain halnya jika orang yang mendengar itu orang yang justru stres karena banyak uang. Si kaya harta ini lalu bersedekah. Eh, atas izin Allah hidupnya lebih plong. Plong karena hatinya merasakan barokah, bisnisnya makin wah, rizkinya bertambah melimpah ruah. Ia akan termanggut-manggut membenarkan sabda Nabi tadi.

Begitu juga saat Nabi Muhammad Saw memotivasi Ibnu Mas’ud. Sahabatnya yang berotak cerdas. Ibnu Mas’ud ini sangat haus ilmu. Ia akan rela melakukan apa saja yang halal tuk dapat ilmu yang juga halal.

Pada tahap awal, Nabi Muhammad menyabda bahwa kalau dekat dengan Allah, dekat pula dengan ilmu. Karena Allah sumber ilmu. Amati, di sini Allah justru dijadikan (maaf) media. Si pemuda haus ilmu berpikir “Pokoknya saya harus dapat ilmu. Ternyata sumber ilmu itu Allah. Ya sudah ah, kudekati Allah biar dapat ilmu.”

Pada fase berikutnya, Sang Nabi mulai memurnikan keikhlasan. Beliau membentuk kesadaran. “Oh, ilmu itu –hanya- tool untuk mendekati Allah. Jadi, jangan sampai terjerumus menghalalkan segala cara tuk dapat ilmu. Itu namanya sudah menuhankan ilmu. Bukan Pemberi Ilmu.”

Kemudian, keikhlasan makin dimurnikan. Dengan menyampaikan kabar dari Allah. Bahwa di surga ada ahli ilmu yang diadili Allah. Ia ditanya Sang Maha Tahu apa motivasinya mencari ilmu. Sang ahli ilmu pun menjawab,”Tentu karena-Mu.”. Allah pun menghardik,”Bohong! Kamu mencari dan mengajar ilmu supaya disebut ahli ilmu! Orang-orang sudah menyebutmu demikian. Itulah tujuanmu (gelar ahli ilmu). Bukan Aku.” Dan Sang Ibnu Mas’ud pun makin tersungkur meminta agar Allah menuntunnya ikhlas.

Hemm.. mungkin pembaca ada yang ngeri membaca tahap barusan. Saya pun demikian. Lalu, apa yang kita lakukan? Kalau saya, bersabar dan bersyukur dengan fase yang diberikan Allah. Saya rasa, saya masih di tahap pertama. Masih sering menjadikan karunia atau bonus menjadi tujuan. Sholat itu bonusnya tentram, eh malah saya mencari-cari tentram. Lupa dengan Pemberi Ketenangan. Sedekah itu sangat multi manfaat, eh malah kebablasen menuhankan sedekah, ikhtiar, dan (parahnya) diri ini. Merasa “Oh, pantas rejeki SAYA melimpah, karena SAYA kan rajin sedekah, kerja.” Dan sejuta pengakuan yang lain.

Wallahu musta’an.

Iklan

6 pemikiran pada “Memotivasi Sesuai Fase

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s