Belajar dari Saintis

Tulisan kali ini merupakan catatan saya setelah membaca pidato Richard Hamming di Bellcore tanggal 7 Maret 1986. Richard Hamming adalah asisten peneliti di Bell Labs. Ia telah mendampingi berbagai macam ilmuwan fisika, kimia, matematika, yang mumpuni.

Apa yang disampaikan di sini memang diambil dari para saintis. Tapi, sebenarnya kiat-kiat yang ada bisa diterapkan di berbagai bidang.

“Luck favors the prepared mind.
Louis Pasteur

Pertama, Richard menepis anggapan bahwa penemuan-penemuan ilmiah yang bersejarah lebih karena faktor keberuntungan. Banyak orang yang menganggap demikian. Namun, ia menyangkalnya. Ia menyatakan bahwa ungkapan keberuntungan tadi terlalu merendahkan.

Ia tidak sama sekali menyangkal keberuntungan. Hanya, ia berusaha menempatkan keberuntungan itu dalam porsi yang lebih “logis”. Richard tidak ingin orang hanya mengharapkan keberuntungan tanpa usaha. Ia menyitir kalimat Louis Pasteur yakni “Keberuntungan akan menghampiri pikiran/ orang yang telah siap.”

“If others would think as hard as I did, then they would get the same results.”
Newton

Kedua, Richard menyampaikan salah satu ciri yang dimiliki orang-orang sukses termasuk yang ia sebut “great scientists”. Para ilmuwan hebat ini menurutnya pada masa remajanya telah memiliki visi yang hebat. Dan yang tidak kalah penting, mereka memiliki keberanian dan komitmen yang hebat tuk mewujudkannya.

Keberanian para saintis dalam melakukan riset ini tidak kalah dengan pendaki gunung atau olah raga ekstrim lainnya. Lihat saja, banyak kisah para ilmuwan ini pernah dicaci, mengalami kebakaran, dikucilkan, dianggap sesat, bodoh kala berusaha mewujudkan mimpi mereka. Ya, keberanian para saintis ini ditunjukkan saat mereka mengalami keadaan yang sangat sempit. Mereka terus menerus berpikir dan berpikir mencari solusi.

Poin keberanian ini, menurutnya, sebenarnya dimiliki semua orang. Kita hanya perlu memompanya sedikit demi sedikit dengan keberhasilan-keberhasilan kecil. Kesuksesan-kesuksesan kecil ini akan sangat meningkatkan kepercayaan dan keberanian diri. Dengan visi, keberanian ini akan terarah.

“You have got to do it when you are young or you will never do it.”
Fisikawan

Hal ketiga yang ia sampaikan ialah faktor usia. Dalam dunia sains, banyak sekali penemuan hebat dihasilkan saat sang ilmuwan masih muda. Bukan karena para ilmuwan ini berkurang kemampuannya saat memasuki usia senja, melainkan entah mengapa penemuan-penemuan mereka yang dikenang publik sebagian besar merupakan penemuan mereka saat masih muda. Namun, Richard tidak menutup mata pada bidang keilmuan lain yang justru makin tua makin matang. Seperti keahlian dalam politik dan sastra.

Masa muda inilah yang menjadi kunci. Richard mengamati, ilmuwan yang pada masa mudanya pernah memperoleh penghargaan, akan “terbebani” secara positif untuk terus menerus meningkatkan kompetensinya. Para ilmuwan ini merasa ada “hutang” tuk mempersembahkan karya yang lebih bermutu. Jika masa mudanya sudah terkondisi menyempurnakan karya (bukan hanya asal berkarya), wajar saja ia makin ahli semakin hari.

Tapi, Richard juga menyampaikan banyak ilmuwan yang gagal membayar hutang karya ini. Mereka terbelenggu apa yang saya sebut “Citra Kesuksesan”. Mereka merasa harus selalu berhasil. Seolah-olah jika mereka gagal, citra mereka akan menurun. Padahal, dalam riset, gagal adalah kewajaran. Para ilmuwan penunggak utang itu kehilangan karakter keberhasilan mereka. Yakni berani gagal (dan sukses tentunya).

“The ones you WANT, aren’t always the BEST for you.”
Anonim

Poin ini masih berkaitan dengan sebelumnya. Ilmuwan yang meraih penghargaan ini, kemudian sering difasilitasi berbagai pihak. Kondisi yang nyaman dan memudahkan ini sering justru melemahkan mereka. Comfort zone alias zona nyaman justru membuat mereka menjadi kurang prihatin dan bekerja keras. Motivasi melemah. Tentu saja ini membuat produktivitas menurun drastis.

Richard telah mengamati. Mahasiswa yang “super” menjadi “biasa” saat dikelilingi fasilitas yang memudahkan. Hal ini terjadi di Universitas Princeton dan Cambridge. (Perlu diingat, pidato ini dibuat pada tahun ’86. Entah bagaimana kondisi sekarang.)

Berbeda saat mereka masih dalam kondisi serba terbatas. Keterbatasan-keterbatasan mereka ubah menjadi keunggulan. Begitu langkah terhenti, para saintis ini terus berpikir “Mengapa tidak bisa?”. Mencari solusi, mencoba, gagal, coba, terus menerus hingga berhasil.

“He had tremendous drive.”
“Knowledge and productivity are like compound interest.”

Richard Hamming

Kutipan pertama, “He had tremendous drive.” Menggambarkan rekan Richard, John Tukey, yang sangat memiliki energi lebih. Ia menggambarkan bahwa para saintis hebat itu sangat bekerja keras. Dan, Richard menyampaikan bahwa ilmu pengetahuan dan produktivitas tak ubahnya seperti bunga pajak yang masih ada bunga pajaknya lagi. Bunga berbunga. Misal, jika ada orang yang berkemampuan sama, tapi yang satu selalu menyediakan satu jam per hari tuk mengasah diri, ia akan jauh lebih produktif seumur hidup dibanding rekannya. Jika hari ini kita menguasai 1 %, besok belajar 1 % lagi, bukan 2 % yang didapat, tetapi lebih.

Perkataan dari kawannya yang bernama Bode ini ia resapi dalam-dalam. Sejak saat itu Richard selalu berusaha tuk sangat-sangat menghargai waktu dan faktanya, ia dapat menyelesaikan lebih banyak pekerjaan.

“Just hardwork is not enough, it must be applied sensibly.”
Richard Hamming

Poin keenam, merupakan lanjutan dari poin sebelumnya, kerja keras. Richard melihat banyak sekali rekannya yang bekerja sama keras atau bahkan lebih dari dirinya, tidak begitu sukses. Itu karena mereka tidak open minded. Enggan mencari wawasan, info terbaru tentang masalah-masalah yang masih relevan tuk dipecahkan, dan sejenisnya. Rekan-rekannya ini seolah berlari dengan kerja kerasnya, tapi sayangnya menuju arah yang salah.

Terakhir, Richard pernah mengajukan tiga pertanyaan pada seorang rekannya. Tiga pertanyaan ini ternyata mampu mengubah sang rekan yang awalnya merupakan “ilmuwan biasa” menjadi “ilmuwan luar biasa”. Apa saja tiga pertanyaan tersebut? Silakan baca di artikel saya berjudul “Tiga Pertanyaan Pemacu Kesuksesan“.

Iklan

Satu pemikiran pada “Belajar dari Saintis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s