Bangjo Salam, Salam Bangjo

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Hari Kamis kemarin saya pergi ke kampus di Jogja untuk rapat. Karena saat itu masih jam pulang kerja, jalanan cukup padat dan banyak yang ngebut meski hujan cukup deras.

Singkat cerita, saya sampai di daerah Salam. Saya berhenti di perempatan. Lampu merah di daerah ini sering tidak dipatuhi. Banyak sekali pengemudi yang menerobosnya. Memang, sering perempatan ini sepi. Tapi toh ini bukan alasan pembenar tuk menerobos.

Nah, di sore itu memang pada awalnya para pengendara mematuhi lampu merah ini. Mereka berhenti di tengah guyuran hujan. Termasuk sebuah bus umum berkesempatan mengangkut siswa MAN yang baru saja pulang sekolah. Ketidaktertiban dimulai saat bus umum ini berjalan, menerobos lampu merah. Sontak banyak kendaraan lain mengikuti. Sebenarnya ini sudah kerap terjadi di perempatan tersebut.

Saya coba tetap berhenti. Truk di sebelah kanan saya pun demikian. Saya penasaran apa yang akan terjadi. Apakah saya akan diklakson, dibentak pengemudi di belakang saya? Atau tidak? Kalau biasanya sih tidak. Mungkin karena cuaca cerah. Gimana kalo sedang hujan deras plus usai jam kerja? Akankah terjadi ketidakteguhan mental para pengemudi? Lalu saya mempersiapkan diri agar tidak kaget saat diklakson atau dibentak-bentak.

Benar saja, beberapa detik kemudian banyak pengendara di belakang saya dan truk tadi banyak yang meri (iri) ingin ikut ngeblong (bukan ngeblog). Hujan air pun ditemani hujan klakson. Beberapa saat kemudian ada dua pengendara sepeda motor yang mendahului saya, ngeblong. Sambil menunjukkan ekspresi dan teriakan kemarahan pada saya. Tapi karena saya sudah siap, ya no problem (ga tahu kalo belum siap gimana). Saya makin fokus aja mewaspadai kalo tiba-tiba si lampu hijau menyala. Begitu lampu hijau menyala, saya ingin segera jalan hati-hati. Itung-itung tuk meredam kemarahan “makmum” di belakang.

Tidak sampai sepuluh detik setelah dibentak dua pengendara tadi, si hijau menyala. Saya pun tancap gas. Terbersit keinginan tuk mendekati pengendara tadi. Hanya ingin menunjukkan kalau mereka kurang cepet ngeblongnya. Rugi. Buktinya saya yang ga ngeblong tetep bisa mendahului.

Tapi keinginan itu tidak saya wujudkan. Imajinasi saya malah terbang kesana kemari. Saya membayangkan peristiwa berhikmah ini saya upload ke blog. Dan kalau pembaca bisa membaca tulisan ini berarti imajinasi saya tadi sudah ter-nyata kan. Saya juga sempat membuat skenario khayalan. Gimana ya kalau yang diklakson dan dibentak-bentak tadi ternyata Polisi? Atau gimana kalau pembentak tadi justru penegak hukum yang adigang adigung adiguna anggodo? Lalu saya mengejar “penegak hukum” tadi dan mengadukannya ke pengadilan. Sudah melanggar, malah mbentak, plus justru dia penegak hukum.

Imajinasi tadi mampir ke hal yang lebih faktual. Yakni nama daerah tersebut. Salam. Bangjo Salam. Salam kan artinya selamat. Berarti harusnya orang yang lewat di daerah selamet (Salam) itu menjunjung tinggi keselamatan. Tapi malah saya sering lihat penyeberang jalan kesusahan berkat bangjo yang ga dipatuhi itu. Dan sebenarnya sering pula saya lihat pengendara yang hampir kecelakaan.

Saya ingat lagi fakta bahwa mayoritas pengguna jalan itu beragama Islam. Saya ingat lagi Islam kan artinya tunduk. Patuh pada aturan. Salah satu aturan Islam itu menebar salam. Menebar keselamatan. Apa yang terjadi kala itu tentu berbalik dengan fakta-fakta tadi.

Di daerah Salam juga banyak pondok pesantren. Mungkin akan bagus kalau pihak pondok memperluas “doktrin”nya dari sekedar aplikasi ritual agama, menjadi aplikasi agama di kehidupan sehari-hari. Akan bagus juga sepertinya kalau pihak pondok mempersiapkan santrinya menjadi penegak hukum yang berintegritas, dan pengguna jalan yang disiplin . hehe

Apapun itu, setiap saya lewat bangjo, saya ingat tuk semangat tunduk pada aturan yang membawa maslahat. Setiap saya lewat Salam, saya ingat pula Islam penebar salam. Salam keselamatan, kemanfaatan, dan keberkahan.

Hm.. tapi untuk menegakkan Salam tadi tidak bisa hanya dengan kekuatan ulama. Umara’ juga perlu diajak. Yang paling pasti, semua itu terjadi karena kekuatan yang menciptakan ulama dan umara’.

Sekian, Salam (Islam) Bangjo!  Eh, kok islam bangjo? Islam abang ijo? Aliran apalagi ini? entahlah,

Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Iklan

14 pemikiran pada “Bangjo Salam, Salam Bangjo

  1. kalo denger kata bangjo,q suka ktawa sendri…lucu bahasanya heheh… 🙂

    pertama Q ke ygya,q ga tau apa arti bangjo,tak kita nama orang Jo n suka d panggil abang,,,jadi bangjo wkwkwk…. jadi inget n kangen ygya… 😀

  2. Undang-Undang wara wiri ngalor-ngidul yang dibikin wong di muka bumi sudah berani dilanggar. Apalagi aturan dari langit yang “asing” dari kehidupan sehari-hari, mereka tak patuhi. Itulah sebabnya hidup tak pernah ketemu kiblat, alias tak pernah ketemu hidayah Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s