Good to Great

Good to great. Dari bagus menjadi hebat. Sering kita diajari oleh orang tua dan lingkungan sekitar tuk lebih fokus memperbaiki kekurangan. Misal, kita mendapat nilai 6 pada Bahasa Inggris dan 9 pada Matematika. Mungkin orang tua atau kita sendiri akan berkata “Saya harus melupakan Matematika dan fokus ke Bahasa Inggris.”. Ya, kita diajari tuk fokus pada kekurangan kita. Padahal, para konsultan bisnis, trainer, psikolog, mengamati bahwa “Fokus pada kelebihan lebih berpengaruh pada kesukesan.” Dengan kata lain, “Memperbaiki kekurangan sangat sedikit pengaruhnya pada keberhasilan kita.”

Kita amati apa yang terjadi bila apa yang ada di pikiran hanyalah kekurangan kita. Secara alamiah, kita akan menjadi lemah semangat. Bisa jadi kita menjadi makhluk yang tidak bersyukur. Sangat aneh bila kita sedang lemah semangatnya kok malah disuruh memperbaiki diri. Akhirnya kita – dengan lemahnya semangat tadi – tidak mampu memperbaiki diri. Karena tidak mampu memperbaiki kekurangan kita, kita makin tak semangat. Makin tak semangat, makin tak mampu. Fiuhh,, sebuah siklus yang makin sempurna menuju kehancuran.

Lain halnya bila kita fokus pada kelebihan kita. Apa sih yang menghalangi kita fokus pada kelebihan? Salah satunya rasa puas. Bila Anda pandai matematika, terus enggan meningkatkan kemampuan matematis Anda karena merasa Anda sudah cukup bagus. Padahal tentu masih banyak yang lebih pandai. Maka, asahlah skill matematika Anda yang tadinya “bagus” sampai menjadi “hebat”. Yang tadinya mengerjakan soal level Ujian Nasional, menjadi level Olimpiade.

Bukankah orang yang dianggap menonjol di masyarakat itu orang yang sangat unggul di suatu bidang. Dan masyarakat sudah terbiasa “memaklumi” kekurangan dengan ungkapan “Manusia kan ada kekurangannya.” Jadi, dengan “mengabaikan” kekurangan pun kita tetap dihormati manusia. Itu bila kita ingin manut pandangan orang. Sebaiknya manut pandangan yang menciptakan orang.

Nah, selain FOKUS MENINGKATKAN KEUNGGULAN kita, ada hal lain yang bisa kita lakukan. Yakni MENGGUNAKANNYA tuk menutupi kelemahan. Dalam buku “100 Ways to Motivate Others”, ada sales yang tidak handal saat berkomunikasi lewat media (telepon, surel, brosur, dll). Tapi ia sangat senang bila diminta bertatap muka langsung dengan calon pembeli. Maka, ia TIDAK diminta memperbaiki kekurangmampuannya berkomunikasi lewat telepon. Ia dilarang menggunakan telepon tuk menerima order. Dan ia yang tadinya puas dengan skill berpromosi langsung tatap mukanya, dipacu untuk MENG-HEBAT-KAN KEUNGGULANNYA. Penghasilannya meningkat pesat.

Adapula yang sebaliknya. Merasa lebih mampu menerima order bila lewat telepon. Maka, ia meminta calon pembeli menghubunginya lewat telepon. Atau ia yang menghubungi lewat telepon. Penghasilannya pun meningkat. Dengan pesat. Meski ia dicap ‘bukan sales sejati’ karena ia lebih banyak kerja di belakang meja.

Analoginya, kita yang diciptakan menjadi kelinci ahli lompat, ya asahlah keahlian melompat. Tak perlu iri pada elang yang ahli terbang. Saya membuat blog ini pun ya untuk mengasah saja. Mengasah potensi tanda syukur diri. Setiap potensi yang disyukuri, tentu makin menjadi.

Jadi, poinnya, jangan puas dengan kelebihan kita. Asah terus sampai level saaangaaaat master. Serta, jangan takut dicap ‘berbeda’, atau ‘asing’ saat kita menghebatkan keunggulan kita tadi.

Satu lagi. Kekurangan yang saya maksud di sini cenderung pada “skill” bukan karakter atau akhlak. Anjuran saya tuk mengabaikan kekurangan di sini pun perlu dipahami secara proporsional. Bukan tidak boleh kita memperbaiki kekurangan, hanya kita perlu membatasinya hingga tak lupa akan kelebihan kita. Kelebihan itu karunia Sang Maha, “kufur” kalau tidak diasah.

Iklan

Satu pemikiran pada “Good to Great

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s