Bohong Putih dan Kredibilitas

Bohong putih. Bohong yang diperbolehkan. Bohong untuk kebaikan. Misal, bohong untuk mendamaikan. Atau bohong tuk merahasiakan strategi perang, resep masakan restoran, dan sejenisnya.

Tiba-tiba saya teringat kisah Puntadewa dengan Resi Durna. Puntadewa merupakan pembarep, anak pertama dari genk Pandawa. Ia punya watak tak pernah bohong. Sedikitpun. Ia juga tak pernah berkata “tidak” bila dimintai pertolongan. Dalam kisah pedalangan, pernah ada yang meminta kulit dan daging tangannya. Ia berikan. Pernah pula ada yang meminta kerajaannya. Dikasih tanpa berat hati. Mungkin terlalu ekstrim. Tapi jangan diributkan. Kan kisah. Yang wajib kita ambil hikmah. Mengambil hikmah dari berbagai arah.

Selain anak pertama Pandawa, ternyata si anak kedua juga mengikut jejak. Werkudara atau Bima ini dikenal sebagai pria yang gagah, berukuran raksasa, tapi selalu lugu. Dalam tulisan kali ini saya hanya membahas Puntadewa saja. Sebenarnya Puntadewa pun tidak berbohong. Hanya berkata jujur dengan cara yang mencurigakan.

Orang Jawa kuno sangat mensakralkan kekata pemimpin. Khususnya raja. Mereka akan sangat mendengar dan mematuhi. Sami’na wa atha’na. Mereka memandang raja ialah personifikasi dewa atau tuhan. Wibawa spiritual itulah yang membuat sabda raja didengar. Menjadi undang-undang. Maka, dalam ajaran kepemimpinan Jawa, raja jangan berbasa-basi tanpa konteks yang tepat.

Nah, dalam lingkungan orang yang sangat menjaga kata-kata itu, ada Puntadewa yang “lebih ekstrim” menjaga lisan. Ia tak pernah berbohong. Dalam suatu perang, sengaja disebar isu bahwa Aswitama, putra Resi Durna (guru Pandawa), meninggal. Ini supaya semangat Resi Durna mengendur. Kehilangan konsentrasi.

Memang ada yang tewas dalam peperangan itu. Namanya Tama. Ia berupa gajah. Disebutlah Hesti Tama alias gajah bernama Tama. Kata-kata Hesti Tama inilah yang diplesetkan para penyebar isu menjadi “Aswitama”. Mereka berteriak “Aswitama meninggaaall!!!” Padahal yang meninggal ialah hesti Tama.

Resi Durna shock berat mendengar isu itu. Beliau tidak percaya. Lalu ia datang pada Puntadewa yang dikenal tak pernah dusta. Puntadewa pun mencari akal. Di satu sisi ia tidak ingin dusta. Di sisi lain ia ingin Resi Durna (guru yang tidak pantas digugul lan ditiru) ini dikalahkan. Puntadewa pun berkata, “Benar, Hestitama meninggal.” Puntadewa mengatakan “Hesti” dengan sangat lirih dan “Tama” dengan cukup jelas. Hingga Sang Resi hanya mendengar “…itama meninggal”. Resi mengira Puntadewa berkata, “Aswitama meninggal”. Pingsanlah Sang Resi, lalu dipenggal kepalanya. Meninggal menyusul gajah yang dikira putra terkasihnya.

Puntadewa mengatakan fakta. Hanya dengan cara yang aneh. Caranya aneh karena tujuannya pun ingin membunuh. (Perkara membunuh penjahat atau pembaik sudah beda soal). Hanya dengan menggunakan cara yang aneh ini pun saya sudah “ilfeel” dengan Puntadewa. Ternyata ia pun mampu, eh mau berdusta. Kalo soal mampu saya rasa sejak dulu beliau mampu berbohong. Hanya tak mau. Dustanya (meski dusta putih) ini tentu terekam rakyat banyak. Lalu, bisa saja, saat Puntadewa bersabda, ada yang menjadi tidak percaya.

Itu baru bohong putih. Apalagi dengan orang yang benar-benar berbohong? Tentu lebih tidak bisa dipercaya. Sama juga kita mengadukan masalah kita pada orang yang pernah kita lihat sendiri bergunjing ria. Tentu ada kekhawatiran tersendiri bila justru masalah kita yang jadi bahan gunjingan esok hari.

***
Kita harus belajar membedakan apa yang dibutuhkan (bukan yang diinginkan) lawan bicara kita. Suatu kali mungkin dia butuh tindakan “nglegani” kita karena tindakan itu akan lebih baik baginya. Lebih memotivasi. Bisa pula kita harus tegas dan berani mengatakan “Tidak enak.” saat dia memang meminta penilaian jujur dan siap dinilai “jelek”. Contoh kecil, saat mencicipi masakan.

Saat ibu kita dah capek-capek sengaja masak buat kita karena dah lama ga pulang, kita bisa saja mengatakan “Wah, masakannya maknyuss! Alhamdulillah” sebagai wujud apresiasi kita. Di kali lain, ibu kita, eh ibu saya pengen buka restoran atau ikut lomba masak. Beliau membutuhkan penilaian objektif kita. Kalau memang enak, ya katakan enak, kalau memang kurang enak ya katakan kurang enak. Jangan sampai niat baik kita ingin “nglegani” ibu kita, malah memperlemah beliau. Saat beliau berlatih kita sengaja bilang “Enak” padahal belum. Lalu beliau pun puas dengan resep tersebut dan memilihnya sebagai bahan lomba masak. Jadilah masakan yang belum enak itu yang diajukan. Sangat mungkin kalah enak dengan masakan dari peserta lainnya.

Lain halnya bila kita bisa berkata “Belum enak” lha wong sang ibu memang siap mendengarnya. Kan beliau memang butuh kritik saran tuk kemajuannya hingga bisa memenangi lomba masak.

Jika kita dikenal sebagai orang yang mampu bersikap nglegani dan objektif di saat yang tepat, maka kita akan bermanfaat. Orang yang sedang butuh motivasi takkan ragu datang pada kita karena tahu kita akan mendukungnya. Orang yang memang butuh penilaian objektif akan percaya, dan tambah motivasi mendengar tanggapan kita.

Termasuk penilaian pembaca terhadap tulisan ini. Saya membutuhkan penilaian objektif. Saya siap mendengar “bagus”, “perlu diperbaiki”, “sangat jelek.” Karena ini yang saya butuhkan.

Iklan

9 pemikiran pada “Bohong Putih dan Kredibilitas

  1. sip..
    kamu punya jalan pikiran yg khas, unik, dan bagus nya lg km bisa menuangkan nya dgn cukup baik..
    istiqomah y ndan!
    like this! =D

  2. Baru tau saya kalau bohong itu ada warnanya. Setau saya bohong itu ya cuma ada bohong itu tadi. gak ada jenis2nya, gak ada pengkotak-kotakan, apalagi pengecatan dengan warna tertentu. Nanti kalau dicat warna biru atau merah nanti SiBuYa atau Bu Megawati tersinggung gimana? Hehehehe….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s