Fase-fase Keberhasilan

Sebenarnya apa sih yang menjadi kunci keberhasilan seseorang? Well, menurut saya pribadi, setelah melihat keberhasilan pribadi yang belum apa-apa ini, kuncinya ada pada satu kata. Lima huruf. Akhirannya “N”. Apa itu? MAKAN!! Haha tentu BUKAN (sama2 lima huruf berakhiran N).

ACTION! That’s the key menurut saya. Just do it. Wis teka mlaku. Lakoni wae. Teka waton mlaku. Suk kowe bakal iso mlaku nganggo waton. Dalam bahasa Indonesia, “Pokoknya ASAL jalan dulu aja. Entar kamu akan bisa berjalan dengan waton (aturan)”. Seperti saat saya menulis ini. pertama pokokny asal ketik dulu aja. Biar pikiran mengalir. Nanti baru kita edit sana-sini.

Saat kita ingin berhasil dalam suatu bidang, ambillah aksi nyata yang BISA kita lakukan. Dulu, saya ga berani mengacungkan tangan tuk menjawab pertanyaan guru atau bertanya. Entah ada ketakutan tersendiri. Bicara di depan teman2 MPK pun masih sering menundukkan kepala karena grogi banget. Saya ingin membalik keadaan.

Apa yang saya lakukan? Saya cari samting yang bisa saya lakukan. Kala itu dalam tiap rapat, saya NEKAT tuk mengacungkan tangan. Bertanya. Dengan pertanyaan yang terbata-bata karena masih sangat grogi. Apalagi tatapan semua peserta rapat langsung menuju saya. Inilah tahap ACTION atau mengambil AKSI NYATA yang bisa kita capai. Apapun itu. Kalau action yang paling bisa kita lakukan itu baca buku, ya bacalah buku. Kalau yang paling mudah itu tanya2 orang lain, ya bertanyalah. Itu tahap pertama.

Lalu, saya beranjak ke tahap kedua. Saya banyak-banyak bertanya meski hal remeh. Soal kualitas pertanyaan? Cuek aja dulu. Karena ini fase “memperbanyak kuantitas” bukan meningkatkan kualitas. Memperbanyak percobaan. Perbanyak trial and error.

Yang perlu kita ingat, kita harus mampu mengambil hikmah, mengingat umpan balik dari banyak aksi nyata yang kita lakukan. Dari banyak percobaan yang kita lakukan. Misal, saya mengamati, “Oh, ternyata makin terbiasa, makin hilang grogi saya.” “Ooo.. kualitas pertanyaan dalam rapat yang bagus tu seperti ini.” dst. Inilah tahap ketiga. MENGINGAT UMPAN BALIK dari tiap percobaan yang kita lakukan. Hingga makin lama KUALITAS kita semakin MENINGKAT. Pada tahap ini, saya mulai baca2 buku (teori).

Untuk memperkecil error, yang tadinya saya over praktek tanpa teori, saya balik. Saya perbanyak teori. Dengan membaca buku2 public speaking, manajemen rapat, dll. Tapi hati-hati. Biasanya dalam tahap ini, orang cenderung kecanduan tuk berteori. Keasikan baca buku tanpa mempraktikkannya. Ilmu dan amal ga seimbang. Inilah tahap kebanyakan teori! Hehe.

Biasanya kebanyakan teori ini membuat kita takut melangkah. Kalo pas bisnis ya, kebanyak itung2an, perencanaan, no real action. Nah obatnya apa? Kembali saja ke titik nol. Saat kita ga terkungkung teori. Saat kita dengan berani take action tanpa peduli kualitas. Lalu gimana dengan buku2 teori yang sudah dibaca? Tenang saja. Itu berguna.

Ajakan saya tuk kembali ke titik nol perhitungan full nekat itu agar kita BERANI MEMULAI. Setelah mulai, teori2 yang sudah berjejalan di otak itu akan muncul. Dan semakin kita beraksi semakin paham mana teori yang tepat dalam hal ini dan hal itu.

Dalam kasus saya di atas, setelah saya tahu bahwa persiapan public speaking itu lumayan banyak, saya malah jadi keder sendiri. Apalagi tahu gaya2 berbicara. Teori kontak mata, joke, dll. Malah bingung mau milih gaya apa (gaya kodok kali?). Saya lupakan dulu semua teori itu. Saya kembali nekat berani maju ke podium (eleh). Nah, setelah beberapa detik ngomong, ingat saya berbagai teori. Saya terapkan lagi. Hasilnya cukup memuaskan. Saya terapkan lagi berulang2. Praktek-teori-praktek-teori

Dari tulisan di atas, kita tahu bahwa ada beberapa posisi kaitannya dengan kesuksesan.

Pertama, orang yang masih belum tahu apa2. Saran saya, take action! Apapun itu. Lalu pahami teori2nya, langkah2nya, amati pengetahuan dari hasil aksi yang didapat. PERBANYAK EKSPERIMEN.

Kedua, niatnya mempelajari teori agar prakteknya bagus, eh malah keterusan berteori tanpa praktek. Maka, lupakan semua teori itu! (sementara). Kembali ke titik nol. Saat belum terjejali perhitungan yang bikin males mulai. Nekatlah seperti dulu. Setelah roda bisa berjalan, mulailah pakai teori yang ada.

Analoginya, banyak pengusaha sukses justru bukan anak sekolahan. Justru banyak orang yang dianggap “tidak tahu”. Justru dengan ketidaktahunnya, mereka berani aksi (praktek, praktisi). Nah, setelah usahanya berdiri, lama kelamaan mereka akan membayar manajer, karyawan, dll yang menguasai teori bisnis. Atau mungkin menyekolahkan putra mereka di sekolah bisnis. Gunanya? Untuk mengembangkan bisnis yang sudah ada. Kelihatan kan, action perlu saat kita memulai, teori perlu tuk meningkatkan kualitas.

Ringkasnya, kalau mau berhasil dalam bidang apapun, pertama kita musti berani action! Action apapun. Ambil pelajaran (evaluasi). Maka akan terjadi penyempurnaan yang terus menerus.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s