logika Ridho

Seorang kawan berkata dalam canda lesunya, “Sepertinya kita harus berhenti.”

“Mengapakah kawanku?” tanyaku penuh heran.

“Bukankah segala hadang yang melintang, ialah tanda bahwa kita tidak ridhoiNya?”

Kuhela nafas. Memanglah banyak aral dan hadangan yang menghiasi perjuangan kami. Dan kawanku ini berpikir, apa yang kami perjuangkan tidaklah mengundang rihoNya, dengan kata lain, salah arah.

“Kawanku,”lanjutku. “Jikalau Baginda Rasul berlogika sebagaimana Anta, tidakkan Islam hadir di tengah dunia fana ini.”

Terperanjatlah ianya. “Bagaimana kau bisa berpendapat?”

“Jikalau Baginda berpendapat,”Dakwahku banyak aral, aku tidak diridhoi, aku kan berhenti.”, “Apa yang terjadi Akhi?”

Kulanjut kekata, “Bukankah ada banyak aral yang setia menemani Rasul? Pun di awal-awal masa risalahnya?”

Ingatlah Saudaraku, ridhoNya tak bergantung sulit tidaknya persoalan. Tak selalu kemudahan berarti diridhoi. Sesiapa tahu istidraj. Yakni dimudahkannya ia dalam berbuat kemaksiat. Sesiapa tahu, Allah membuat kita sehat, agar kita semakin mudah bermaksiat.

Lagi tak selalu sulit itu tak diridhoi. Sesiapa tahu, Allah menaruh kita dalam kondisi sempit. Terperas segala daya. Agar saripati potensi, teruji dengan sungguh. Tak kau ingatkah, Musa a.s. terganggu lisannya, terbebani dosa membunuh, dihadapkan pada Firaun yang sangat berkuasa menyiksa. Hingga Muhammad Saw bersabda,”Sungguh, saudaraku Musa, telah diuji lebih dari ini.” Pun ia tetap diamanat menebar rahmat. Lupakah engkau, Rasulullah Saw ialah ummi. Pun ia tetap difirman tuk “Iqra’’!

Maka, selalulah waspada, mawas diri. Saat mudah, pikirlah. Benarkah mudah ini karena dirahmati? Lalu bagaimana dosa-dosa yang tlah lalu?. Saat susah, pikirlah, apakah yang salah? Apatah yang kurang? Benarkah kita harus berhenti?’’

Ridho Allah kan menghampiri. Kala kita tertunduk, menyerah di hadapNya. Menyadari kelemahan diri. Bahwa tidakkan mampu kita berbuat, bahkan menghela nafas rahmat, tanpa daya Sang Maha Kuat. Menyerah, berpasrah total kepada Allah.

Lalu “Blaaa..rrrr!”. Tiba-tiba kita dialiri Daya. Daya yang teramat kuat, dahsyat, menghebat. Lalu kita pun tinggal mengikuti KarsaNya. Tuk bekerja keras, berstrategi cerdas, dalam kondisi yang selalu ikhlas. Kita berkata dengan lisan-Nya, bertatap dengan pandangan-Nya, menulis dengan tangan-Nya. Berlari dengan kaki-Nya.”

“Blaaa..rrr!”. Akan ada banyak jalan keluar yang tiada disangka. Makhraja.

Lalu, teruslah kembali ke hadapNya. Kembalilah. Pulanglah padaNya. Pulanglah dengan ridho dan diridhoi.

Iklan

2 pemikiran pada “logika Ridho

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s