Pengumpan RSS

Arsip Penulis: Siluman Harimau

Jilbab Bikin Cantik?

Konon wanita solehah memakai jilbab supaya tidak merangsang dorongan biologis lelaki. Dengan memakai jilbab, harapannya para pria tidak terdorong untuk menatap, makan, atau menstruasi. (Semua contoh tadi beneran proses biologis lho). Tapi di sisi lain, ada yang berjilbab karena dia lebih cantik kalau pake jilbab.

Well, ini sudah salah kaprah karena jilbab dicipta untuk menyimpan kecantikan lalu dikeluarkan pada saat yang tepat, ingin pub misalnya. Tujuannya agar wanita tidak mengumbar kecantikannya, eh malah ada yang memakai karena lebih cantik. Ini sama seperti orang twitteran pake aplikasi semacam TwitLonger agar bisa ngetwit lebih dari 140 karakter. Ciri khas twitter itu karena 140 karakternya, sehingga kita terbiasa efisien kata. Tapi kenapa malah ngetwit lebih dari 140 karakter??

Tapi, taruhlah boleh jilbaban agar tampil cantik. Tujuan ini belum tertu tercapai. Banyak kok yang justru lebih cantik kalau tidak berjilbab. Kalau ketemu yang seperti ini, saya sering pengen bilang,”Kamu jilbaban karena pengen lebih cantik? Lepas aja jilbabmu. Kamu lebih cantik kalau ga pake jilbab kok.” Tentu ga saya sampaikan beneran. Tapi pernah juga saya serius meminta para jilbaber tuk lepas jilbab. “Lepas aja jilbabnya. Khususnya kalau lagi potong rambut.”

Kalau ingin tujuan tampil (lebih) cantik dengan jilbab ini tercapai, Anda harus melakukan beberapa penyesuaian. Memakai jilbab tidak serta merta membuat Anda tampil cantik.  Anda, eh antum, perlu menyerasikan model wajah dengan model jilbab, sesuaikan warna muka dengan warna jilbab, dan tampang Anda dengan tampang penjualnya. Sekali lagi, sekedar pake jilbab tidak serta merta membuat Anda cantik. Perlu penyesuaian. Jadi, buat Anda para ikhwan, memakai jilbab jelas bukan pilihan bila antum pengen tampil cantik!

Paling aman sih, motivasi berjilbab ya dikembalikan ke dasar hukum (ya, saya asal pake istilah). Bukan untuk ingin tampil cantik. Karena cantik itu relatif. Tapi menutup aurat. Aurat itu lebih tidak debatable kan.

Nah, gimana kalau kita cari alternatif lain. Kalaupun Anda ngotot jilbaban karena ingin cantik, saya tawarkan cara pandang berbeda. Anda berjilbab bukan karena belum cantik lalu ingin jadi cantik. Bukan pula karena merasa kurang sehingga berharap menjadi lebih cantik. Tapi karena Anda Read the rest of this entry

#KiblatKilat | Ngontak-ngantuk Ketemu Khotbah

Sudah jamak diketahui, khotbah jumat terasosiasi dengan khotbah yang dipenuhi jamaah yang ngantuk. Tapi saya terus terang jarang sekali ngantuk pas khotbah jumat. Mungkin baru 1-2 kali. Satu yang saya inget, waktu itu pas OSPEK sehingga lelaaah dan kurang tidur. Saya sampai hampir terjatuh. Padahal, pembicaranya waktu itu level nasional sekelas Reza M. Syarief. Isi dan penyampaiannya, sebenarnya menggigit kalau saja saya tidak ngantuk. Tapi, soal ngantuk dan tidak ini ternyata alamiah-rasional saja. Bukan urusan magis seperti,”Telinga saya dikencingi setan. Jadi tiap denger khotbah tu pasti ngantuk.”

Saya yang ga ngantuk, karena memang Read the rest of this entry

Lomba Menulis SMP-SMA se Magelang

Info lebih lengkap langsung aja ke TKP, para Ngalor-ngidulers :)

6 Langkah Menghadapi Kritik

Saat saya Open Mic di UMM beberapa waktu lalu, saya ketemu dengan Pendekar Tidar yang bermedan laga di UMM. Mas Kukuh. Tahu karena saya lagi seneng-senengnya Stand Up Comedy, beliau menimpali dengan , “Jadi, sekarang udah jarang ngeblog ya?” #jleb. Tapi yang di #jleb bukan perasaan saya karena saya tidak sesensi itu. Tulisan tentang menghadapi kritik ini juga bukan dibuat karena “kritikan” tanpa sadar Mas Kukuh. Tulisan ini sudah dibuat berbulan lampau. Jadi, yang di#jleb itu otak saya yang seolah amnesia bahwa saya punya blog :D . So, without further ado, berikut empat dari enam langkah tersebut.

6 Langkah Menghadapi Kritik
“Hanya yang berkarya, yang dikritik.”

2 Langkah pertama: Pendinginan

1. Ubah Cara Pandang

Ubah cara pandang kita terhadap kritik. Kita tak nyaman dikritik karena menganggap itu aib, memalukan, dan merendahkan. Maka, ubahlah cara pandang kita menjadi lebih positif. Lihatlah, yang dikritik hanyalah mereka yang berkarya, berani mengambil keputusan, dan yang bertindak. Tentu ada yang dikritik karena ketiadaan karya, keraguannya, dan kepasifannya. Tetapi lebih sering kita dikritik karena kita telah bertindak. Meski itu dianggap belum sempurna – yang karnanya mengundang kritik.

Selain itu, kita perlu mengubah terhadap orang yang memberi kritik. Kesalahan bermula dengan menganggapnya sebagai lawan. Dari sinilah lahir dendam. Lahir pula godaan untuk lebih asyik mencari strategi balas dendam dibanding menyelesaikan kerja-kerja kebaikan – yang menjadi sasaran kritik – kita. Padahal, bila kita bersegera melanjutkan perjuangan, kritikus akan diam dengan sendirinya. Bila kita hanya sibuk melawan – dengan cara kekanakan – , perang takkan pernah usai, kerja kita terbengkalai.
Maka, ingatlah, dikritik itu membanggakan. Dikritik itu diperhatikan, dikritik itu disayangi. So, WELCOME CRITICS. Sambutlah kritik!

2. Ubah Posisi Pandang

Kita menjadi gusar, tak jernih, dan cenderung melakukan perlawanan bila dikritik. Itu karena kita melihat pengkritik sebagai musuh yang berhadapan face to face dengan kita. Cara penyampaian pengkritik yang sering tak beretika membuat kita merasa terpojok. Namun, sikap kita akan berbeda bila kita mengubah posisi pandang.

2 Langkah Kedua: Pengolahan
3. Analisa Akurasi
Setelah kita mampu Read the rest of this entry

Kalau rapat tidak perlu lagi makanan kecil

Reblogged from Catatan Dahlan Iskan:

Minggu, 19 Februari 2012 Manufacturing Hope 14

Sudahkah terbukti jumlah rapat-rapat di Kementerian BUMN turun 50 persen seperti yang saya inginkan? Angka pastinya masih dikumpulkan. Tapi dari penjelasan para direktur utama BUMN, terasa sekali jumlah rapat itu menurun drastis.

“Rasanya turun 60 persen,” ujar Nur Pamudji, Dirut Perusahaan Listrik Negara. “Selama tiga bulan ini saya baru rapat dua kali di kementerian.

Read more… 1.231 more words

Kerja berbanding terbalik dengan rapat (?)

Bekerja sama-sama, sama-sama bekerja

Serial Maskulinisme

Bekerja sama-sama, sama-sama Bekerja

“Heal the world. Make it a better place.”

Bila ‘sex’ adalah jenis kelamin, gender adalah fungsi dan peran yang kita sematkan pada jenis kelamin itu. Pria kelaminnya, bekerja perannya. Wanita kelaminnya, memasak perannya. Penyematan “bekerja” pada kaum pria, itulah gender. Namun di Bali, ibu mengambil peran kerja. Itulah gender. Bisa berbeda. “Bekerja”nya wanita adalah gender. Pantas tidaknya tergantung konstruksi sosial-budaya setempat. “Melahirkan”nya wanita adalah kodrat.

Para feminis menyikapi perbedaan peran ini sebagai ketidakadilan. Maka, mereka memperjuangkan penyetaraan. Agar mampu berdiri sama tinggi duduk sama rendah. Ibaratkan kita sedang menimbang jeruk dan rambutan. Kita letakkan jeruk di ujung timbangan yang satu, rambutan di ujung lainnya. Kita ingin menyeimbangkan timbangan itu.

Sekarang katakanlah jeruk itu lebih berat. Feminis menyeimbangkannya dengan mengubah rambutan menjadi jeruk. Sebuah perjuangan yang melelahkan dan tak perlu. Wanita tak perlu membuktikan bahwa mereka bisa mengalahkan pria. Mereka sudah mengalahkan pria dalam banyak hal. Dalam karir misalnya, perhatian alamiah wanita terhadap detil dan ekspresi kasih sayang, telah menempatkan mereka pada peran-peran pemimpin dengan pria sebagai stafnya. Secara alamiah, tanpa membawa isu feminisme.

Feminis melihat ‘equality’ sebagai keadilan yang Read the rest of this entry

Sabar Prorgresif

Sabar Progresif

“Dan jika ada di antara kamu seratus orang (penyabar), niscaya mereka akan mengalahkan seribu orang kafir.” (Sitaan Perang: 65). – Allah, Sang Maha Sabar

Sabar tak hanya tentang kemampuan menghadapi musibah. Ia juga kemampuan kita untuk melakukan ketaatan dan tidak melakukan kemaksiatan. Dari tafsir para ulama itulah, kita tahu bahwa sabar erat kaitannya dengan ini; daya tahan terhadap tarikan negatif. Pada musibah, tarikan negatifnya adalah sedih dan putus asa. Sabar terhadap kemaksiatan, berarti tahan terhadap tarikan tuk berbuat maksiat itu sendiri. Pada ketaatan, tarikan negatifnya ialah godaan untuk berhenti dan mundur dari jalan keunggulan. Pada tiga hal inilah kita tahu bahwa sebenarnya sabar memiliki sisi yang membuat kita terus melaju. Inilah sabar progresif. Inilah sabar para ksatria, para movers.

Bagi kita yang cenderung berwatak nrimo ing pandum, adalah mudah tuk mengapilkasikan sabar pada peristiwa pertama. Menghadapi musibah. Inilah apa yang sering orang sebut dengan adversity quotient. Kita sangat memerlukannya, tetapi bila tidak berhati-hati, fungsi ini akan menjadi bumerang. Anda bisa saja tahan dengan kemiskinan, tetapi sekaligus tidak ada keinginan untuk menjadi orang mampu. Ibarat mobil, kita terlalu betah mengerem sehingga kita tetap saja menjadi pihak yang dikasihani, lemah, perlu didorong. Padahal, Allah lebih suka mukmin yang kuat, kan?

Buktikan saja, Allah banyak mencontohkan kesabaran dalam Al-Quran, pada kisah-kisah peperangan dan ujian. Tidak hanya musibah. Karena memang dalam kondisi perjuangan, sabar lebih teruji. Bagi Anda yang pernah berkelahi, Anda akan pernah merasakan tarikan negatif ini. Takut, ingin mundur, bahkan pada tahap tertentu Anda ingin menangis meminta perlindungan orang tua. Seperti anak kecil. Kegiatan perploncoan melahirkan efek yang sama. Karena sebenarnya, keberanian adalah buah kesabaran. Ulama mengatakan,”Keberanian ialah sabar yang sesaat.”. Juga, ingatlah sabda nabi bahwa “Pintu surga itu ada di bawah kilatan pedang.” Nabi bukan mengajak kita untuk merekayasa perang agar meraih surga. Melainkan secara gamblang memahamkan kita bahwa, Read the rest of this entry

Ngalor Ngidul Komunitas Kita

Ngalor Ngidul Komunitas Kita

 “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); ”

(Ali ‘Imran: 140-)

Saya jarang sekali memenuhi “wajib posting” Bala Tidar. Seinget saya malah baru sekali ini. Bicara tentang “wajib”, Anda boleh saja bertanya alasannya, tapi bukan kewajiban saya untuk menjawab :P

Nah, wajib posting bulan ini ialah “Kaleidoskop Pendekar Tidar 2011”. Sudah banyak Bala Tidar yang menyoroti naik turunnya spirit komunitas ini. Memang faktanya demikian. Tapi, kita bisa juga melihat bahwa komunitas blogger magelang ini tidaklah turun naik (vertikal) yang berujung pada penilaian bahwa bila sedang naik, itu sedang membaik dan sebaliknya. Lah, kalau tidak turun naik, lalu apa?

Read the rest of this entry

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.