Pengumpan RSS

Ngalor Ngidul Komunitas Kita

Ngalor Ngidul Komunitas Kita

 “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); ”

(Ali ‘Imran: 140-)

Saya jarang sekali memenuhi “wajib posting” Bala Tidar. Seinget saya malah baru sekali ini. Bicara tentang “wajib”, Anda boleh saja bertanya alasannya, tapi bukan kewajiban saya untuk menjawab :P

Nah, wajib posting bulan ini ialah “Kaleidoskop Pendekar Tidar 2011”. Sudah banyak Bala Tidar yang menyoroti naik turunnya spirit komunitas ini. Memang faktanya demikian. Tapi, kita bisa juga melihat bahwa komunitas blogger magelang ini tidaklah turun naik (vertikal) yang berujung pada penilaian bahwa bila sedang naik, itu sedang membaik dan sebaliknya. Lah, kalau tidak turun naik, lalu apa?

Ngalor ngidul! Ya, dinamika Pendekar Tidar itu kalo ga ngalor, ya ngidul. Dinamika ini ya biasa terjadi di semua komunitas. Jangankan sekedar komunitas blogger, umat beragama yang di-founding father-i oleh Allah pun mengalami kondisi yang sama. Bila kita melihat Pendekar Tidar (PT) itu sekedar ngalor –ngidul, penglihatan kita ini tidak akan berujung pada penilaian baik buruk, benar salah. Bahkan, cara pandang ini tidak akan memiliki ujung apapun. Ia hanya akan menjumpakan kita pada kiblat. Dan kiblat itupun bukanlah ujung, melainkan pangkal gerak kehidupan berikutnya.

Saat kopdar kita macet, pengen bikin acara tapi mampet, kita ga perlu khawatir berjama’ah. Cukup kita wakilkan pada Pengatur Lintasan Hati (khowatir) saja. Kita lihat, pada saat-saat kritis seperti itulah akan muncul dukungan semesta, kata Prof. Yohanes. Mengakibatkan salah seorang pendekar tidar akan kasinungan wahyu untuk maju perang pantang pulang sebelum menang.

Saat kopdar kita lancar, acara pating gebyar, kita ga perlu senang berjama’ah. Karena biasanya, itu tanda-tanda semangat kita akan melempem kembali. Terserang virus cepat puas lalu para pendekar pun akan segera kembali ke padepokan. Bukan tuk latihan, tetapi menyimpan baju perang, mengandangkan kuda, lalu segera leyeh-leyeh, penak-penak nge-arak di warung  Nyai Desek.

Ya itu ga jadi soal, karena kita memang tidak diperintah tuk selalu jaya. Jadi, ga perlu ngoyo  tuk selalu di atas. Itu sudah urusan Yang di Atas (Yang di Atas? Emang genteng?). Kalau di atas terus kita bakal menentang kehendak Yang Selalu di Atas yakni,”Kejayaan dan kekalahan itu dipergilirkan”. Persis seperti yang dialami para Pendekar Tuhan (biar sama-sama berinisial “PT”). Pengalaman menang mereka terlampau banyak, sehingga perlu sekali-kali kalah. Ingat lho ya, sekali-kali saja kalahnya.

Nah, kalau kita pengen lama di atas, seperti contoh di atas, tinggal dekati saja Yang di Atas. Sudah pasti bakal katut ke atas. Dari situ bakal kelihatan jelas mengapa PT yang atas itu bisa jaya, PT yang ini tidak. Kita bisa mencermati aspek-aspek manajemen, kepemimpinan, dan selainnya. Satu hal yang menonjol, ialah identifikasi yang kuat pada para PT di atas bahwa mereka itu pendekar, mujahid, pejuang. Akibatnya, mereka selalu siap mengontribusikan harta bahkan jiwa. Tapi, selalu (sekali lagi selalu) sebelum mereka menjadi pendekar, mereka sudah pasti merasakan manfaat dari “komunitas” yang mereka ikuti. Kalau belum merasakan, jangan harap bakal mau maju perang.

Sesederhana itukah solusinya? Woo… jauh lebih sederhana lagi sebenarnya. Tapi saya kurang sreg separagraf tadi disebut pancingan solusi. Karena yang para PT hadapi ini bukan masalah. Sekedar perjalanan ngalor dan ngidul yang akan mengoleh-olehkan kita pada kiblat.

Akhir kata, jangan percaya apa yang saya wacanakan ini. Wong saya ini belum mau jadi Pendekar je.

Tentang Siluman Harimau

Saya pecinta WordPress. Pada awalnya saya ngeBlog karena suka menulis. Berkat kuliah saya di bidang TI, perlahan saya mencoba melihat blog dari sisi teknologinya. Target terdekat sih jadi WordPress Theme Designer. Ke depannya menjadi WP Ninja, Insya Allah. :)

»

  1. Saya juga ingat ada lagu judulnya “Leyeh-leyeh”, itu enak didengarkan pada saat kekeselen dan siap untuk liyer2 tidur.

    Balas
    • namanya aja leyeh-leyeh mas :D Malah baru tahu kalo ada lagu kayak gitu :D

      Balas
  2. saya kira nggak sesederhana ngalor dan ngidul tok, wong masih ada arah ngetan-ngulon dan seribu satu arah misterius yang tidak kita ketahui je………

    Balas
    • Leres. Yang penting ga stagnan

      Balas
  3. nek saya nggak mempermasalahkan ngalor-ngidulnya komunitas. tapi lebih melihat dari sudut kemanfaatan komunitas itu sendiri. Selama bisa memberi manfaat dan menerima manfaat, komunitas tetap akan jaya…

    Balas
    • nah, sudut kemanfaatan itu kalo dalam bahasa saya ya ngalor ngidul, ketemu kiblat. jadi kita ngomongin hal yang sama dengan istilah berbeda :D

      Balas
      • gitu.. ngalor ngidul ki kesane bingung je. hehehe….

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.