Pencerahan itu Menggelapkan!
“Genius is one percent inspiration, and ninety-nine percents perspiration” Edison, Sang Pencerah
Cukup lama dulu saya merenung mencari tahu apa sih sebenarnya yang dimaksud dengan “pencerahan”? Definisi yang bukan dari kamus, tetapi karena pernah mengalami pencerahan itu sendiri. Sering orang mengalami pencerahan, tapi tak mampu mendefinisikan dengan baik apa yang mereka rasakan. Easy to felt, but hard to defined.
Ternyata, pencerahan hanyalah rasa kagum karena otak menerima informasi baru yang mampu memperluas maupun memperdalam pemahaman. Contoh, ada orang yang ditanya,”Kenapa kamu kerja mati-matian kayak gitu?”. Dia menjawab,”Buat cari uang.” Rekannya kembali bertanya,”Salah kalau kamu kerja buat cari uang. Mending mikir gimana uang bekerja untuk kita!”. Terdiam sejenak, lalu sumringah“Oh, iya ya! Kok ga kepikiran ya aku!”
Momen-momen “Aha!”, “Oh, iya ya!” inilah yang sering kita sebut pencerahan. Pencerahan intelektual lebih tepatnya. Menerima ilmu yang baru sehingga memperluas maupun memperdalam kerangka berpikir kita, itulah yang kita rasakan sebagai pencerahan.
Bagi kita yang terbiasa berideologi “kanan” sangat mungkin merasa tercerahkan dengan membaca pemikiran-pemikiran “kiri”. Bagi Anda yang sudah pernah membaca teori “uang bekerja untuk kita”, contoh di atas tidak akan mencerahkan. Karena ia sudah tidak baru lagi untuk Anda. Karena hal-hal yang kiri itu baru bagi kita dan mampu meng-extend batas nalar. Kita tetiba merasa cerdas dan berubah.
Mengalami pencerahan sebenarnya relatif sederhana. Kita hanya perlu melakukan ekspansi pemikiran secara vertikal atau horizontal. Menggali lebih dalam pemahaman yang sudah ada, atau mencari hal baru di luar sana. Saat kita menemukan wilayah gagasan baru atau mutiara terpendam, saat itulah kita merasa tercerahkan secara intelektual.
Lalu, di mana letak kesalahan “pencerahan”? Saat ia terlalu banyak sehingga menyilaukan bahkan membutakan kita. Akibatnya, kita takut melangkah. Ketakutan inilah yang membuat kita takkan pernah berubah. Padahal, tujuan utama kita mencari pencerahan adalah ingin mengalami perubahan, bukan?
Ingat, pencerahan bukanlah perubahan! Pencerahan adalah informasi. Informasi hanyalah titik awal dari proses yang lebih berat dan tidak nyaman bernama perubahan. Perubahan lebih sulit karena ia menuntut pengejawantahan gagasan-gagasan nan melangit dalam laku kehidupan praksis yang realistis.
Karena kita tak nyaman mengalami perubahan, kita kembali ke padepokan, buku-buku, diskusi-diskusi, cerita inspiratif, renungan-renungan pribadi, seminar motivasi hingga kita tercerahkan kembali. Jauh lebih nyaman duduk, berpikir, dan mendapat momen “Aha!” ketimbang harus turun gunung menghadapi kenyataan, bukan?
Lalu, bagaimana bisa kita terjebak menjadi sekedar pecandu pencerahan? Kenapa kita enggan berubah? Jawabannya sederhana dan sudah saya tulis di paragraf sebelumnya. Yakni, kenyamanan! Berubah itu sama sekali tak nyaman. Surga itu nyaman, tapi jalan menujunya sama sekali tidak.
Jadi, bila pencerahan justru mulai melumpuhkan, menggelapkan, membuat Anda malas bergerak, solusinya adalah stop mengumpulkan, mengolah, dan menghasilkan informasi! Stop menjadi knowledge-junker, pencerahan addicted! Kuncilah lemari buku Anda, lalu buang kuncinya ke laut. Atau kalau perlu, bakar buku-buku itu. Termasuk hapus berbagai e-book dan audio di komputer Anda. Hentikan diskusi-diskusi, hentikan membaca, dan mulai praktek!
Selanjutnya, perlukah kita melakukan revolusi tuk mengalami perubahan? Tidak. Kita cukup melakukan perubahan-perubahan kecil (evolusi) tetapi kita lakukan dengan kontinu. Praktekkan, perbaiki, praktekkan, evaluasi, dan seterusnya.
Karena memang, revolusi pada bidang apapun, sebenarnya merupakan kumpulan evolusi. Gumpalan evolusi ini pada titik tertentu akan menjelma menjadi revolusi. Perubahan-perubahan kecil kita akan menjelma menjadi perubahan besar. Pengambilan hak-hak rakyat secara kecil tapi kontinu, akan melahirkan revolusi, buktinya.
Tapi, bagaimana kita masih saja menjadikan pencerahan (baca: sekedar informasi baru) sebagai motivasi utama? Maka, kita perlu mengingat baik-baik berikut ini. Ada pencerahan di balik perubahan yang kita lakukan! Meski, perubahan itu kecil saja. Prakteklah, ada teori baru di sana.
Ping-balik: Malas Berpikir Karena Terlalu Banyak Membaca | Berlin Sianipar | Jogja
Konsepku itu kalau semakin dalam semakin gelap e dek. Trus piye?
Mikirnya pake zikir juga mas. Ben Padhang
Nice n usefull..