Helm saya hilang. Sewaktu saya ke warnet. Ada dua hal yang membuat saya terkejut. Meski sebenarnya saya tidak terlalu terkejut. Karena, di pintu masuk warnet sudah ada peringatan “Sepeda motor Helm bawa masuk.” Tetapi, karena biasanya aman-aman saja, saya biarkan saja helm bertengger di spion. Keterkejutan pertama berasal dari peristiwa yang tidak biasanya.
Berikutnya, saya sering berpikir,”Ah, helm saya ini biasa saja. Pasti ga ada yang minat nyuri.” Tapi terbukti asumsi saya itu saltot. Salah total. Itulah keterkejutan kedua. Ternyata, ada yang masih berminat mencuri helm saya itu. Jadi, bukannya marah-marah mengutuki sang pencuri, tetapi saya malah heran,”Kok mau sih nyuri helm saya?”
Pencurian itu terjadi sekitar pukul 04.00. Saat saya selesai dari warnet dan ingin solat subuh. Lalu, jam 9.45 kakak saya datang ke kos untuk meminjami helm. Helm yang jauh lebih biasa dari helm saya. Helm menyadarkan ,”Owalah, ternyata ada yang lebih butut dari helm saya.” (tanpa bermaksud mencela helm pinjaman itu tentunya.) Pukul 15.00 saya pulang. Di parkiran kampus, kulihat helm yang modelnya sama persis dengan helm saya. Sampai saya curiga jangan-jangan itu helm saya. Dan tentu saja bukan. Tapi saya tetap memandanginya. Menostalgia kenangan helm yang sudah bertahun-tahun menemani perjuangan saya. Sambil menggerutu,”Siapa ini yang berani naruh helm yang sama persis di sini. Kayak nyindir aja!”
Saat sampai di ringroad utara, ada sejoli yang memakai helm persis. Ah, saya jadi semakin sadar, helm yang selama ini saya anggap biasa. Saya kira sudah jadul, ternyata masih banyak dipakai. Ternyata, masih layak dicuri.
Memang inilah keunikan eksistensi. Sering baru kita sadari keberadaannya, saat ia sudah tiada. Maka, kita kadang perlu menghilang biar keberadaan kita disadari. Nah, bila helm itu berperasaan dan mampu mengutarakan perasaannya, ia mungkin akan berkata begini. “Wajar saja saya dibawa pergi, wong pemilik saya justru ga menghargai saya. Mending sama yang lebih menghargai.”
Kalau Anda bertanya,”Lalu, gimana sikapmu, Bon dengan helm yang sekarang? Kan lebih butut. Makin tidak dihargai dong?”. Jawab saya,”Ooo… jangan salah.” Justru penghargaan padanya (sedikit) lebih tinggi. Karena helm itu bukan milik saya. Pinjaman kakak saya (meski sudah tidak pernah dipakai). Karena itu punya orang lain, saya akan merawatnya. Saya ini tipikal kalau barang punya sendiri, justru tidak dirumat (dirawat). Tapi kalau titipan, dirumat. Jadi, agar saya merumat barang-barang saya, caranya cukup sederhana. Cukup menyadari bahwa barang itu bukan punya saya. Sekedar titipan. Termasuk helm saya yang hilang itu. Biar saya mau merawatnya, saya perlu menyadari bahwa itu hanya titipan. Tapi, ya… begitulah.
weh, sama, aku juga habis kehilangan helm. padahal helmnya udah buluk. ckck –”
wah, diceritain di blog dong nov
lemes. reaksi sy saat kehilangan helm di daerah Tanjung, saat menengok adik2 bantara persiapan camping. tapi mw gimana lagi, sy yg biasanya selalu mengunci helm di bawah jok kok ya ndilalahe saat itu ndak. Alhamdulillah ada teman yg rumahnya dekat dan bersedia utk meminjami helm-nya. Dan bisa diduga, helmnya lebih butut dr kepunyaan sy
bantara juga bisa kehilangan helm to ?