Pengumpan RSS

Posted on

Sering ada yang bertanya tentang judul blog ini. Ketemu kiblat kok ngalor-ngidul (utara-selatan)? Bukankah harusnya timur dan barat? Sebenarnya, saya hanya ingin memperluas paradigma. Bahwa kiblat yang saya maksud di sini bukan sekedar kiblat berupa Kakbah yang ada di Mekkah. Tapi, lebih kepada hikmah yang mengantarkan kita pada Pemilik Kakbah, Pemilik Makkah, Pemilik Hikmah.

“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas rahmatNya lagi Maha Mengetahui”
~’::,,Sapi Betina: 115,,::’~

Ini sticky post. Silakan baca ngalor ngidulan saya di bawah ini. :)

Sabar Prorgresif

Sabar Progresif

“Dan jika ada di antara kamu seratus orang (penyabar), niscaya mereka akan mengalahkan seribu orang kafir.” (Sitaan Perang: 65). – Allah, Sang Maha Sabar

Sabar tak hanya tentang kemampuan menghadapi musibah. Ia juga kemampuan kita untuk melakukan ketaatan dan tidak melakukan kemaksiatan. Dari tafsir para ulama itulah, kita tahu bahwa sabar erat kaitannya dengan ini; daya tahan terhadap tarikan negatif. Pada musibah, tarikan negatifnya adalah sedih dan putus asa. Sabar terhadap kemaksiatan, berarti tahan terhadap tarikan tuk berbuat maksiat itu sendiri. Pada ketaatan, tarikan negatifnya ialah godaan untuk berhenti dan mundur dari jalan keunggulan. Pada tiga hal inilah kita tahu bahwa sebenarnya sabar memiliki sisi yang membuat kita terus melaju. Inilah sabar progresif. Inilah sabar para ksatria, para movers.

Bagi kita yang cenderung berwatak nrimo ing pandum, adalah mudah tuk mengapilkasikan sabar pada peristiwa pertama. Menghadapi musibah. Inilah apa yang sering orang sebut dengan adversity quotient. Kita sangat memerlukannya, tetapi bila tidak berhati-hati, fungsi ini akan menjadi bumerang. Anda bisa saja tahan dengan kemiskinan, tetapi sekaligus tidak ada keinginan untuk menjadi orang mampu. Ibarat mobil, kita terlalu betah mengerem sehingga kita tetap saja menjadi pihak yang dikasihani, lemah, perlu didorong. Padahal, Allah lebih suka mukmin yang kuat, kan?

Buktikan saja, Allah banyak mencontohkan kesabaran dalam Al-Quran, pada kisah-kisah peperangan dan ujian. Tidak hanya musibah. Karena memang dalam kondisi perjuangan, sabar lebih teruji. Bagi Anda yang pernah berkelahi, Anda akan pernah merasakan tarikan negatif ini. Takut, ingin mundur, bahkan pada tahap tertentu Anda ingin menangis meminta perlindungan orang tua. Seperti anak kecil. Kegiatan perploncoan melahirkan efek yang sama. Karena sebenarnya, keberanian adalah buah kesabaran. Ulama mengatakan,”Keberanian ialah sabar yang sesaat.”. Juga, ingatlah sabda nabi bahwa “Pintu surga itu ada di bawah kilatan pedang.” Nabi bukan mengajak kita untuk merekayasa perang agar meraih surga. Melainkan secara gamblang memahamkan kita bahwa, Read the rest of this entry

Ngalor Ngidul Komunitas Kita

Ngalor Ngidul Komunitas Kita

 “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); ”

(Ali ‘Imran: 140-)

Saya jarang sekali memenuhi “wajib posting” Bala Tidar. Seinget saya malah baru sekali ini. Bicara tentang “wajib”, Anda boleh saja bertanya alasannya, tapi bukan kewajiban saya untuk menjawab :P

Nah, wajib posting bulan ini ialah “Kaleidoskop Pendekar Tidar 2011”. Sudah banyak Bala Tidar yang menyoroti naik turunnya spirit komunitas ini. Memang faktanya demikian. Tapi, kita bisa juga melihat bahwa komunitas blogger magelang ini tidaklah turun naik (vertikal) yang berujung pada penilaian bahwa bila sedang naik, itu sedang membaik dan sebaliknya. Lah, kalau tidak turun naik, lalu apa?

Read the rest of this entry

Hujanji

Sesuai rencana, pukul 13 saya akan ngalor-ngidulan ke FIB. Tapi, hujan tak dapat ditolak. Antara memilih kembali nyaman di kos, atau melawan hujan mana yang akan saya pilih? Tetap di kos bukan berarti tak produktif. Saya tetap bisa produktif di sini dengan melatih skill coding atau design. Memilih yang lebih nyaman bukan berarti malas atau tidak mau prihatin. Bisa saja ia terlahir dari kecerdasan strategi. Keberhasilan juga tidak harus lewat jalan terjal dan berliku.

Saya juga tak ada janji dengan orang lain, termasuk kepada kawan saya di FIB. Saya hanya berjanji pada diri sendiri. Maka, saya batalkan pun, tak ada orang lain terzalimi. Selain itu, saya sedang perlu minum tolak angin. Logis bila saya memilih mundur. Demi alasan kesehatan.

Ini bukan soal sok heroik menghindari zona nyaman. Ini soal menepati janji. Itu saja. Meski hanya janji pada diri, tepatilah. Justru janji tipe inilah yang sering sulit dipenuhi. Kurang pressure seperti penjelasan di atas. Karenanya, saya tetap tersenyum senang saja meski hujan menerpa. Memenuhi janji itu menyenangkan! Maka, senanglah agar kau ringan memenuhi janji. Penuhilah janji agar kau senang.

Ngalor Ngidul Ketemu Kritik – Seni Menghadapi Kritik (dan Pujian)

Menghadapi Kritik dan Puji

Setiap orang bodoh bisa mengkritik, menuduh, dan mengeluh; semua orang bodoh melakukan hal itu.” – Benjamin Franklin

Sebelum masuk ke What are the right ways, kita cermati what are NOT the right ways.

TERBURU-BURU MEMBELA DIRI. Langsung panik dan membela diri. Menyerang balik dengan mencari kesalahan pengkritik. Yang lebih tepat ialah, be vulnerable! Jadilah rentan untuk diserang –kali ini saja-! Lihatlah di film maupun di pertarungan nyata. Mana yang lebih ahli, petarung yang menurunkan perlindungannya, berkata,”Ayo sini kamu! Pukul aku!” atau yang ketakutan lantas meningkatkan perlindungannya?

TERBURU-BURU BIJAK! Ia dengan tergesa mengambil sikap,”Akan kujawab kritik dengan tindakan! Akan KUBUKTIKAN bahwa aku tidak seperti yang ia kritik!”. Terkesan heroik memang, tetapi itu bisa menjadi bumerang.

Contoh, Anda dikritik,”Kamu terlalu gemuk!” lalu, Anda dengan segera MEMBUKTIKAN PADA PENGKRITIK bahwa Anda tidak gemuk. Anda menjawab dengan tindakan, yakni diet. Tapi di akhir episode, Andalah yang merugi karena kritik itu tak tepat. Anda, ternyata, tak mengapa bila gemuk. Karena ternyata, Anda memang ingin menjadi atlet sumo! Memang benar, cara terbijak menjawab kritik ialah dengan tindakan, tapi tindakan yang seperti apa? Yang membuat kita menari karena tetabuhan orang lain? Kritik itu untuk memacu kita sampai pada tujuan, maka pilihlah kritik agar jangan sampai melencengkan kita dari tujuan. Kritisilah kritik. Bagaimanakah mengkritisi kritik itu?

Bersikaplah cool, dingin, sedingin-dinginnya. Emosi sangat mudah tergejolak karenanya, maka sikap dingin akan mampu meredamnya. Membuat kita tidak reaktif.

Perintahkanlah telinga Anda untuk mengembalikan kritik pada bentuk aslinya. Gelombang suara. Ya, sekedar suara. Tanpa muatan emosi apa-apa. Perintahkan telinga Anda untuk berkata,”Ah, ini hanya gelombang suara biasa.” Hakikatnya, kritik itu sama seperti gelombang suara yang berasal dari bunyi piring, kertas, kendaraan, pintu, dan semuanya. Atau, bila kritik itu berupa tulisan, pahamkan mata Anda bahwa mereka hanya tulisan. Tanpa makna apa-apa.

Perintahkan hati Anda untuk mengganti sumber pengakuan. Kritik memiliki pengaruh kuat bila hati menggantungkan pengakuan/ validasi dari orang lain. Semakin Anda bergantung pada sikap orang lain tuk menentukan sedih bahagia Anda, semakin mudah kritik mengontrol Anda. Tolok ukur besar tidaknya kebergantungan pada sikap orang lain ialah kebiasaan ini; pamer. Pamer adalah efek dari keinginan untuk MEMBUKTIKAN dan meminta PENGAKUAN pada orang lain. Gantilah sumber pengakuan kehebatan Anda dari orang lain menjadi Pencipta orang lain itu.

Jelaskan pada hati Anda, bahwa kritik itu membanggakan! Sebenarnya yang membuat mental orang down bukanlah kritik itu sendiri, melainkan pride, ego, rasa harga diri, kehormatan, kebanggaannya yang terserang. Maka, ubahlah sikap hati Anda. Kritik itu membanggakan. Karena hanya orang-orang yang memiliki karyalah yang dikritik. Andalah orang yang telah bertindak itu. Andalah sang pengkarya. Memang ada orang yang dikritik karena tak berkarya apa-apa. Tapi, saya yakin Anda bukan golongan itu. Anda, sekeyakinan saya, sudah berkarya, hanya saja masih ada yang mengkritik. Dan itu, sekali lagi, membanggakan.

Setelah memerintahkan alat indra; sarana input informasi, memerintahkan hati; pemberi warna informasi, selanjutnya kita perintahkan akal; pengolah informasi. (Perhatikan, kritik itu hanya informasi, tak lebih!) Jangan pernah mengiyakan atau menidakkan kritik sebelum Anda secara objektif menilainya. Pastikan, Anda tidak memberi penilaian apa-apa sebelum alat indra dan hati melakukan tugasnya masing-masing. Anda tidak akan objektif tanpanya.

Mintalah waktu, menyendirilah, mendinginlah. Lalu, segeralah respon. Kelambanan respon atas kritik hanya akan menimbulkan kritik baru. Saya juga yakin logika Anda sudah mampu melahirkan respon yang tepat. Hanya, emosi negatif masih mengganggu sehingga Anda tak mampu menunjukkannya. Itulah guna mendingin dan mengambil jarak sejenak.

Pada tahap ini, bersikaplah hangat, sehangat-hangatnya. Saya yakin sikap Anda sudah benar bila melakukan tiga perintah tadi. Maka, kemaslah dengan kehangatan. Bila Anda berhasil, mereka yang mengkritik akan berbalik memuji Anda.

Omong-omong tentang pujian, prinsip menghadapinya sama. Lakukan “pendinginan” lalu “penghangatan”. Mengapa pujian perlu “didinginkan”? Karena, ia sebenarnya serigala berbulu domba di dunia pengembangan diri. Ia, bisa menjadi alat motivasi. Tetapi bila kita tergantung pada pujian ORANG LAIN, kita akan berakhir tragis menjadi orang yang tak punya prinsip. Kita bisa juga terlena karenanya. Maka, dinginkanlah, kembalikanlah pada pemilik pujian, Allahul Hamid.

NNKK On The Road; A Mover’s Note #1

“‘Jelajahilah bumi ini kemudian lihatlah bagaimana akibat orang yang mendustakan (kebenaran),” (Q. 6: 11).

Inilah agenda pengembangan diri mingguan saya. Selasa-Rabu kuliah tidak begitu padat. Keluangan ini akan saya gunakan untuk melakukan eskpansi pemikiran. Minggu ini saya akan ke FIB dan Psikologi. Mengunjungi perpustakaannya, berdialog dengan orang-orang (dan bukan orang) di sana. Semoga mampu memberi nuansa baru dalam pemikiran NNKK. Saya sudah tak sabar melakukannya. Ini benar-benar ngalor-ngidul secara fisik. NNKK On The Road. Teman-teman dan kenalan sudah saya hubungi untuk menjadi ngalor-ngidulan guide di fakultas masing-masing.

Sedangkan di akhir pekan, Sabtu-Minggu, akan saya gunakan untuk menambah living skill. Sederhana saja. Saya akan belajar otomotif ke mas saya, dan belajar memasak ke mbak-mbak saya. Saya yakin kedua ilmu ini akan sangat berguna. Sebagai variasi, ilmu terapan dunia pertukangan juga saya masukkan ke agenda. Tidak perlu muluk-muluk. Ilmu otomotif yang saya maksud, targetnya hanyalah sekedar mampu melakukan perawatan motor secara mandiri. Begitu juga dengan living skill lainnya.

Tuk kegiatan yang saya lakukan di luar rumah, Sabtu pagi pukul 5.30 saya jadwalkan untuk belajar bahasa Arab tingkat dasar gratis yang diadakan oleh suatu yayasan. Sabtu sore pukul 15.00 saya harus sudah sampai di Magelang untuk membahas lomba menulis 2012 bersama para Pendekar Tidar. Jadi, ayo ngalor-ngiduran, lalu ketemuilah kiblat. Pengamalan yang analog dengan kutipan ayat di atas. Jadi, jelajahilah bumi, lalu ambillah pelajaran. Ngalor-ngidulanlah!

NB: Ini rencana saya posting hari Senin, tapi qadarullah baru terposting saat saya sudah melaksanakannya.

Pencerahan itu Menggelapkan!

Pencerahan itu Menggelapkan!

“Genius is one percent inspiration, and ninety-nine percents perspiration” Edison, Sang Pencerah

Cukup lama dulu saya merenung mencari tahu apa sih sebenarnya yang dimaksud dengan “pencerahan”? Definisi yang bukan dari kamus, tetapi karena pernah mengalami pencerahan itu sendiri. Sering orang mengalami pencerahan, tapi tak mampu mendefinisikan dengan baik apa yang mereka rasakan. Easy to felt, but hard to defined.

Ternyata, pencerahan hanyalah rasa kagum karena otak menerima informasi baru yang mampu memperluas maupun memperdalam pemahaman. Contoh, ada orang yang ditanya,”Kenapa kamu kerja mati-matian kayak gitu?”. Dia menjawab,”Buat cari uang.” Rekannya kembali bertanya,”Salah kalau kamu kerja buat cari uang. Mending mikir gimana uang bekerja untuk kita!”. Terdiam sejenak, lalu sumringah“Oh, iya ya! Kok ga kepikiran ya aku!”

Momen-momen Read the rest of this entry

Bertanya “Mengapa” Tiga Kali

Bertanya Mengapa Tiga Kali

The question is always “why”. – Kevin Mitnick, a computer security living legend

Saat rapat online tanggal 16 kemarin, ada salah seorang peserta rapat menulis seperti ini,”Banyak masalah gagal terselesaikan bukan karena tidak adanya solusi. Tetapi tidak tepatnya perumusan masalah.”  Pernyataannya mengingatkan saya pada apa yang saya sampaikan ke adik-adik rohis sewaktu mentoring beberapa waktu lalu. Yakni, tentang bertanya “mengapa” sebanyak tiga kali.

Pertanyaan “mengapa” ini sangat berguna untuk mendefinisikan masalah. Dengan bertanya MENGAPA kita makin akurat APA masalah sebenarnya. Pada waktu itu Anwari, salah seorang pengurus Forisma, mengusulkan diadakannya tadarus antara guru agama – pengurus minimal seminggu sekali. Mari kita terapkan teknik 3x mengapa ini.

“Mengapa” pertama – Mengapa diadakan tadarus?

Jawab: Karena Read the rest of this entry

ROCKtober + LOVEmber = MOVEmber

MOVEmber

Cinta adalah gerak jiwa sang pencinta kepada yang dicintainya. Ibnul Qoyyim – A Mover

Rocktober tanpa Lovember, akan melahirkan pejuang-pejuang yang gersang. Para “Achiever” yang hampa. Para ayah workaholic yang berkata,”Ayah tak pernah pulang mencari uang untuk siapa? Untuk kamu, anakku!” Ada kesalahan logika di sini. Ayah ingin anaknya bahagia. Mestinya ia memberi apa yang anaknya butuhkan. Anaknya membutuhkan perhatian. Tetapi mengapa ayah hanya memberi uang tanpa perhatian? Rocktober saja, serupa pohon berbuah segar, tapi tak sedap dipandang mata.

Lovember tanpa Rockstar, melahirkan “sufi salah kaprah” yang hanya menikmati nuansa cinta tuk dirinya sendiri. Enggan berbagi. Atau, melahirkan sosok mellow yang suka disakiti. Bila ia mencintai pasangannya, ia akan berusaha meningkatkan kualitas dirinya. Tidak sekedar mempersembahkan dirinya yang “apa adanya”. Tetapi mempersembahkan “The BEST of themselves”. Bila ibu mencintai anaknya, ia takkan segan bertindak tegas. Ketaktegaannya tuk bertindak tegas, justru membawa keburukan. Lovember saja, serupa pohon indah tapi tak berbuah.

Perpaduan sempurna dari Rocktober dan Lovember akan melahirkan sosok-sosok Movember. Sosok yang mencintai dirinya terlebih dahulu, sebelum orang lain. Karena dengan begitu, ia mampu menjadi sosok yang lebih baik bagi orang tua, anak, suami/istri, maupun Tuhan yang dicintainya. Bayangkanlah bila orang tua kita terus menerus meningkatkan nilai dirinya. Kita akan semakin bersyukur dicintainya, bukan? Ia memegang teguh prinsip, “The more you love yourself, the easier you’ll be loved.” Ia ibarat a high quality product.

Tapi produk saja tak cukup. Perlu Read the rest of this entry

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.